Wong2ateis’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Perubahan dalam blog

Berhubung dengan ketidak beraturannya isi blog ini maka dengan ini saya akan memperbaiki isi dari blog ini. Terimakasih dan Mohon maaf!!

Mei 6, 2009 Ditulis oleh wong2ateis | Tidak terkategori | | 1 Komentar

Tuhan serta Kesalahan-Kesalahan yang Diperbuatnya

Tuhan, seperti yang dipahami oleh agama-agama Ibrahim seperti Yahudi, Kristen, dan Islam, memahami Tuhan sebagai Yang Maha Pencipta, Pengasih, Penyayang, Pelindung, serta Maha Segalanya atau Yang Maha Tak Terbatas itu ternyata pada senyatanya telah meninggalkan banyak pertanyaan yang di tujukan kepada-Nya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan sebuah refleksi terhadap ke-eksistensian ke-Maha-annya tersebut.

Banyaknya kejadian di bumi yang terjawab bukan berdasarkan pada eksistensi-Nya merupakan jawaban yang tidak dapat memuaskan sebagian kalangan manusia rasional dan para pemikir bebas di dunia ini.

Sebuah jawaban yang justru bertolak belakang dan bahkan merupakan rasionalisasi Tuhan dan para penerjemah-Nya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang tampak di depan mata manusia. Diantaranya adalah pertanyaan-pertanyaan sekitar terjadinya bencana alam, peperangan dengan mengatas namakan Tuhan, pembunuhan , pemerkosaan, dan lainnya, hanya di jawab oleh Tuhan dengan rasionalisasi atas ketidak mampuannya dalam melaksanakan tugas Dia sebagai Tuhan. Dipihak lain, para penerjemahnya turut andil dalam membela Tuhan mereka, meski mereka sendiri mengetahui atas kelemahan-kelemahan Tuhan mereka, hanya karena mereka tergiur oleh iming-iming Tuhan, yakni surga, dan takut dengan gertakan dan ancaman Tuhan, yakni neraka.

Tuhan, memang telah salah dalam memperkenalkan dirinya kepada umatnya. Ini adalah kesalahan yang dilakukan oleh Tuhan, karena dia memperkenalkan diri-Nya dengan rasa penuh kesombongan dan keangkuhannya. Dimama Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dengan berkata “Aku akan selalu meyertai-mu dan akan selalu melindungi-mu dari bencana dan kejahatan, maka dari itu berdoalah dan meminta pertolongan kepada-Ku serta bersejudlah kepada-Ku”

Dialog Tuhan tersebut, jelas menunjukkan kesombongan Tuhan, serta akibat yang harus Ia terima atas kesombongan diri-Nya tersebut. Ia, Tuhan, justru malah akan tereduksir di dalam hati dan kepala manusia yang mampu menangkap semua fenomena ini dengan inteligensi dan emosional inteligensi manusia.

Oleh karenanya, masihkah Engkau, Tuhan, masih memiliki muka di hadapan manusia –umat-Mu- ini? Jika ya, maka Engkau memang Tuhan yang selayaknya untuk tidak kami sembah!

Februari 6, 2009 Ditulis oleh wong2ateis | Tidak terkategori | | 21 Komentar

Penderitaan ; Antara Masokis dengan Psikopatis

Penderitaan, itulah sumber utama keluhan manusia. Tapi apa yang akan terjadi jika diantara kita sebagai manusia justru merasakan kebahagiaan di tengah penderitaan kita?

Jawabannya adalah kita telah mengalami sebuah gejala kejiwaan yang secara psikologis dikatakan sebagai masokis. Masokisme dalam DSM IV dikelompokkan sebagai penyakit jiwa dimana penderitanya akan merasakan bahagia atau senang dalam melakukan hubungan seks atau libido atau libido dia akan meningkat bila pasangan dia terlebih dahulu menyakiti dia secara fisik atau psikis.

Lalu apa hubungannya dengan tulisan saya ini??

Pertama tentunya saya akan menjabarkan betapa masyarakat kita –Indonesia- saat ini sedang mengalami suatu gejala ini, yakni masokisme.

Apa buktinya?

