BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam sejarah kebudayaan, manusia di kenal sebagai makhluk yang beragama. Bahkan manusia dikenal sudah lama menyembah Tuhan dalam pelbagai bentuk, dan manusia di manapun tertarik untuk memikirkan Tuhan dari pelbagai sudut. Di India, agama Hindu yang menjadi agama tertua leluhur mereka merupakan agama yang menyembah banyak dewa dan dewi (Armstrong, 2007). Agama Budha lahir dari pemikiran seorang putra mahkota bernama Siddharta yang lahir pada tahun 623 SM. Pangeran Siddharta adalah putra dari raja dari sebuah kerajaan kecil di kaki pengunungan Himalaya, sekarang perbatasan Nepal-India (Capra, 2006 dan Mulyono 2008). Di Eropa realitas Tuhan dan alam semesta muncul dalam pemikiran masyarakat yang kemudian menjadi dasar untuk mencari pengetahuan dan dikenal dengan sebutan ’philosophia’ yang berarti cinta akan pengetahuan (Hatta, 1986). Sepanjang perkembangan agama dan ketuhanan, agama Abrahamik yakni Yahudi, Kristen, dan Islam menjadi agama yang mendominasi di dunia. Kekhasan dalam agama ini adalah mereka hanya memiliki satu Tuhan yakni Allah (Armstrong, 2007).

Masalah Ketuhanan sejak dulu kala memang merupakan sesuatu yang sangat sakral untuk dibicarakan. Di tengah maraknya pembicaraan dan pemujaan terhadap Tuhan, namun tetap saja ada beberapa problematika religius yang dialami oleh manusia. Salah satunya adalah seperti legenda klasik pada filsuf Epicurus pada tahun 341-270 SM yang mempertanyakan kembali eksistensi Ketuhanan.

“…Atau Tuhan mau menghapuskan keburukan, tetapi tidak mampu; atau sebenarnya ia mampu, tetapi tidak mau; atau ia tidak mampu dan tidak mau. Jikalau ia mau, tetapi tidak mampu, ia lemah…. Jikalau ia mampu, tetapi tidak mau, dia jahat…. Tetapi, jikalau Tuhan mampu dan mau menghapuskan kejahatan, … lantas bagaimana kejahatan ada di dunia?” (dalam Lee Strobel, The Case for Faith, Zondervan, 2000:25. bdk. Teodice. 2006:230, dalam Kleden, 2006).

Puncak dari problematika religius yang dihadapi manusia, yakni sejak abad ke-XVI. Sejak Revolusi Industri dan ditemukannya teleskop oleh Galileo Galilei telah membuktikan bahwa teori Copernican benar. Teori Copernican yang dikenal dengan Heliosentris menyatakan bahwa matahari sebagai pusat alam semesta (Besari, 2008 dan Lippincolt, 1997). Teori Heliosentris ini meruntuhkan teori Geosentris Aristoteles yang menyatakan bahwa bumi sebagai pusat alam semesta. Sejak penemuan Galileo tersebut, kepercayaan masyarakat Eropa terhadap Gereja mulai berkurang. Akhirnya, pada abad ke-XIX problematika religius manusia tersebut tertorehkan dalam sebuah wacana Filsafat yang kemudian di kenal sebagai ateisme.

Feuerbach dalam karyanya ‘Das Wesen des Christentum’ mengatakan bahwa agama hanyalah sebuah proyeksi manusia. Allah, malaekat, surga, dan neraka tidak memiliki kenyataan pada dirinya sendiri, karena merupakan angan-angan manusia tentang hakekatnya sendiri. Oleh sebab itu, Feuerbach mengatakan bahwa manusia hanya dapat mengakhiri keterasingannya dan menjadi diri sendiri apa bila ia meniadakan agama. Manusia harus menolak kepercayaan terhadap Allah yang Maha kuat, Maha baik, Maha adil, Maha tahu agar manusia menjadi kuat, baik, adil, dan tahu (Magnis-Suseno, 2006).

Karl Marx seorang tokoh sosialis, dengan mendukung pernyataan Feuerbach tersebut juga memberikan landasan utama tentang konsep alienasi Feuerbach, yakni, bahwa sanya manusia melarikan diri ke hayalan dari pada melanjutkan diri dalam kehidupan nyata, karena dalam kehidupan nyata struktur kehidupan dalam masyarakat tidak mengijinkan manusia untuk mewujudkan hakekatnya. Maka dari itu manusia melarikan diri ke dunia khayalan, karena dunia nyata menindasnya. Berdasarkan uraian tersebut maka Marx menyatakan bahwa agama adalah candu rakyat (Magnis-Suseno, 2006).

Sedangkan Nietzsche dalam ’Die FrÖhliche Wissenschaft’, memaklumkan bahwa Tuhan sudah mati, Tuhan sudah di bunuh, dan manusialah yang telah membunuh Tuhan, dan secara beramai-ramai sudah di kuburkan (Sunardi, 1996).

Sementara itu Freud dalam ‘The Future of an Illusion’, dengan yakin menganggap kepercayaan kepada Tuhan sebagai ilusi yang harus di ditinggalkan manusia (Armstrong, 2007). Menurut Freud agama merupakan suatu ilusi yang berasal dari semacam infantilisme. Kepercayaan religius merupakan suatu penghiburan, suatu kompensasi untuk keadaan manusia yang terlalu berat dan bengis. Paham Allah merupakan penciptaan oleh manusia menurut model ayah sejakmasa kenak-kanak, dimana ayah sebagai figur pelindung sekaligus sebagai yang ditakuti (Berten, 1987).

Di abad ke-XXI wacana ateisme semakin menunjukkan eksistensinya di Dunia. Sejak ahli sains Richard Dawkins, Filsafat Cristoper Hitchans, dan kritikus Sam Harris, yang dalam karya-karya mereka, sebagian besar berupa kritik terhadap konsepsi Ketuhanan dan peranan agama-agama saat ini. Christoper Hitchens, misalnya, dalam ‘God is not Great’ mempertanyakan eksistensi Tuhan lewat kejadian 9/11, katrina, dan tsunami, yang melalui teodice tidak bisa dijawab. Bagi Hitchens tidak ada lagi dasar untuk percaya pada Tuhan. Sementara itu Sam Harris, dalam ‘Letter to a Christian Nation’, yang menyatakan bahwa semakin kau cari ke dalam agama, intoleransi yang kau temukan. Sementara Richard Dawkins dalam ‘The Prove of Existence of God’, berpendapat bahwa semakin diperiksa manusia dengan seluruh proses evolusinya, ketahuanlah bahwa Allah itu tidak faktor, tidak menjadi faktor penentu manusia sampai begini. Jadi tokoh-tokoh ateisme abad ke-XXI  ingin menyatakan bahwa Tuhan dan agama, adalah intoleransi dan irrasionalitas (Mohamad, 2007).

Populasi kaum ateis, agnostik, nonreligion, dan sekuler menurut data statistik dunia yang di teliti oleh Michael Pain hingga tahun 2002 berjumlah sekitar 850 milyar jiwa, atau sekitar 14,2 % populasi penduduk dunia. Di Amerika sendiri, hingga tahun 2001 populasi ateis mencapai 902.000 jiwa, atau sekitar 0,4 % dari seluruh populasi penduduk Amerika (http://atheistempire.com/reference/stats/).

Sementara itu di Indonesia, populasi kaum ateis tidaklah di ketahui secara pasti berapa juumlahnya. Hal ini karena keberadaan kaum ateis di Indonesia tidaklah diakui oleh Negara. Hal ini karena Indonesia adalah Negara yang berdasarkan pada Ketuhanan yang Maha Esa. Sehingga, ateisme baik sebagai konsep filosofis maupun penyangkalan adanya Tuhan dalam praktis kehidupan tidak mendapat tempat di Negara ini. Namun demikian, meski atas landasan diatas tersebut, tidak menutup kemungkinan pula adanya pribadi-pribadi yang ateis dalam masyarakat Indonesia. Seperti yang di ungkapkan oleh Alex Zulkarnaen dalam sebuah wawancara dengan peneliti berikut;

”…musibah gelombang tzunami tanggal 26 Desember 2004, yang melanda NAD dan sebagian negara asia lainnya. Respon masyarakat atas musibah ini beragam, tapi semuanya baik langsung taupun tidak langsung, menunjukan sosok misterius, yang ada dibelakang layar, tragedi ini yaitu Tuhan…”

“…semua yang terjadi dibumi ini atas kehendak Tuhan. Tuhan adalah sebab dari segala masalah. Maka dari teori ini tidak bisa diterima Tuhan. Jadi ada bencana itu dari Tuhan…”

“…Secara rasioanal itu konsep salah. Tidak ada Tuhan, konsepnya sudah rancu…”.

