Beberapa teman mempertanyakan tentang tulisan saya di balik fenomena terjadinya Gempa di Padang baru-baru ini. Tak ubahnya seperti tsunami di Aceh dan gempa di Jogya, realitas gempa di padang menjadi suatu perhatian kalayak.
Sekarang saya akan menjelaskan lebih terperinci mengenai tulisan saya sebelumnya itu. Maksud saya adalah mengapa Albert Camus mengatakan baha manusia cenderung memeelukan sebuah tragedy adalah bahwa;
Jika kita mengkaitkannya dengan gempa di padang atau realitas lainnya, baik saya akan mengatakan: berapa jumpah korban gempa di padang? Dalam PNPB jumlah korban di Padang mencapai 535, atau bahkan lebih dari itu.
Baik sekarang saya akan mengatakan bahwa: Jumlah angka kematian di Indonesia tiap tahunya adalah: Dengan peritungan 50.000 orang mati karena bunuh diri, Kematian ibu dan anak ; kematian ibu melahirkan di Indonesia mencapai angka yakni 307 per 100 ribu kelahiran dari rata-rata kelahiran sekitar 3-4 juta setiap tahun. Kematian akibat kecelakaan 33.827, Kematian akibat kanker mencapai 30.000.
Dari semua jumlah totalitas itu apakah perbedaan antara kematian akibat bencana gempa di padang dengan kematian seperti yang saya sebutkan diatas??
Perbedaannya jelas anda akan mengatakan bahwa bahwa kematian di padang karena gempa, jadi jelas beda.
Ya.. saya tidak menyalahkan argumentasi anda, bahwa kematian di padang memang berbeda dengan kematian yang sudah sering terjadi itu. Ya.. perbedaan terletak pada “Tragedi”. Kematian di padang karena sebuah tragedy dan kematian lainnya adalah kematian yang biasa atau sudah biasa terjadi.
Jika demikian adanya maka, benar apa yang dikatakan oleh Camus bahwa manusia memang membutuhkan sebuah tragedi. Kita menangis, mencucurkan air mata karena kematian manusia yang mengalami tragedy gempa di padang, sedang yang lainnya tidak, sebab itu adalah sebuah kematian yang wajar dan biasa terjadi buka??
Lalu yang kedua, sejak terjadinya bencana gempa di belahan bumi selatan Negara ini, manusia cenderung mengumpulkan dana untuk membantu tempat mereka dan membangun kembali rumah, sekolah yang rusak, roboh karena gempa. Manusia mengumpulkan dana uang untuk membantu mendirikan kembali rumah mereka yang roboh itu.
Sekarang pertanyan saya yang kedua apa perbedaannya antara mereka yang kehilangan rumah karena gempa dengan mereka yang tidak punya rumah??
Kalian pasti akan mengatakan, karena mereka kehilangan tempat tinggal karena gempa. Ya.. kalian memang memerlukan sebuah tragedy.
Asal kalian tahu jumlah penduduk Indonesia yang tidak punya tempat tinggal adalah sebanyak 3.233.160 orang diantaranya termasuk : penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap,
seperti tuna wisma, awak kapal, penghuni perahu/rumah apung, pengungsi dan masyarakat terpencil (dalam tempo interaktif).
Lalu pertanyaan saya adalah mengapa kalian hanya menyumbang uang ketika terjadi bencana gempa untuk membangun rumah mereka yang rusak akibat gempa?? Mengapa kalian tidak membangunkan rumah bagi mereka yang tuna wisma???
Jelas jawaban kalian akan mengacu bahwa karena terjadi gempa.. Ya tragedy bukan???
Media begitu gencar menayangkan keadaan mereka yang meninggal, rumah rusak, dengan di selingi musik yang menuntut manusia untuk meneteskan air matanya. Para musisi juga tidak ketinggalan, mereka melakukan bakti amal padahal di hari-hari sebelumnya tidak, para dermawan, para sukarelawan, dan mahasiswa dan aktifis kemanusiaan pun demikian adanya…
Itulah kiranya maksud tulisan saya sebelumnya tentang fenomena di balik gempa padang….
Bencana Gempa di Padang baru-baru ini kembali menyorot media masa dan para relawan serta aktifis kemanusiaan baik di Indonesia sendiri maupun di dunia. Ribuan aktifis berduyun-duyun membantu para korban. Mahasiswa-mahasiswa di kampus-kampus-pun tak luput dari aktifitas menggalang dana demi membantu korban bencana gempa di Padang. Sedangkan media massa sibuk meliput kejadian-kejadian tersebut secara detail. Fenomena seperti ini tak akan asing lagi bagi kita sejak kejadian Tzunami di aceh dan Gempa di Yogyakarta beberapa tahun yang lalu, hingga pada akhirnya fenomena ini menjadi rutinitas bagi relawan dan aktifis kemanusiaan serta awak media massa. Namun, ada satu gejala yang menarik disini. Yakni sebuah fenomena di balik peristiwa atau kejadian yang sering menimpa rakyat Indonesia. Fenomena itu terpatri dalam sastra Albert Camus dalam La Chute. Ya… dalam sastranya tersebut Camus mengatakan bahwa “Manusia memang membutuhkan sebuah tragedi dalam kehidupan mereka”. Setidaknya seperti itulah apa yang diucapkan oleh Albert Camus dalam menyikapi setiap peristiwa yang di hadapai dan di lihat oleh manusia.
Karl Marx lahir di Trier, Jerman Barat, 5 Mei 1818, dari keluarga Yahudi, kelas menengah. Ayahnya seorang advokat, menjadi protestan, dan semua anak, termasuk Marx, dipermandikan dalam gereja protestan. Karl Marx mewarisi dari ayahnya interese untuk Filsafat Jaman Fajar Budi, dan dari tetangganya Baron von Westphalen interese untuk kasustraan. Marx belajar hukum di Bonn dan Berlin, di Berlin ia tertarik kepada Filsafat Hegel. Setelah ia mendapat gelar Doktor dalam Filsafat, kemudian Marx menjadi wartawan di Köln. Setelah itu Marx pergi ke Paris. Di Paris Marx berkenalan dengan tokoh-tokoh Sosialis, diantaranya adalah Friederich Engels, dan dari Engels inilah ia belajar betapa pentingnya peranan factor-faktor ekonomi dalam perkembangan masyarakat, dan saat itulah Marx memulai study teori-teori ekonomi.