Pembuktian, hemm… ya.. saya akan membuktikan dengan memberikan beberapa kasus nyata dalam masyarakat kita saat ini. Seperti yang kita ketahui, Negara ini telah mengalami krisis moneter lebih dari dasawarsa ini. Sejak 1997 rakyat mengalami banyak penderitaan, tingginya nilai tukar rupiah yang disusul dengan meningkatnya hrga pangan, sandang, dan papan. Ditambah dengan meningkatnya harga minyak yang akan semakin menjerat rakyat dalam memenuhi kebutuhan bahan pokok mereka. Mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, seolah menggambarkan betapa rakyat atau masyarakat Indonesia ini menderita.

Namun benarkah demikian adanya?

Tidak, para alim ulama di tambah dengan ulasan pidato para pemimpin Negara ini dengan mengatakan agar rakyat mampu bersabar, ditambah ulasan atau himbauan, atau ilusi para pemuka agama atau ulama bahwa Tuhan mencintai umatnya yang bersabar, seolah menghapuskan semua luka mereka.

Namun, benarkah dengan demikian berarti kita dalam kondisi psikis yang lebih baik?

Jawabannya adalah tidak! Justru kebalikannya! Rakyat Indonesia dalam kondisi penyakit kejiwaan yang di sebut dengan masokisme, Ya kita semua dalam kondisi seperti itu.

Lalu adakah pengaruhnya terhadap kehidupan keseharian mereka?

Jelas ada, pengaruh dari keadaan ini bila terus dibiarkan akan menjadikan mereka kaum psikopat. Suatu kondisi kejiwaan manusia diman mereka merasa puas ketika melihat orang lain menderita.

Kenapa demikian?

Saya hanya dapat memberikan contoh praktisnya saja, yakni bahwa sebuah pertanyaan yang banyak muncul di benak bangsa, pengamat social, hukum, wartawan, dll, yakni kenapa di Indonesia marak terjadi kerusuhan?

Benarkah hanya factor ekonomi?

Ya benar, namun lebih tepatnya karena kondisi seperti yang saya jelaskan diatas.

Secara psikoanalisa mungkin ini dikarenakan terjadinya sublimasi dari kesenangan terhadap penderitaan yang kita hadapi menjadi kesenangan melihat orang lain menderita. Oleh sebab itulah, banyak orag yang merasa senang bila memukuli seorang copet, seraya berkata mampus..loe.. dasar copet….

Lalu bagai mana dengan jalan keluarnya?

Jalan keluar dari itu semua adalah;
1. Rakyat harus sadar bahwa dirinya dalam keadaan menderita.
2. Rakyat harus sadar kalau penderitaan itu menyakitkat.
3. Rakyat harus sadar akibat pengeruh negative dari penderitaan tersebut, bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi orang lain.
4. Rakyat harus mau merobah keadaan dirinya.

Lalu adakah jaminan bila dengan semua ini terlaksana maka manusia akan berubah? Ya.. silakan kita coba.!!

Februari 6, 2009 Ditulis oleh wong2ateis | Tidak terkategori | | 1 Komentar

Ketika AGAMA dan SOSIALISME, MARXISME, KOMUNISME, Sama-Sama Candu

Kenapa agama dikatakan candu? Karena oleh Marx sebagai pelarian diri. Pelarian manusia yang lemah terhadap nasib yang menimpanya. Manusia yang lemah pasti akan melakukan tersebut, yakni dengan mengembalikan semua yang menimpa diri mereka kepada Tuhan, dengan pikiran bahwa ini adalah takdir atau cobaan dari Tuhan, serta akan memperoleh kehidupan yang layak setelah meninggal yakni syurga bila mereka menjalankannya dengan sabar diri atau bertawakal kepada Tuhan.

Fenomena tersebut, maka bagi Marxisme agama sebagai candu bagi manusia yang lemah dan tertindas, maka agar manusia tidak ke-canduan, yakni hidup dalam dunia yang tidak nyata maka manusia harus bangkit dan sadaakan apa yang menimpa mereka. Manusia harus sadar, bahwa selama ini agama hanyalah sebuah sarana untuk mendukung kejayaan kaum kapitalis dalam menimbun harta-Nya dengan memanfaatkan mereka, kaum proleter, yakni para budak, dan buruh.