B. Rumusan Masalah

Ateisme merupakan penolakan terhadap konsepsi ketuhanan yang sedang berlaku pada suatu saat (Armstrong, 2007). Pada mulanya, term ateis memang ditujukan kepada orang Yahudi dan Kristen karena telah mengingkari keyakinan kaum pagan tentang yang Ilahi, meskipun mereka beriman kepada suatu Tuhan. Baru setelah abad ke-XIX term ateis ditujukan kepada mereka yang secara khusus mengecam konsepsi ketuhanan yang tengah di anut di Barat.

Di Indonesia sendiri, fenomena ateisme tampaknya jauh dari pembicaraan masyarakat Indonesia sendiri. Masyarakat tampaknya malah terkesan masih kental dalam urusan keagamaan dan ketuhanan. Wacana agama dan Tuhan tetap menjadi topik yang menarik dan tidak bosan-bosannya untuk dibicarakan. Tidak ada hari dimana media massa maupun media elektronik yang tidak membawa berita yang berkaitan dengan agama dan Tuhan. Hal ini dikarenakan dalam paradigma masyarakat Indonesia keberadaan kaum ateis tidak mungkin ada dalam Negara yang berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahkan, kalaupun ada Pemerintah pasti melarang keberadaan kaum ini. Hal ini karena dogtrin Negara yang telah mensinonimkan ateisme dengan komunisme di masa lalu. Sehingga, jelas bahwa keberadaan kaum ini-pun sangatlah dilarang oleh Negara Indonesia. Sementara itu di lain pihak para ahli agama memberi label kaum ateis sebagai orang bebal, bodoh, bid’ah, zindiq atau kafir.

Pembicaraan ateisme akhir-akhir ini terlihat lebih marak di situs-situs internet dalam bentuk blog-blog baik berupa artikel, diskusi, maupun tanya-jawab. Banyak sekali tanggapan dari pandangan kaum teis terhadap kaum ateis, meski senyatanya mereka tidak mengenali kaum ateis tersebut baik secara personal, historis, hingga ideologi kaum ateis. Sedangkan dalam literatur harian post kota, tidak lain hanyalah sebuah profokatif belaka dari eksistensi kaum ateis tersebut yang kian marak di salah satu jaringan komunikasi internet.

Eksistensi kaum ateis di Indonesia dalam realitasnya selain mendapatkan hujatan dan penolakan namun juga pada dasarnya juga mendapatkan empati dan dukungan khususnya dari masyarakat sekuler dan liberal dalam keberagamaan. Bagi mereka keberadaan kaum ini seharusnya mendapatkan tempat yang layak oleh Pemerintah. Namun, apapun pandangan kedua belah pihak tersebut, peneliti ingin melihat lebih dekat dan apa adanya dalam melihat fenomena keberadaan kaum ateis di Indonesia.

Memang, keberadaan kaum ateis di Indonesia merupakan fenomena yang masih sangat kontroversial. Namun, atas dasar itulah maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian terhadap kaum ateis tersebut dengan melakukan analisa secara kritis terhadap segala realitas yang akan menampakkan dirinya yakni realitas pada fenomena kaum ateis di Indonesia tersebut, dengan rumusan-rumusan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah latarbelakang seseorang hingga memutuskan untuk menjadi ateis?

2. Apasajakah paradigma-paradigma yang ada di balik fenomena ateisme di Indonesia?

3. Apakah perbedaan antara ateisme di Barat dengan di Indonesia?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, dengan berdasarkan pada paradigma pendekatan teori Fenomenologi Hursell dan Heidegger maka peneliti akan melihat fenomena tersebut dengan apa adanya. Sedangkan metode dan pengumpulan data dalam penelitian ini dengan berdasarkan pada metode kualitatif. Metode analisis data dalam penelitian adalah dengan dua pendekatan yakni dengan berdasarkan Miles and Huberman (1984), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas, dan datanya sampai jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verivication. Pendekatan yang kedua adalah analisis data kualitatif Koentjoro, Prof dengan menggunakan prosedur coding. Coding merupakan proses yang digunakan dimana data diurai, diberi nama, dan dikonseptualisasikan sehingga menghasilkan makna dan perspektif baru. Konsep-konsep yang dihasilkan kemudian digunakan untuk merekonstruksikan realitas sosial yang mampu mempresentasikan kenyataan yang diteliti. Proses coding tersebut meliputi; open coding dan axial coding. Dengan proses coding tersebut maka akan di dapatkan hasil penelitian yang kemudian peneliti akan menganalisis fenomena keberadaan kaum ateis di Indonesia tersebut secara kritis dengan berdasarkan teori psikoanalisis dan filsafat dialektis.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan dalam penelitian tersebut maka jelas bahwa, manfaat yang di diharapkan dalam penelitian ini secara teoritis adalah dapat memberikan informasi yang benar-benar mampu memberikan realitas yang sebenarnya dalam fenomena ateisme di Indonesia. Sedangkan secara praktis penelitian ini diharapkan;

1. Bagi masyarakat: dengan mengetahui realitas dalam fenomena ateisme di Indonesia, maka diharapkan akan memberikan pemikiran yang baru dan bersifat empiris sehingga dapat dijadikan telaah/kajian bagi masyarakat di Indonesia dalam memandang keberadaan kaum ateis di Indonesia.

2. Bagi kaum ateis: dengan analisis kritis ini, maka diharapkan akan menjadi telaah dan feedback baik dari peneliti ke kaum ateis, maupun sebaliknya dari kaum ateis terhadap peneliti.

Oleh: addhiet | November 2, 2009

FENOMENA DI BALIK GEMPA (2)

Beberapa teman mempertanyakan tentang tulisan saya di balik fenomena terjadinya Gempa di Padang baru-baru ini. Tak ubahnya seperti tsunami di Aceh dan gempa di Jogya, realitas gempa di padang menjadi suatu perhatian kalayak.

Sekarang saya akan menjelaskan lebih terperinci mengenai tulisan saya sebelumnya itu. Maksud saya adalah mengapa Albert Camus mengatakan baha manusia cenderung memeelukan sebuah tragedy adalah bahwa;

Jika kita mengkaitkannya dengan gempa di padang atau realitas lainnya, baik saya akan mengatakan: berapa jumpah korban gempa di padang? Dalam PNPB jumlah korban di Padang mencapai 535, atau bahkan lebih dari itu.

Baik sekarang saya akan mengatakan bahwa: Jumlah angka kematian di Indonesia tiap tahunya adalah: Dengan peritungan 50.000 orang mati karena bunuh diri, Kematian ibu dan anak ; kematian ibu melahirkan di Indonesia mencapai angka yakni 307 per 100 ribu kelahiran dari rata-rata kelahiran sekitar 3-4 juta setiap tahun. Kematian akibat kecelakaan 33.827, Kematian akibat kanker mencapai 30.000.

Dari semua jumlah totalitas itu apakah perbedaan antara kematian akibat bencana gempa di padang dengan kematian seperti yang saya sebutkan diatas??

Perbedaannya jelas anda akan mengatakan bahwa bahwa kematian di padang karena gempa, jadi jelas beda.

Ya.. saya tidak menyalahkan argumentasi anda, bahwa kematian di padang memang berbeda dengan kematian yang sudah sering terjadi itu. Ya.. perbedaan terletak pada “Tragedi”. Kematian di padang karena sebuah tragedy dan kematian lainnya adalah kematian yang biasa atau sudah biasa terjadi.

Jika demikian adanya maka, benar apa yang dikatakan oleh Camus bahwa manusia memang membutuhkan sebuah tragedi. Kita menangis, mencucurkan air mata karena kematian manusia yang mengalami tragedy gempa di padang, sedang yang lainnya tidak, sebab itu adalah sebuah kematian yang wajar dan biasa terjadi buka??

Lalu yang kedua, sejak terjadinya bencana gempa di belahan bumi selatan Negara ini, manusia cenderung mengumpulkan dana untuk membantu tempat mereka dan membangun kembali rumah, sekolah yang rusak, roboh karena gempa. Manusia mengumpulkan dana uang untuk membantu mendirikan kembali rumah mereka yang roboh itu.

Sekarang pertanyan saya yang kedua apa perbedaannya antara mereka yang kehilangan rumah karena gempa dengan mereka yang tidak punya rumah??

Kalian pasti akan mengatakan, karena mereka kehilangan tempat tinggal karena gempa. Ya.. kalian memang memerlukan sebuah tragedy.

Asal kalian tahu jumlah penduduk Indonesia yang tidak punya tempat tinggal adalah sebanyak 3.233.160 orang diantaranya termasuk : penduduk yang tidak bertempat tinggal tetap,
seperti tuna wisma, awak kapal, penghuni perahu/rumah apung, pengungsi dan masyarakat terpencil (dalam tempo interaktif).

Lalu pertanyaan saya adalah mengapa kalian hanya menyumbang uang ketika terjadi bencana gempa untuk membangun rumah mereka yang rusak akibat gempa?? Mengapa kalian tidak membangunkan rumah bagi mereka yang tuna wisma???

Jelas jawaban kalian akan mengacu bahwa karena terjadi gempa.. Ya tragedy bukan???

Media begitu gencar menayangkan keadaan mereka yang meninggal, rumah rusak, dengan di selingi musik yang menuntut manusia untuk meneteskan air matanya. Para musisi juga tidak ketinggalan, mereka melakukan bakti amal padahal di hari-hari sebelumnya tidak, para dermawan, para sukarelawan, dan mahasiswa dan aktifis kemanusiaan pun demikian adanya…

Itulah kiranya maksud tulisan saya sebelumnya tentang fenomena di balik gempa padang….

Ini adalah jawaban atas setiap pertanyaan dan anggapan; bahkan pemikiran baik itu kaum teis maupun kaum sekuler hingga ateis, yakni memandang bahwa ada satu kepercayaan atau yang jauh dari yang namanya kekerasan. Kepercayaan atau Agama tersebut adalah Agama Budha. Agama Budha adalah sebuah agama yang mengedepankan adanya toleransi. Bahkan dalam agama Budha wacana Ketuhanan tidak dijadikan sebagai salah satu yang terpenting, melainkan  manusialah yang lebih penting untuk dibicarakan.

Namun demikian, benarkah pemikiran seperti itu bisa di benarkan?? Bahkan lebih dari itu kelayakan adanya agama seperti budha di dunia haruskah tetap di terima eksistensinya di dunia?? Bagi saya (secara pribadi) TIDAK!!! Berikut adalah salah satu dari statement saya tersebut:

Dalam sejarahnya, Agama Budha lahir dari pemikiran seorang putra mahkota bernama Siddharta yang lahir pada tahun 623 SM. Pangeran Siddharta adalah putra dari raja dari sebuah kerajaan kecil di kaki pengunungan Himalaya, sekarang perbatasan Nepal-India. Awal pemikiran religius Pangeran dimulai ketika dia melihat empat unsur diluar istananya yang meliputi orang tua, orang sakit, orang mati, dan petapa suci. Realitas tersebut telah mengguncang hati Pangeran untuk menemukan makna kehidupan, yang pada akhirnya Pangeran memutuskan untuk meninggalkan istana dan memilih untuk bertapa demi menjadi Budha yang berarti ’yang sadar’ atau ’yang tercerahkan’. Dalam pengalamannya inilah yang kemudian di ajarkan kepada pengikutnya bahwa tiap kali ada kelahiran maka pasti akan ada tua, sakit, dan kematian. Sehingga untuk menghentikan semua ini, orang harus menghilangkan ’tanha’ yaitu nafsu yang rendah dan merupakan akar penderitaan manusia baik bagi kehidupan di bumi maupun bagi kelahiran yang berulang-ulang. Budha kemudian memberikan wejangan untuk bertahap menghilangkan ’tanha’, yakni menjalankan speritualitas yang disebut Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Jadi berdasarkan sejarah awal pemikiran dan adanya Agama Budha tersebut apa yang pantas untuk dipertanyakan???

Pertama adalah, bahwa sudah jelas bahwa Siddharta adalah seorang putra mahkota kerajaan. Lalu mengapa Ia meski menyepi dan bertapa dikala Ia melihat semua fenomena itu? Bukankah seharusnya sebagai seorang putra mahota ia justru seharusnya merubah kondisi tersebut? Yakni adanya penderitan seperti adanya sakit; maka selayaknyalah sang pangeran menyampaikan usul kepada ayahanda-nya. Ide seperti pemanggilan tabib-tabib yang lebih banyak untuk keluar istana dan mengobati rakyat?? Jika pangeran melihat orang2 tua, bukankah seharusnya pangeran semakin mengasihi mereka dengan memberikan pelayanan seperti panti jompo atau sebuah lingkungan yang baik buat mereka yang mendukung semua kebutuhan mereka baik secara pikologis dan biologis??

Tetapi sang pangeran tidak melakukan hal tersebut, Ia malah lari dari realitas kerajaan Dia. Dan ketika Ia kembali Ia malah mengajarkan sebuah ilusi kepada rakyatnya. Yakni Ilusi tentang makna yang berada di balik atau belakang penderitaan atau samsara atau yang disebut dengan tanha, dan memberikan wejangan dengan bertapa dan menjalankan delapan jalan kebenaran, seperti berkata benar, berfikir benar, penghidupan, usaha yang benar, dll. Dan itu adalah sebuah pertanyaan kedua yang saya ajukan.

Memang, jika kita menilik buah pemikiran Budha ini adalah benar adanya. Namun, jika kita mau kaji ulang secara kritis ada apa di belakang maksud dari ajaran siddharta. Karena bisa jadi dalam pandangan saya bahwa sang pangeran ingin melindungi istana dari pemberontakan yang dilakukan oleh rakyatnya. Maka oleh sebab itulah maka kerajaan membuat sebuah scenario tentang pencerahan yang oleh anak mereka sang putra mahkota. Dengan  tujuan yang sangat jelas yakni memberikan harapan fana kepada rakyatnya seperti kehidupan yang lebih baik esok setelah kematian, dan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah sebagai akibat perbuatan mereka di kehidupan sebelumnya. Bukankah jika kita mau membuka pikiran kita terhadap realitas yang dihadapkan sang pangeran itu meripakan sebuah alienasi diri rakyatnya. Sang pangeran telah menanamkan sebuah ilusi yang senyatanya seharusnya tidak diterima oleh rakyatnya. Memang, sangat disayangkan sang pangeran hidup di abad tersebut. Seandainya ia lahir di era sekarang, maka serta merta ajaran Ia pasti akan di tolak oleh kita yang berfikiran terbuka dan kritis bukan?? Cermatilah maka kalian akan mengert tulisan saya ini.

Jika kita melangkah pada 2 abad yang lalu yakni tepatnya pada era kehidupan Karl Marx, salah seorang pemikir filsafat adab ke-XIX, maka kita akan lebih dapat menerima apa yang telah dilakukan oleh Marx dalam membebaskan kaum buruh dan tani terhadap penderitaan yang dialami oleh mereka.

Tapi, Marx tidak melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Siddharta. Marx memilih untuk memberontak. Ia memilihat penderitaan sebagai realitas yang sedang dialami secara fakta oleh manusia. Maka tidak ada jalan lain selain merubahnya sekarang juga.

Dalam pandangan Marx sangatlah jelas, bahwa apa yang dilakukan oleh Sang Pangeran tidak lain adalah hanya membawa rakyatnya pada ketidak real-lan kehidupan. Sang Pangeran hanya membawa rakyatnya untuk lari dari penderitaan yang mereka hadapi untuk tunduk kepada samsara dan tanha yang berada di balik ketertundukan oleh ajaran dan diri pribadi dari Sang Pangeran Putra Raja mereka yang harus mereka patuhi.