Tetapi bagi saya merupakan paradigma dimana ssuatu yang tertuju atau di inginkan sebelum terwujud2. hal ini sama dengan sosialisme komunisme, bila apa yang dicita-citakan oleh mereka sampai atau hingga saat ini belum terwujud. Maka komunisme sosialisme marxisme hanya akan menjadi candu bagi para pengikutnya.

Februari 6, 2009 Ditulis oleh wong2ateis | Tidak terkategori | | 1 Komentar

The Genius of Charles Darwin

Last Updated: 12:01am BST 02/08/2008

Richard Dawkins tells Andrew Pettie how Charles Darwin went from a man bound for the clergy to the writer of one of the world’s most controversial books – On the Origin of Species

It is almost 150 years since Charles Darwin published On the Origin of Species, a treatise which, according to Professor Richard Dawkins, contained ‘the most powerful idea ever to occur to a human mind: the idea of evolution by natural selection’. It would probably startle Darwin to know that, despite overwhelming scientific evidence in his theory’s favour, only four out of 10 Britons currently believe it to be true. Dawkins, a fearless crusader for rationalism and the author of The God Delusion and The Selfish Gene, sounds baffled by this statistic.

‘It’s bewildering,’ he says, ‘and an indictment of our education system. Most children are taught evolution at the age of 15. It should be taught much earlier than that because it’s so incredibly important and interesting: it’s the explanation of why we all exist.’

n the opening episode of Dawkins’s three-part documentary series, The Genius of Charles Darwin, he asks a group of schoolchildren what they think of the theory of evolution. Many insist, despite Dawkins’s patient explanation of the scientific evidence to the contrary, that the world was created in the manner described by the Bible or the Qur’an. ‘I found it rather depressing,’ says Dawkins, ‘when the children said, “It says this in my holy book and so this is what I believe.” I asked them why they believed a holy book rather than the evidence and they said it was the way they’d been brought up, as though that in itself was a self-evidently knockdown argument.’

Although Dawkins doesn’t think that believing in evolution precludes people from believing in God, he says that ‘a full understanding of the world of evolution does tend to push against religion.’

This was certainly the case in Darwin’s own life. Before his life-changing voyage working as a naturalist aboard HMS Beagle, Darwin was destined for a career in the clergy. What he saw during the Beagle’s five-year journey round the globe to chart the coastline of South America, which began in 1831, forced Darwin to question biblical creationism and, in turn, his own faith.

‘Darwin didn’t have a sudden moment when he lost his faith,’ says Dawkins, ‘it gradually dropped away, partly because of personal tragedies in his life which made him feel that there wasn’t a benevolent god. But there was also an awareness that natural selection was an extremely cruel and ruthless process. He once said that he found it hard to conceive how a beneficent creator could have knowingly created a species of wasp with the habit of laying its eggs inside the living bodies of caterpillars, which then hatch out and eat the caterpillar while it’s still alive.’

Thankfully, mankind is now largely protected from the most callous extremes of natural selection. ‘We live a rather featherbedded life,’ says Dawkins. ‘We have clothes, we have central heating, we have a roof over our heads. Most of our ancient ancestors’ contemporaries died young, without reproducing. So it’s true that the cutting edge of natural selection has largely been withdrawn. But I would hate to say that this was a bad thing; I’m all for doctors and medical science and so on.’

In the second episode, Dawkins examines some infamous attempts to use Darwin’s theory of natural selection to justify social engineering among humans. ‘There was a time in the first part of the 20th century when it was fashionable for certain intellectuals to bemoan the deterioration of the human race but that all came to an end with Hitler, because people saw what ghastly results can follow from social Darwinism.’

Ever since he first published On the Origin of Species, Darwin’s theories have sparked great controversy and, at times, conflict. However the man himself couldn’t have been less bullish about his discoveries. ‘Darwin was an immensely gentle man, as well as a gentleman,’ says Dawkins. ‘He felt wounded by adverse criticism of his work but was not at all combative. He left the fighting for his theory to others.’

Darwin could barely have found a more committed and persuasive advocate of his work than Dawkins. As well his polemical documentary series, Dawkins is currently hard at work on a new book, to be published next year, which outlines the hard evidence for Darwin’s theory.