Dalam pandangan Sang pangeran itu jelas berbeda dengan seorang tokoh revolusioner Jerman dan Prancis; Karl Marx. Marx, justru mendongkrak sendi-sendi alienasi yang terjadi oleh kaum buruh dan tani yang disebut dengan kaum proletar. Bagi Marx, justru kaum buruh dan tani harus bisa mengatasi diri mereka jika mereka ingin merubah keadaan mereka saat ini juga. Apa yang disebut dengan syurga; sebuah kehidupan yang layak dan lebih baik; adalah sebuah kebohongan para pemerintah dan pemilik tanah dan pemilik perusahaan yang di sebut dengan kaum kapitalistik melalui mulut para pendeta. Itu tidak lain dilakukan dengan tujuan agar pemerintah dan kaum kapitalis dapat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dan mengeksplorasi tenaga manusia sebesar-besarnya. Kaum buruh dan tani saat itu tak ubahnya rakyat pada kehidupan Sang Pangeran tersebut. Mereka menjadi robot yang dapat digerakkan oleh seorang pengajar keagamaan dan kebijaksanaan yang merupakan ilusi yang akan membawa manusia pada alienasi diri mereka. Hanya saja dalam masa Karl Marx, para buruh dan tani memberontak dan menginginkan peruahan dalam diri mereka, dengan mengambil alih hak-hak kehidupan mereka yang dikuasai oleh kaum kapitalis. Berbeda dengan rakyat Sang Pangeran yang tetap dalam kondisi teralienasi dengan membiarkan hak-hak mereka dikuasai oleh para penguasa saat itu; yakni Raja dan Kerabat serta para penghuni kerajaan Sang Pangeran.

Lalu yang menarik kenapa agama Budha lebih dapat diterima hingga saat ini?? Jelas bahwa dalam pandangan saya agama Budha mungkin aatau paling tidak akan saya setarakan (dalam arti sifat) dengan agama Para Sufi, dan Kejawen. Memang pada abad milinium ini dunia memang serta-merta lebih dapat menerima kehadiran agama yang bersifat toleran dan reflektif. Edward de Bono yang mengatakan bahwa pada tahun 3000 agama yang mampu bertahan hanyalah agama Budha.

Sepertinya agama yang dapat diterima oleh manusia adalah agama yang dengan santun dapat membawa manusia pada kebohongan dan ketololannya. Ini disebabkan karena adanya suatu normalitas yang di bangun oleh manusia dalam diri mereka untuk dapat beragama dan bertuhan yang secara santun. Yakni sebuah ilusi yang santun akan keberadaan tuhan. Dan kehidupan setelah kematiannya yang lebih baik.

Namun, apakah pada era abad ke XXX realitas tersebut dapat di terima? Bagi saya secara pribadi TIDAK. Agama-agama santun apapun bentuknya tidak dapat di terima dan di perbolehkan pada era tersebut. Oleh karenanya saya menggaungkan pernyataan pribadi saya yakni “Bunuh Sang Pangeran dan Kloning Karl Marx”. Bunuh dan musnahkan ajaran-ajaran Budha, dan representatifkan ajaran Marx tentang alienasi manusia.

Oleh: addhiet | Oktober 9, 2009

Fenomena di Balik Gempa

Rumah Rusak Akibat Gempa di Padang Pariaman 7 Bencana Gempa di Padang baru-baru ini kembali menyorot media masa dan para relawan serta aktifis kemanusiaan baik di Indonesia sendiri maupun di dunia. Ribuan aktifis berduyun-duyun membantu para korban. Mahasiswa-mahasiswa di kampus-kampus-pun tak luput dari aktifitas menggalang dana demi membantu korban bencana gempa di Padang. Sedangkan media massa sibuk meliput kejadian-kejadian tersebut secara detail. Fenomena seperti ini tak akan asing lagi bagi kita sejak kejadian Tzunami di aceh dan Gempa di Yogyakarta beberapa tahun yang lalu, hingga pada akhirnya fenomena ini menjadi rutinitas bagi relawan dan aktifis kemanusiaan serta awak media massa. Namun, ada satu gejala yang menarik disini. Yakni sebuah fenomena di balik peristiwa atau kejadian yang sering menimpa rakyat Indonesia. Fenomena itu terpatri dalam sastra Albert Camus dalam La Chute. Ya… dalam sastranya tersebut Camus mengatakan bahwa “Manusia memang membutuhkan sebuah tragedi dalam kehidupan mereka”. Setidaknya seperti itulah apa yang diucapkan oleh Albert Camus dalam menyikapi setiap peristiwa yang di hadapai dan di lihat oleh manusia.

Bagaimana tidak. Seperti yang telah kita ketahui. Kapanpun setiap peristiwa yang terjadi di Negri ini. Media masa menyajikan berita-berita tersebut dengan di iringi alunan musik melodi yang mengharuskan kita menitikkan air mata dan menyayat jiwa serta berujar ”Ya Allah…” sembari memegang dada dan meneteskan air mata. Bahkan seorang teman saya yang ateispun sempat berujar bahwa ia pun terenyuh oleh pemberitaan tersebut, meski dalam hati saya keterenyuhannya bukan semata-mata murni karena berita tersebut melainkan karena adanya iringan musik sendu yang membawa ketidaksadaran dia akan peristiwa masa lalunya yang kemudian terpatri menjadi satu dengan peristiwa di telivisi tersebut.

Sebuah seremonial yang mengguncangkan hati dan pikiran manusia. Sebuah kisah sedih bah senetron non-fiksi yang di hadirkan oleh setiap telivisi baik pemerintah maupun swasta. Sebuah berita yang menjadi berita yang paling ditunggu-tunggu dan di nantikan oleh kita, seolah kita sedang menantikan kematian orang lain, menantikan bencana yang menerpa orang lain. Bahkan sebuah berita yang akan kita rindukan dan selalu kita rindukan, dan oleh karenanyalah pula alam kembali menyajikannya kembali untuk kita, agar kita dapat kembali menikmatinya.

Di pihak lain para aktifis kemanusiaan di kampus-kampus, menggelar malam tangisan mengenang kejadian yang menimpa saudara mereka (”katanya”). Sebuah malam, dimana dalam setiap kampus-kampus mahasiswa menggelarnya dengan dada membusung, seolah memperlihatkan jati diri yang peduli. Dalam hati mereka pasti akan berujar ”Ah, meski aku tidak dapat menjadi ”Hero”, setidaknya aku masih bisa menjadi ”Sang Peduli”. Dan ketika acara seremoni itu di mulai, mulailah ia sibuk dengan diri dia sendiri. Ya… Ia sibuk dengan usahanya meneteskan air mata. Yang bagi diri dia itu adalah salah satu syarat mutlak agar ia lulus menjadi ”Sang Peduli”, sebab jika tidak maka ia akan merasa malu di hadapan teman-temannya. Lebih-lebih kepada adik-adik angkatannya. Sedangkan bagi mereka yang berhasil meninikkan air mata mereka bernafas lega karena keberhasilan diri mereka dalam melakukan ritual tangisan kematian.

Kemudian para relawan, sedang sibuk dalam membongkar-bongkar tiap-tiap kepingan-kepingan reruntuhan bangunan dan tanah sedang mencari korban-korban yang meninggal. Seperti kawanan anjing kelaparan yang sedang sibuk mencari tulang di antara tumpukan sampah. Seperti itulah para relawan itu, semakin tinggi insting membunuh mereka, semakin giat pula mereka mencari korban yang tertimpa reruntuhan bagunan tersebut. Lalu.. selesai mereka menemukan mayat-mayat, merekapun bersenda gurau, dan melakukan sesi pemotretan, sebagai ”kenang-kenangan” ujar mereka. Mengenang kematian para korban atau kenangan akan tingginya insting membunuh mereka ketika mereka sedang mencari mayat-mayat itu.

Lalu bagi mereka penyumbang dana kemanusiaan, mereka merasa senang sebab Tuhan telah membuka jalan kembali bagi mereka untuk menuju syurga. Merekapun segera mencuci uang mereka dengan darah para korban bencana itu, sebagai salah satu cara wajib yang diajarkan oleh Tuhan mereka dalam Kitab-Kitab bangkai-Nya.

Sedangkan para musisi dan artis sibuk dalam menggelar sebuah perayaan kematian dan tragedi bencana alam dalam sebuah acara bertajuk pagelaran amal, yang tak lain adalah sebuah perayaan atas tragedi tersebut. Mereka berlomba-lomba memakai kostum kematian yang selalu mereka pakai di setiap acara bertajuk pagelaran amal tersebut. Sebuah perayaan kostum kematian yang selalu mereka ikuti dan tidak pernah mereka lewatkan sekalipun. Dalam pagelaran kostum kematian itu, para musisi, mulai menunjukkan keaahlian mereka dalam mengalunkan musik kematian. Musik penggiring pagelaran kostum kematian yang sangat di gemari oleh mereka yang mengikutinya.

Dalam acara-acara gosip juga tak luput dari dentuman berita kematian dan bencana, sebuah acara yang memberitakan dengan menambahkan bingkaian kata-kata dalam bentuk sajak-sajak kematian manusia. Sebuah tatapan yang melihat kematian sebagai salah satu dari penunjang dalam karirnya. Sebuah acara kematian yang banyak di minati oleh para artis-artis dan musisi sebelum mereka merayakan pagelaran kostum kematian tersebut.

Sedangkan para pemuka agama dan pengikutnyapun tak luput dari seremonial ini. Mereka berlomba-lomba berdoa kepada Tuhan mereka. Seolah memperlihatkan bahwa kejadian bencana dan kematian manusia sebagai kontes dalam lomba berdoa bertajuk gempa di Padang. Dan Tuhan-pun menjadi juri dari siapa diantara para kontestan yang akan memenangkan lomba tersebut. Tak urung para pemuka agamapun di malam sebelum kontes tersebut dimulai, mereka sibut dengan tulisan-tulisan serta doa-doa yang akan mereka lombakan untuk esok harinya. Sedangkan istri-istri mereka pun sibuk dengan busana kontes yang akan dia kenakan dan suami mereka kenakan. Tak luput para pengikut merekapun sibuk berlatih untuk menagis, agar dalam perlombaan tersebut guru, ustzat, atau pendeta mereka akan mendapatkan nilai plus ”+” dalam perlombaan itu.

Ya… seperti itulah seperti yang dikatakan oleh Albert Camus. Bahwa kta memang membutuhkan sebuah tragedi. Manusia senyatanya memang membutuhkan sebuah tragedi. Bangsa ini memang membutuhkan sebuah tragedi. Tragedi bencana dan kematian. Yang akan selalu kita nikmati. Seperti serigala yang menikmati daging dan darah domba, seraya mengaung-ngaung di tengah malam, seolah berucap penyesalan akan pembunuhan yang ia lakukan, padahal ia menikmatinya.

Oleh: addhiet | Oktober 8, 2009

ATEISME KARL MARX

karl marxKarl Marx lahir di Trier, Jerman Barat, 5 Mei 1818, dari keluarga Yahudi, kelas menengah. Ayahnya seorang advokat, menjadi protestan, dan semua anak, termasuk Marx, dipermandikan dalam gereja protestan. Karl Marx mewarisi dari ayahnya interese untuk Filsafat Jaman Fajar Budi, dan dari tetangganya Baron von Westphalen interese untuk kasustraan. Marx belajar hukum di Bonn dan Berlin, di Berlin ia tertarik kepada Filsafat Hegel. Setelah ia mendapat gelar Doktor dalam Filsafat, kemudian Marx menjadi wartawan di Köln. Setelah itu Marx pergi ke Paris. Di Paris Marx berkenalan dengan tokoh-tokoh Sosialis, diantaranya adalah Friederich Engels, dan dari Engels inilah ia belajar betapa pentingnya peranan factor-faktor ekonomi dalam perkembangan masyarakat, dan saat itulah Marx memulai study teori-teori ekonomi.

Di Paris Marx, untuk pertama kalinya pula bertemu dengan kaum buruh senyata-nyatanya. Dan dari disini pulalah Marx akhirnya menjadi seorang Sosialis, artinya ia menerima asumsi dasar Sosialisme bahwa sumber segala masalah sosial terletak pada lembaga hak milik pribadi.

Sejak sat itu pula, Marx mulai terlibat dalam macam-macam kegiatan politik di Paris, dan akhirnya ia terpaksa melarikan diri ke Brussel dan kemudian ke London, dan ia meninggal di London pada tahun 1883.

Pemikiran-Pemikiran

Pemikiran-pemikiran ateisme Karl Marx didasarkan atas dua hal yakni sebagai lanjutan dari pemikiran ateistik Feuerbach serta pemikiran sosialisme Marx, oleh karenanyalah dalam ateisme Karl Marx berada dalam kondisi sosial ekonomi kaum proletariat serta  kapitalisme.

  1. Kritik terhadap Agama dan Tuhan “Allah”.

Berbeda dengan Feuerbach, Marx tidak mencurahkan perkataan yang khusus kepada kritik agama. itu disebabkan karena bagi Materialisme Historis, agama hanya akan menyatakan keadaan radikal manusia yang menjadi korban sebuah ekonomi tidak berperikemanusiaan, manusia yang terasing secara sosial. Maka agama akan lenyap begitu saja, segera setelah keadaan itu berakhir.

  1. Alienasi Religius

Marx telah belajar dari Feuerbach bahwa agama merupakan alienasi berdasarkan proyeksi. Hakekat manusia hakekat manusia diberi bentuk dan nama dalam Tuhan “Allah”. Tetapi dengan menciptakan Tuhan “Allah” ini, manusia diasingkan dari dunia kini dan disini. Kalau hakekat manusia diletakkan diluar dirinya sendiri, manusia kehilangan suatu yang sangat penting. Maka proses ini harus di balikkan lagi, supaya manusia dikembalikan kepada dirinya sendiri.

Marx melengkapi teori Feuerbach, dimana Feuerbach hanya memperhatikan “Bagaimana manusia menciptakan Tuhan ‘Allah dan Syurga’. Marx menjelaskan lebih jauh, mengapa ,amanusia melarikan diri dalam suatu mimpi-mimpi agama, sebab dalam pandangan marx, peneritaannya bersumber dari struktur-struktur sosial ekonomis, dan untuk mengatasi kekuatsnnya itulah maka manusia melarikan diri kedalam agama dan Tuhan.

Manusia membutuhkan “semacam obat bius”, candu, dan manusia menemukan itu dalam agama. Tetapi itu bukanlah cara keluar atau semacam terapi yang tepat bagi manusia, karena manusia hanya dapat smbuh hanya kalau ia, mengatasi alienasi sosial-ekonomi yang merupakan sebab alienasi religius.

  1. Agama sebagai Instrumen Penindasan

Marx mengatakan bahwa, sebab manusia menganut suatu agama, karena penindasan dan penderitaan dalam hidup yang mendorong mereka sampai beragama. Penindasan dan penderitaan dalam hidup yang mendorong mereka sampai beragama. Penindasan sebagaimana dipahami oleh Max adalah suatu perilaku eksploratif ekonomistik, dimana manusia hanyalah objek yang bisa dimanfaatkan demi kepentingan sesuatu.

Penindasan dan kemiskinan dalam pandangan Marx memang tidak bisa dipisahkan. Orang jatuh dalam kemiskinan karena ada tindakan-tindakan penindasan pada mereka, dan ini paling nyata dilakukan oleh para tuan tanah dan pemilik modal dalam subuah perusahaan tau yang disebut dengan kaum kapitalis.

Berhadapan dengan struktur-struktur yang menindas dan kemiskinan, orang tidak bisa berbuat lain kecuali pasrah, dan kini bersimpuh di hadapan Tuhan “Allah” yang diciptakannya sendiri.

Agama muncul secara spontanitas dalam pikiran manusia sebagai suatu bentuk disonansi “rengekan golongan masyarakat yang tertindas”. Bahwa agama telah mendukung sifat-sifat pengecut, menyalahkan diri sendiri, merendahkan martabatnya sendiri, pnyerahan diri dan kerendahan diri.

Jadi, disini Marx ingin mengatakan bahwa agama telah dijadikan alat dari kaum kapitalis (dengan dukungan para tokoh agama), dalam melanggengkan penindasan terhadap kaum proletariat (yakni kaum tani dan buruh). Kesimpulan Marx ini karena sepanjang pengetahuan marx agama memang berkolaborasi dengan penguasa ekonomi, dengan mengajarkan agae manusia menerima nasib hidupnya dengan tabah hati, kendati pendritaan sekalipun dialaminya. Jadi, dalam hal ini agama dipandang oleh Marx ikut dalam melangengkan penindasan.

  1. Agama sebagai Candu Masyarakat.

Dalam pandangan Marx, agama memang pantas disebut candu masyarakat. Karena seperti candu, agama memberikan harapan-harapan semu, yang dapat membantu manusia untuk sementara waktu melupakan masalah real hidupnya.