‘I’ve written eight books on evolution,’ he says, ‘but none of them has laid out the positive evidence for it. I begin with the domestication of animals, as Darwin did, because it’s a pretty powerful demonstration of what natural selection can achieve. When you consider that a Pekinese, a poodle and a Yorkshire terrier are all modified wolves, and that those modifications have taken place in a matter of centuries, think what can be achieved in a million years, 10 million years or 100 million years.’

· The Genius of Charles Darwin is on Channel 4 on Monday at 8.00pm

http://www.telegraph.co.uk/arts/main.jhtml?xml=/arts/2008/08/02/nosplit/bvtvsunfeat02.xml

September 5, 2008 Ditulis oleh wong2ateis | Dawkins, Tokoh-tokoh, darwin | | 17 Komentar

Dawkins explains biggest idea ever on The Genius of Charles Darwin

From

August 2, 2008

Richard Dawkins’s new series tackles a burning issue for us all – but it doesn’t involve Lisa Scott-Lee of Steps

“This series is about the most powerful idea that has ever occurred to a man,” Richard Dawkins says, standing on a windswept promontory.

Of course, I feel like I have, actually, already watched a programme based on the most powerful idea that has ever occurred to man. It was MTV1’s Totally Scott-Lee in which Lisa Scott-Lee, formerly of Steps, promised – PROMISED – to leave showbusiness for ever if her next single didn’t go Top Ten. My friends, that single – released after ten weeks of dancing, dieting, crying, and the spray-tanning of her actual soul – went in at a mere No13. It was a true moment in history.

But Dawkins is not up on a windswept bluff to talk about Totally Scott-Lee. Indeed in many ways, he is eager to discuss something that is the polar opposite of Totally Scott-Lee – evolution.

“Over the next six weeks, I’m going to show you how evolution offers a far richer and more spectacular vision of life than any religion,” Dawkins intones, as the sea rolls in behind him, portentously.

Related Links

For those who believe that television should, ideally, consist of 80 per cent eminent academics delivering stirring treatises on their given subjects, and 20 per cent re-runs of classic Daffy Duck, this is a cheering sight. Six weeks of Dawko! Getting into the boxing ring with God, and using Darwin as some manner of clawhammer! Get in there, son!

The first episode of The Genius of Charles Darwin is, ostensibly, Dawkins easing into things slowly. It begins as a fairly straightforward, vanilla bio-doc on Darwin: Dawkins is off around Darwin’s old stomping grounds, checking out his stuffed pigeon collection, reading through his notebooks, quoting Darwin’s self-assessment that he was “a machine for grinding out theories from an assemblage of facts”.

Darwin had originally intended to become an Anglican minister. Dawkins is deft at sketching the unique socio-political dilemma of someone who realises his destiny is, ultimately, to be The Man Who Killed God. In a cool piece of understatement, Darwin wrote that he understood how “upsetting” his theory would be to many. And, indeed, still is. We all know that “those Americans” are a bunch of Bible-waving, feral creationists – only 14 per cent believe in a fully Godless evolutionary theory. Ten minutes in, however, Dawkins drops in the fact that four in ten Britons believe in creationism, too. So much for our superior, educated, European ways.

I suppose it’s such statistics that inform not only the second, more impassioned half of the show, but also the most divisive aspect of Dawkins himself. My atheist friends and I regularly come to blows over Dawkins. “When he gets angry and polemical, he’s just as intransigent as the religions he has a go at,” the “Calm Down Dawko” contingent insist.

But me – I like him for that. I think that’s his best bit. I love the irony that one of our foremost evolutionary rationalists is, underneath it all, a pop-eyed hellfire preacherman, I think we have a need in our collective psyche for someone railing at us from a pulpit on our weakness and iniquity, and Dawkins fills that role perfectly. I love it when he turns into Nick Cave, and starts his testifying. Twenty minutes into The Genius of … and Dawkins, ostensibly under the guise of chronicling Darwin’s pivotal trip to Kenya, is describing the natural world, Dawkins-style.

“It’s hard to comprehend just how much suffering there is in the natural world,” Dawkins says, at the dead of night, eyes glowing night-vision green. “In the minutes while I say these words, millions of animals are running in fear of their lives, whimpering with fear. They are feeling teeth sink into their throats. They are injured. Starving. Or feeling parasites, rasping away from within. There is no central authority. There is no safety net. Animal life is about suffering, survival and death.”