Ketika manusia sedang masuk dalam penderitaan yang dbutuhkan tidak lain adalah candu yang dapat membantu melupakan segala penderitaan hidup kendati hanya sesaat saja. Dalam konteks ini orang memang membutuhkan ilusi-ilusi untuk meninggalkan penderitaan dalam dunia real-objektif bagi manusia untuk mengabdi pada kekuasaan supranatural. Hal ini dijelaskan oleh Marx dari bagaimana agama berkembang. Agama berkembang karena diwartakan. Tersebar luasnya agama dapat dijelaskan dari faktor bahwa diwarkatanya oleh masyarakat yang mempunyai kekuasaan atau oleh masyarakat yang didukung oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan itu. Jadi, agamatidak berkembang karena ada kesadaran diri akan pembebasan sejati, tetapi lebih karena kondisi yang diciptakan oleh orang-orang yang memiliki kuasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Propaganda agama yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan inilah yang dipandang oleh marx sebagai sikap meracuni masyarakat.

  1. Peniadaan Agama sebagai Kebahagiaan Real.

Bagi Marx, peniadaan agama “sebagai kebahagiaan khayali” masyarakat adalah tuntutan demi kebahagiaan nyata. Tuntutan meniadakan khayalan-khayalan tentang keadaan manusia merupakan tuntutan menghapus keadaan yang membutuhkan khayalan-khayalan itu. Maka, bukan perubahan kesadaran, melainkan praktis perubahan dan perbaikan masyarakat. Sebagai keadaan yang memerlukan ilusi “itulah yang perlu dibuat”, yakni adalah dengan mengubah dunia itu. Tujuan proses perubahan ini adalah, sebagai pembebasan atau emansipasi manusia demi situasi ketergantungan-ketergantungan yang tidak perlu. Sehingga ia bisa mengembangkan diri sepenuhnya tanpa alienasi dan dengan demikian mencapai “kebahagiaan nyata” di dunia ini, menjadi “kebahagiaan yang manusiawi”, “manusia total”. Manusia adalah hakekat tertinggi bagi manusia.

Referensi :

Abidin, Zainal. 2003. Filsafat Manusia : Memahami Manusia Lewat Filsafat. Bandung. PT Remaja Rosdakarya

Bertens, K. 1983. Filsafat Barat Abad XX : Inggris-Jerman. Jakarta. Gramedia.

Leahy, Louis, S.J, Prof. Dr. 1985. Masalah Ketuhanan Dewasa Ini. Jakarta. Bpk. Gunung Mulia.

———————————- 1985. Aliran-Aliran Besar Ateisme : Tinjauan Kritis. Yogyakarta/Jakarta. Kanisius/BPK Gunung Mulia

Magnis-Suseno, Franz. 2006. Menalar Tuhan. Cetakan ke-VII. Yogyakarta. Kanisius

Magnis-Suseno, Franz. 1999. Pemikiran Karl Marx. Dari Sosialis Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta. Gramedia

Supono, Eusta. 2003. Agama : Solusi atau Ilusi? : Kritik atas Kritik Agama Karl Marx. Komunitas Studi Didaktika Yogyakarta

Tjahjadi, Simon Petrus L. 2007. Tuhan Para Filsuf dan Ilmuwan. Yogyakarta. Kanisius

Oleh: addhiet | Oktober 5, 2009

ATEISME FEUERBACH

feuerbachlogo

Ludwig Andreas Feuerbach (1804-1872) Lhir di Bavaria, Jerman, dalam keluarga pengacara, akademisi, dan orang-orang beriman. Sejak usia 15 tahun, Feuerbach merasa tertarik dengan soal-soal keagamaan, baru setelah usia 19 tahun, Ia pergi ke Heidelberg University untuk belajar teologi. Pada tahun 1824, Feuerbach pergi ke berlin, dimana ia mengikuti kuliah-kuliah Hegel dan berubah ke filsafat, meski pada akhirnya pemikiran Hegel bertentangan dengannya.

Oleh karenanya Feuerbach diantara murid-murid Hegel dari “Sayap Kiri”. Mereka ini menerima metode dialektis, tetapi menolak ii ajarannya. Feuerbach pernah mengajar di Universitas, tetapi ia bekerja terutama sebagai seorang penulis. Ia meninggal tahun 1872, dan dimakamkan di Nurenberg dan 20.000 orang dating untuk menghormati pemakamannya.

Pemikiran-Pemikiran

1. Allah adalah Proyeksi Manusia

Dalam pandangan hegel, lewat kesadaran manusialah maka, Tuhan (Allah) mengungkapkan diri-Nya. Tuhan (Allah) sebagai Roh Alam Semesta adalah pelaku sejarah yang sebenarnya, dan para manusia tiak sadar mereka digerkkan olehnya. Jadi segala keputusan-keputusan dan usaha-usaha manusia, masing-masing merupakan tujuan dari Roh Alah Semesta tersebut,

Gagasan inti Hegel inilah yang menjadi ssaran kritik dari Feuerbach. Karena, bagi Feuerbach, apa yang dikatakan oleh Hegel bahwasannya Tuhanlah yang nyata, sedangkan manusia tidak nyata adalah salah. Karena, yang nyata dan tak terbantahkan itu adalah manusia, bukan Tuhan.

Manusia bukanlah pikiran Tuhan, melainkan Tuhanlah pikiran manusia. Bukan Tuhan yang menciptakan manusia, melainkan Tuhaen adalah ciptaan dari angan-angan manusia.

Penolakan Feuerbach ini, didasarkan dengan kepastian inderawi sebagai dasar dari realitas. Realitas yang tak terbantah adalah pengalaman inderawi dan bukan pikiran spekulatif. Manusia harus bertolak dari satu-satunya realitas yang tidak dapat dibantah dari kepastian inderawi. Realitas inderawi yang langsung menyatakan diri. Maka hanya ada satu titik tolak yang sah bagi filsafat, yaitu inderawi manusia. Maka dengan demikian filsafat hegel oleh Feuerbach diterjemahkan dalam Materialisme.

2. Teologi sebagai Antropologi.

Dalam pandangan Feuerbach, Tuhan tidak memiliki eksistensi objektif lepas dari kesadaran manusia. Adanya Tuhan hanyalah perwujudan sekaligus personifikasi transenden dari dambaab imanen, yang ada pada pikiran manusia.*

Dengan menyebut Tuhan yang Maha Tahu, manusia sebenarnya hanya memenuhi dambaannya untuk bisa mengetahui segala sesuatu; dengan mengatakan Tuhan ada dimana-mana, manusia memuaskan keinginannya untuk tidak terikat pada ruang; dengan menyebut Tuhan itu kekal, manusia mewujudkan dambaannya untuk tidak terikat oleh waktu; dengan menyebut Tuhan itu Maha Kuasa, manusia mewujudkan keinginannya untuk bisa berbuat apapun yang ia kehendaki. Dengan demikian bukan Tuhan yang menciptakan manusia (menurut citra-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh Kitab Suci dalm kejadian 1, 26), melainkan manusialah yang menciptakan Tuhan menurut citra manusia.

Setelah ajaran teologi terungkapkan sebagai antropologi, maka kepercayaan kepada Tuhan, akan muncul sebagai kepercayaan kepada dirinya sendiri. Dengan demikian, maka teologi menjadi antropoteisme, yakni manusia sebagai Tuhan. “Homo Homini Deus Est”.

3. Alienasi dan Proyeksi

Seperti yang diungkapkan diatas, bahwa manusia tidak diciptakan oleh Tuhan melainkan Tuhan diciptakan oleh manusia, maka dalam proses ini (yakni penciptaan Tuhan), Feuerbach menyususnnya dalam tiga tahapan, yakni;

(1)      Manusia mengalami bahwa dia dapat bertanya terus-menerus, bahwa ia mempunyai kesadaran yang seakan-akan tak terhingga. Kesadaran yang dapat membuat, apa-apa saja (segala hal) yang tak pernah dapat ditemukan batas-batasnya.

(2)         “Ketidak-terhinggaan”, yang mula-mula hanya suatu sifat dari kesadaran, akhirnya dijadikan sesuatu. Manusia menemukan ketidakterhinggaan di dalam dirinya sendiri, dan itu kemusian dianggap dianggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri diluar manusia. “ketakterhinggaan” ini mulai ditulis dengan huruf-huruf besar oleh manusia, “Ketakterhinggaan” ini dijadikan Tuhan.

(3)      “Tuhan” yang hanya merupakan ciptaan dari manusia tersebut, dihormati dalam kebaktian. Itu berarti bahwa manusia telah menjadi hamba dari ciptaannya tersebut. Maka, dengan demikian, manusia telah diasingkan (teralienasi) dari dirinya sendiri. Dan untuk dapat terbebas dari alienasi ini manusia harus mengerti bahwa “Tuhan (Allah)” itu hanya merupakan ciptaan dari dia sendiri.

4. Agama adalah Instiitusi Alienatif

Dalam agama, apa yang dikatakan tentang Tuhan, sebnarnya merupakan perkataan manusia tentang dirinya sendiri. Isi dari agama hanya merupakan realitas manusia yang di proyeksikan ke dalam diri manusia yang transenden. Tetapi, karena manusia sendiri tidak mampu memahaminya bahwa agama itu sebenarnya hanya merupakan hakekat dari manusia itu sendiri, maka dalam agama hakekat manusia diasingkan dari dirinya sendiri. Dalam hal ini, maka agama merupakan tanda dari keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Jadi dengan begitu, adanya agama sebenarnya merupakan Instiitusi Alienatif.

Adanya agama juga hanya akan mempertentangkan diri manusia dengan Tuhan. Tuhan “Allah” yang bersifat Tak-Terbatas, Sempurna, Abadi, Maha Kuasa, dan Suci. Sedangkan manusia bersifat terbatas, tidak sempurna, sementara, lemah, dan berdosa.

Oleh karena itu, agar manusia dapat melepaskan diri dari keterasingannya dan mencapai hakekatnya itu, manusia harus menolak agama dan Tuhan “Allah”.

Referensi :

Abidin, Zainal. 2003. Filsafat Manusia : Memahami Manusia Lewat Filsafat. Bandung. PT Remaja Rosdakarya

Bertens, K. 1983. Filsafat Barat Abad XX : Inggris-Jerman. Jakarta. Gramedia.

Leahy, Louis, S.J, Prof. Dr. 1985. Masalah Ketuhanan Dewasa Ini. Jakarta. Bpk. Gunung Mulia.

———————————- 1985. Aliran-Aliran Besar Ateisme : Tinjauan Kritis. Yogyakarta/Jakarta. Kanisius/BPK Gunung Mulia

Magnis-Suseno, Franz. 2006. Menalar Tuhan. Cetakan ke-VII. Yogyakarta. Kanisius

Magnis-Suseno, Franz. 1999. Pemikiran Karl Marx. Dari Sosialis Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta. Gramedia

Tjahjadi, Simon Petrus L. 2007. Tuhan Para Filsuf dan Ilmuwan. Yogyakarta. Kanisius

Wartofsky, M. 1977. Feuerbach. Cambridge University Press.

Oleh: addhiet | September 28, 2009

YANG BENAR YANG UNIVERSAL ?????

Beberapa hari ini saya terus memikirkan perdebatan saya dengan teman saya yang berkeyakinan sebagai kejawen. Dalam pemikiran mereka, bahwa dalam kerkeyakinan hendaklah mereka yang beragama itu saling menghormati, bahkan lebih dari itu, mereka hendaknya belajar tentang agama yang lainnya. Menurut meraka, selama ini mengapa sering terjadi kerusuhan, bahkan sampai pembunuhan seperti halnya kasus di ambon dan poso, bahkan seperti peristiwa Bom Bunuh Diri yang dilakukan oleh Jama’ah Islam Radikal di Indonesia. Sepintas kalau kita membaca maksud perkataan mereka benar adanya. Namun, jika kalian bertatap muka langsung dengan mereka, kalian bahkan akan tahu dimana mereka meletakkan keangkuhan mereka sebagai penganut kejawen, yang dalam kepercayaan mereka memperbolehkan bahwan mem-baik-kan jika mereka mempelajari semua agama yang ada di dunia ini, kalian akan mengerti betapa angkuhnya mereka. Karena mereka menganggap pemikiran yang seperti merekalah yang sepatutnya ditiru oleh umat beragama.

Beberapa saat setelah pembicaraan tersebut, beberapa teman yang beragama katolik, Kristen, dan Islam mengangguk-anggukkan kepala. Kecuali aku yang masih menyimpan pertanyaan, meski belum terjawab saat itu.

Kesesokan harinya, tepat ketika keluarga saya akan berbuka puasa, seperti biasanya ibu saya menonton kultum di RCTI. Selepas acara tersebut Seorang Ustat bernama Qurai Shihab berdoa dan ibu saya turut meng-amin-kan doa tersebut. Seusai doa tersebut, ayah saya yang kejawen nyeletuk ‘kenapa umat islam selalu berdoa dengan bahasa arab? Emangnya Tuhan cuma tahu bahasa Arab?’. Mendengar itu Ibuku yang beragama Islam membela keyakinan dia dengan berkata “sebab bahasa arab merupakan bahasa pilihan Tuhan”. Lalu ayahkupun menyengir, seolah meremehkan balasan ucapan dari Ibuku.

Semua perkataan dan dialog diatas sebenarnya merupakan pembicaraan dan dialog yang sering saya dapati sejak dari SMU. Dan sejak saat itu juga saya menaruh kepercayaan saya terhadap kejawen, sebelum pada akhirnya saya menjadi ateis seperti sekarang. Tetapi kali ini pembelaan saya terhadap pemikiran saya dan penolakan saya terhadap pemikiran kejawen bukan didasarkan atas keateisan saya, melainkan lebih dari pengalaman pemikiran pribadi saya pribadi –terlepas dari keateisan saya-.

Yang harus diperhatikan adalah pertama, yakni tentang kebenaran yang bersifat parsial atau penganut satu kebenaran semata. Seperti halnya Islam yang hanya percaya pada kebenaran ajaran dan agama, begitu pula dengan khatolik, Kristen, Hindu, maupun Budha. Para penganut kepercayaan tersebut –paling tidak (karena dalam ajaran Budha atau Islam Sufi belum bisa dikatakan kebenaran parsial, melainkan mendekati bahkan bersifat universal)- menganggap bahwa agama, dan keyakinan merekalah yang benar, sedangkan yang lain tidak benar atau belum benar. Termasuk dalam tiap-tiap aliran agama tersebut. Seperti Islam Muhammadiah, HTI, Syi’ah, dll, mereka menganggap aliran merekalah dalam Islam yang benar. Begitu pula dengan aliran-aliran dalam Kristen seperti jema’ah Gereja Jawi, Yohanes, dll mereka menganggap aliran atau jema’ah merekalah yang benar –paling tidak yang lain hamper atau mendekati yang benar-.

Sedangkan dalam aliran atau ajaran kejawen menganggap yang universallah yang benar. Semua umat agama benar adalkan melaksanakan ajaran agamanya dengan benar. Maka dalam ajaran mereka juga mempebolehkan bahkan menganjurkan untuk belajar agama di dunia. Lalu dimanakah letak ‘yang saya pertanyakan’ dalam pandangan tersebut?

Baik disinilah dimana saya kembali mempertanyakannya kembali kebenaran yang bersifat universal tersebut. Pertama mereka menganggap yang universal itu yang jauh lebih baik atau benar adanya (karena mereka juga menganjurkan pandangan mereka tersebut kepada umat agama lain). Dalam hal ini, maka pertanyaan saya yang harus di pikirkan kembali: “Apakah perbedaannya antara kebenaran seperti yang diutarakan umat Islam, Kristen, Khatolih, Hindu, Budha, dan Kejawen?”. Bukankah dengan berkata “bahwa yang lebih baik atau paling tidak yang benar itu yang bersifat universal –yakni kejawen- tersebut” sama halnya dengan kebenaran seperti yang diinginkan oleh umat Islah, Khatolik, Kristen, Hindu, dan Budha?.

Jadi dalam hal ini bagi saya kebenaran yang universal –Kejawen- tersebut sama halnya dengan kebenaran yang parsial  -Islam, Khatolik, Kristen, Hindu, dan Budha. Karena kedua-duanya menitik beratkan pada kebenaran yang mereka ajuran masing-masing. Tidak pernah ada kebenaran yang bersifat universal, karena semua kebenaran tersebut bersifat parsial adanya. Termasuk kebenaran sebagai seorang ateis. Karena bagaimanapun kebenaran seorang ateis, meski ia terbuka terhadap agama-agama, tetap saja kebenaran itu bersifat parsial juga.