He’s like Amos Starkadder, MA, D.Phil, FRS, FRSL. I love it.

Next week – further amplifying Dawkins’s paradoxically biblical mien – The Genius of … examines the post-Selfish Gene world. Over images of yuppies, genocide and reality TV, Dawkins explains how his own theories have been used “to justify terrible atrocities”.

I’m hoping that he concludes that show with: “The end of all flesh is come before me. For the Earth is filled with violence through them; and, behold – I will destroy them,” then blows up the Thames Barrier.

The Genius of Charles Darwin, Mon, C4, 8pm

Copy right by :

http://entertainment.timesonline.co.uk/tol/arts_and_entertainment/tv_and_radio/article4423896.ece

September 5, 2008 Ditulis oleh wong2ateis | Dawkins, Evolusi, Tokoh-tokoh, darwin | | No Comments Yet

Perang Salib dan Pengaruhnya pada Hubungan Islam-Kristen di Indonesia

Nopember 1, 2006

Diarsipkan di bawah: Wacana — noviz @ 1:34 pm

Ditulis oleh Efron Dwi Poyo
Wacana Pembuka
Orang Kristen di Indonesia, pada umumnya, memandang orang Islam dengan tafsiran
sempit tentang Ismael dalam Kej 16:12. Di sini orang Islam diperikan sebagai
orang yang lakunya seperti keledai liar dan tangannya melawan setiap orang.
Perusakan dan pembakaran gedung-gedung gereja semakin memperkuat pandangan ini
terhadap orang Islam bahwa ayat tersebut adalah kutukan dan bukan janji berkat
[1]. Baca selebihnya »

Agustus 12, 2008 Ditulis oleh wong2ateis | Tidak terkategori | | 5 Komentar

Persaksian Saya (Ateis)

BAGIAN I (Awal Mula)

Dalam setiap kehidupan, banyak sekali akan kita temui tentang kebenaran, sebuah kebenaran yang mutlak dan tidak dapat di tolak.

Ketika saya kecil, saya tentunya telah berbeda dengan teman – teman atau anak seusia saya ( 5 – 8 ) tahunan. Sejak usia itu saya tidaklah menganggap Tuhan adalah sebuah person yang wajib di hormati dan ditakuti. Sejak seusia itu memang sepertinya saya sudah menjadi seorang yang non-teis. Bagi anak seusia itu, (seperti teman-teman saya) yang selalu berdoa untuk mendapatkan apa yang mereka impikan, namun saya tidak, entah mengapa karena bagi saya itu tidaklah begitu penting. Sehingga bila bagi teman-teman dan saudara-saudara saya belajar ngaji (baca al-quran), tetapi saya tidak. Entah mengapa waktu itu saya merasa tidaklah penting mempelajarinya, namun saya tetap belajar sholat. Baca selebihnya »

Agustus 5, 2008 Ditulis oleh wong2ateis | Tidak terkategori | | 33 Komentar

Peraih Nobel Siap Jelaskan Sisi Fisika Debus

KOMPAS, Minggu, 3 Agustus 2008 | 20:38 WIB

DENPASAR,MINGGU – Seni debus yang terkenal di Banten dan juga berkembang di sejumlah daerah lainnya di Indonesia, yang dianggap sebagai sihir, akan dijelaskan dari sisi ilmu fisika oleh peraih hadiah Nobel. Penjelasan disampaikan pada pertemuan siswa, guru dengan kalangan ilmuwan serta lima peraih Nobel dalam kegiatan bertajuk The Asian Science Camp (ASC) 2008 yang berlangsung di Sanur, Bali, 3-9 Agustus 2008.

Hal itu disampaikan Prof Yohanes Surya Ph.D, ketua panitia kegiatan tersebut yang juga merupakan pendiri Surya Institute, yayasan yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan ASC 2008, seperti dikutip Antara, Minggu ( 3/8 ). Baca selebihnya »

Agustus 5, 2008 Ditulis oleh wong2ateis | Tidak terkategori | | 2 Komentar

Genetika dan Kejahatan

Saya terkejut mendengar seseorang bekata,”Kejahatan sepertinya adalah bisnis keluarga bagi keluarga Murray. Baca selebihnya »

Juli 10, 2008 Ditulis oleh wong2ateis | Psikologi, klinis | | 1 Komentar