Tidak pernah ada kebenaran yang bersifat universal, atau sesuatu yang bersifat universal itu lebih baik dari pada yang parsial, karena dengan mengatakan sesuatu yang bersifat universal itu sesuatu yang benar –atau paling tidak sesuatu yang lebih baik dari yang parsial-, maka hal itu sama halnya dengan meletakkkan sesuatu yang bersifat universal tersebut menjadi sesuatu yang bersifat parsial.

Oleh: addhiet | Februari 6, 2009

Tuhan serta Kesalahan-Kesalahan yang Diperbuatnya

Tuhan, seperti yang dipahami oleh agama-agama Ibrahim seperti Yahudi, Kristen, dan Islam, memahami Tuhan sebagai Yang Maha Pencipta, Pengasih, Penyayang, Pelindung, serta Maha Segalanya atau Yang Maha Tak Terbatas itu ternyata pada senyatanya telah meninggalkan banyak pertanyaan yang di tujukan kepada-Nya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan sebuah refleksi terhadap ke-eksistensian ke-Maha-annya tersebut.

Banyaknya kejadian di bumi yang terjawab bukan berdasarkan pada eksistensi-Nya merupakan jawaban yang tidak dapat memuaskan sebagian kalangan manusia rasional dan para pemikir bebas di dunia ini.

Sebuah jawaban yang justru bertolak belakang dan bahkan merupakan rasionalisasi Tuhan dan para penerjemah-Nya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang tampak di depan mata manusia. Diantaranya adalah pertanyaan-pertanyaan sekitar terjadinya bencana alam, peperangan dengan mengatas namakan Tuhan, pembunuhan , pemerkosaan, dan lainnya, hanya di jawab oleh Tuhan dengan rasionalisasi atas ketidak mampuannya dalam melaksanakan tugas Dia sebagai Tuhan. Dipihak lain, para penerjemahnya turut andil dalam membela Tuhan mereka, meski mereka sendiri mengetahui atas kelemahan-kelemahan Tuhan mereka, hanya karena mereka tergiur oleh iming-iming Tuhan, yakni surga, dan takut dengan gertakan dan ancaman Tuhan, yakni neraka.

Tuhan, memang telah salah dalam memperkenalkan dirinya kepada umatnya. Ini adalah kesalahan yang dilakukan oleh Tuhan, karena dia memperkenalkan diri-Nya dengan rasa penuh kesombongan dan keangkuhannya. Dimama Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dengan berkata “Aku akan selalu meyertai-mu dan akan selalu melindungi-mu dari bencana dan kejahatan, maka dari itu berdoalah dan meminta pertolongan kepada-Ku serta bersejudlah kepada-Ku”

Dialog Tuhan tersebut, jelas menunjukkan kesombongan Tuhan, serta akibat yang harus Ia terima atas kesombongan diri-Nya tersebut. Ia, Tuhan, justru malah akan tereduksir di dalam hati dan kepala manusia yang mampu menangkap semua fenomena ini dengan inteligensi dan emosional inteligensi manusia.

Oleh karenanya, masihkah Engkau, Tuhan, masih memiliki muka di hadapan manusia –umat-Mu- ini? Jika ya, maka Engkau memang Tuhan yang selayaknya untuk tidak kami sembah!

Oleh: addhiet | Februari 6, 2009

Penderitaan ; Antara Masokis dengan Psikopatis

Penderitaan, itulah sumber utama keluhan manusia. Tapi apa yang akan terjadi jika diantara kita sebagai manusia justru merasakan kebahagiaan di tengah penderitaan kita?

Jawabannya adalah kita telah mengalami sebuah gejala kejiwaan yang secara psikologis dikatakan sebagai masokis. Masokisme dalam DSM IV dikelompokkan sebagai penyakit jiwa dimana penderitanya akan merasakan bahagia atau senang dalam melakukan hubungan seks atau libido atau libido dia akan meningkat bila pasangan dia terlebih dahulu menyakiti dia secara fisik atau psikis.

Lalu apa hubungannya dengan tulisan saya ini??

Pertama tentunya saya akan menjabarkan betapa masyarakat kita –Indonesia- saat ini sedang mengalami suatu gejala ini, yakni masokisme.

Apa buktinya?

Pembuktian, hemm… ya.. saya akan membuktikan dengan memberikan beberapa kasus nyata dalam masyarakat kita saat ini. Seperti yang kita ketahui, Negara ini telah mengalami krisis moneter lebih dari dasawarsa ini. Sejak 1997 rakyat mengalami banyak penderitaan, tingginya nilai tukar rupiah yang disusul dengan meningkatnya hrga pangan, sandang, dan papan. Ditambah dengan meningkatnya harga minyak yang akan semakin menjerat rakyat dalam memenuhi kebutuhan bahan pokok mereka. Mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, seolah menggambarkan betapa rakyat atau masyarakat Indonesia ini menderita.

Namun benarkah demikian adanya?

Tidak, para alim ulama di tambah dengan ulasan pidato para pemimpin Negara ini dengan mengatakan agar rakyat mampu bersabar, ditambah ulasan atau himbauan, atau ilusi para pemuka agama atau ulama bahwa Tuhan mencintai umatnya yang bersabar, seolah menghapuskan semua luka mereka.

Namun, benarkah dengan demikian berarti kita dalam kondisi psikis yang lebih baik?

Jawabannya adalah tidak! Justru kebalikannya! Rakyat Indonesia dalam kondisi penyakit kejiwaan yang di sebut dengan masokisme, Ya kita semua dalam kondisi seperti itu.

Lalu adakah pengaruhnya terhadap kehidupan keseharian mereka?

Jelas ada, pengaruh dari keadaan ini bila terus dibiarkan akan menjadikan mereka kaum psikopat. Suatu kondisi kejiwaan manusia diman mereka merasa puas ketika melihat orang lain menderita.

Kenapa demikian?

Saya hanya dapat memberikan contoh praktisnya saja, yakni bahwa sebuah pertanyaan yang banyak muncul di benak bangsa, pengamat social, hukum, wartawan, dll, yakni kenapa di Indonesia marak terjadi kerusuhan?

Benarkah hanya factor ekonomi?

Ya benar, namun lebih tepatnya karena kondisi seperti yang saya jelaskan diatas.

Secara psikoanalisa mungkin ini dikarenakan terjadinya sublimasi dari kesenangan terhadap penderitaan yang kita hadapi menjadi kesenangan melihat orang lain menderita. Oleh sebab itulah, banyak orag yang merasa senang bila memukuli seorang copet, seraya berkata mampus..loe.. dasar copet….

Lalu bagai mana dengan jalan keluarnya?

Jalan keluar dari itu semua adalah;
1. Rakyat harus sadar bahwa dirinya dalam keadaan menderita.
2. Rakyat harus sadar kalau penderitaan itu menyakitkat.
3. Rakyat harus sadar akibat pengeruh negative dari penderitaan tersebut, bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi orang lain.
4. Rakyat harus mau merobah keadaan dirinya.

Lalu adakah jaminan bila dengan semua ini terlaksana maka manusia akan berubah? Ya.. silakan kita coba.!!

Kenapa agama dikatakan candu? Karena oleh Marx sebagai pelarian diri. Pelarian manusia yang lemah terhadap nasib yang menimpanya. Manusia yang lemah pasti akan melakukan tersebut, yakni dengan mengembalikan semua yang menimpa diri mereka kepada Tuhan, dengan pikiran bahwa ini adalah takdir atau cobaan dari Tuhan, serta akan memperoleh kehidupan yang layak setelah meninggal yakni syurga bila mereka menjalankannya dengan sabar diri atau bertawakal kepada Tuhan.

Fenomena tersebut, maka bagi Marxisme agama sebagai candu bagi manusia yang lemah dan tertindas, maka agar manusia tidak ke-canduan, yakni hidup dalam dunia yang tidak nyata maka manusia harus bangkit dan sadaakan apa yang menimpa mereka. Manusia harus sadar, bahwa selama ini agama hanyalah sebuah sarana untuk mendukung kejayaan kaum kapitalis dalam menimbun harta-Nya dengan memanfaatkan mereka, kaum proleter, yakni para budak, dan buruh.

Tetapi bagi saya merupakan paradigma dimana ssuatu yang tertuju atau di inginkan sebelum terwujud2. hal ini sama dengan sosialisme komunisme, bila apa yang dicita-citakan oleh mereka sampai atau hingga saat ini belum terwujud. Maka komunisme sosialisme marxisme hanya akan menjadi candu bagi para pengikutnya.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori