Dalam sejarah kebudayaan, manusia di kenal sebagai makhluk yang beragama. Bahkan manusia dikenal sudah lama menyembah Tuhan dalam pelbagai bentuk, dan manusia di manapun tertarik untuk memikirkan Tuhan dari pelbagai sudut. Namun, pada jaman dahulupun sudah ada manusia yang ateis, yakni seorang tidak percaya terhadap eksistensi Ketuhanan.
Ateisme merupakan penolakan terhadap konsepsi ketuhanan yang sedang berlaku pada suatu saat (Armstrong, 2007). Pada mulanya, term ateis ditujukan kepada orang Yahudi dan Kristen karena telah mengingkari keyakinan kaum pagan tentang yang ilahi, meskipun mereka beriman kepada suatu Tuhan. Baru setelah abad ke-XIX term ateis ditujukan kepada mereka yang secara khusus mengecam konsepsi ketuhanan yang tengah di anut di Barat
Latar belakang dari pemikiran ini di mulai sejak bergulirnya Revolusi Ilmiah di Eropa sejak abad ke-XVI, dimana ilmu pengetahuan saat itu telah melepaskan agama dalam kajian keilmuan demi tercapainya pendekatan secara empris. Empirisme sebagai mana diketahui, menuntut agar ilmu pengetahuan didasarkan pada pengamatan inderawi. Sehingga pada adab ke-XVIII muncul filsuf-filsuf materialis seperti Denis Diderot, David Hume, dan Paul H. D. d’ Holbach yang mengembalikan segala bentuk kehidupan pada materi dan menolak konsep penciptaan Tuhan. Akhirnya, pada abad ke-XIX dasar-dasar ateisme dirumuskan secara filosofis oleh Feuerbach, Marx, Nietzsche, secara Psikologis oleh Freud, dan secara Science oleh Darwin.
Feuerbach dalam karyanya ‘Das Wesen des Christentum’ mengatakan bahwa agama hanyalah sebuah proyeksi manusia. Allah, malaekat, surga, dan neraka tidak memiliki kenyataan pada dirinya sendiri, karena merupakan angan-angan manusia tentang hakekatnya sendiri. Oleh sebab itu, Feuerbach mengatakan bahwa manusia hanya dapat mengakhiri keterasingannya dan menjadi diri sendiri apa bila ia meniadakan agama. Manusia harus menolak kepercayaan terhadap Allah yang Maha kuat, Maha baik, Maha adil, Maha tahu agar manusia menjadi kuat, baik, adil, dan tahu (Magnis-Suseno, 2006).
Oleh karenanya seorang tokoh sosialis semisal Marx, mendukung pernyataan Feuerbach dan memberikan landasan utama tentang konsep alienasi Feuerbach, yakni, bahwa sanya manusia melarikan diri ke hayalan dari pada melanjutkan diri dalam kehidupan nyata, karena dalam kehidupan nyata struktur kehidupan dalam masyarakat tidak mengijinkan manusia untuk mewujudkan hakekatnya. Maka dari itu manusia melarikan diri ke dunia khayalan, karena dunia nyata menindasnya. Berdasarkan uraian tersebut maka Marx menyatakan bahwa agama adalah candu rakyat (Magnis-Suseno, 2006).
Sedangkan Nietzsche dalam “Die FrÖhliche Wissenschaft”, memaklumkan bahwa Tuhan sudah mati, Tuhan sudah di bunuh, dan manusialah yang telah membunuh Tuhan, dan secara beramai-ramai sudah di kuburkan (Sunardi, 1996).
Sedangkan Freud dalam “The Future of an Illusion”, dengan yakin menganggap kepercayaan kepada Tuhan sebagai ilusi yang harus di ditinggalkan manusia. (Armstrong, 2007). Menurut Freud agama merupakan suatu ilusi yang berasal dari semacam infantilisme. Kepercayaan religius merupakan suatu penghiburan, suatu kompensasi untuk keadaan manusia yang terlalu berat dan bengis. Paham Allah merupakan penciptaan oleh manusia menurut model ayah sejakmasa kenak-kanak, dimana ayah sebagai figur pelindung sekaligus sebagai yang ditakuti (Berten, 1987).
Sementara itu Darwin dalam “The Original of Species”, memunculkan teori evolusinya dengan pengingkaran terhadap keberadaan Pencipta.
Dalam teori evolusi tersebut Darwin mengatakan bahwa kehidupan muncul secara kebetulan dari materi tak hidup. Makhluk hidup telah terbentuk dari satu species ke species lain melalui perubahan sedikit demi sedikit (Yahya, 2005)
Di abad ke-XXI saat ini, ateisme seolah mengalami perkembangan yang sangat pesat di Barat. Tokoh-tokoh yang disebut sebagai tokoh ateisme modern semisal Cristoper Hitchans, Sam Harris, dan Dawkins, yang dalam karya-karya mereka yang mengkritik peranan agama-agama saat ini seolah menghidupkan kembali wacana tentang ateisme dengan mempertanyakan kembali eksistensi tentang Tuhan.
Christoper Hitchens, misalnya, dalam “God is not Great” mempernyakan eksistensi Tuhan lewat kejadian 9/11, katrina, dan tsunami, yang melalui teodisi tidak bisa dijawab. Bagi Hitchens tidak ada lagi dasar untuk percaya pada Tuhan.
Sementara itu Sam Harris, dalam “Letter to a Christian Nation”, yang menyatakan bahwa semakin kau cari ke dalam agama, intoleransi yang kau temukan. Sementara
Richard Dawkins dalam “The Prove of Existence of God” berpendapat bahwa semakin diperiksa manusia dengan seluruh proses evolusinya, ketahuanlah bahwa Allah itu tidak faktor, tidak menjadi faktor penentu manusia sampai begini. Jadi tokoh-tokoh ateisme abad ke-XXI ingin menyatakan bahwa
Tuhan dan agama, adalah intoleransi dan irrasionalitas (Mohamad, 2007).
Populasi kaum ateis, agnostik, nonreligion, dan sekuler menurut data statistik dunia yang di teliti oleh Michael Pain hingga tahun 2002 berjumlah sekitar 850 milyar jiwa, atau sekitar 14,2 % populasi penduduk dunia. Di Amerika hingga tahun 2001 populasi ateis mencapai 902.000 jiwa, atau sekitar 0,4 % dari seluruh populasi penduduk Amerika (http://atheistempire.com/reference/stats/).
Di Indonesia, keberadaan kaum ateis tidaklah diakui oleh Negara. Hal ini karena Indonesia adalah Negara yang berdasarkan pada Ketuhanan yang Maha Esa. Sehingga, ateisme baik sebagai konsep filosofis maupun penyangkalan adanya Tuhan dalam praktis kehidupan tidak mendapat tempat di Negara ini. Namun demikian, meski atas landasan diatas tersebut, tidak menutup kemungkinan pula adanya pribadi-pribadi yang ateis dalam masyarakat Indonesia. Seperti yang di ungkapkan oleh rekan saya, yakni : “Saya seorang ateis, ya.. saya adalah seorang ateis. Saya tidak mempercayai keberadaan ataupun eksistensi Tuhan, No God a bout You”.
Bagai mana pendapat rekan-rekan?
pendapat saya tentang ateisme bisa dibaca di blog saya
http://onisur.wordpress.com/2008/03/31/ateisme-sebagai-kritik-agama/
Oleh: Oni Suryaman on Juli 22, 2008
at 7:25 am
teman…aku butuh referensi banyak soal eksistansialisme. gimmme suggessstb pleeeeassssseeee
Oleh: irman on November 19, 2008
at 4:04 am
Ateisme tidak sanggup menjawab 2 persoalan besar ini:
1. Metafisika: Ateisme tak sanggup menjelaskan munculnya pribadi dari non-pribadi.
2. Moralitas: Jika Tuhan tidak ada, maka apa dasar obyektifitas nilai2 moral? Yang ada hanyalah pendapat umum atau pendapat rata2, tapi bukan benar/salah.
Oleh: ybs on November 20, 2008
at 12:19 am
Saya tidak tahu apakah ini mempunyai kualitas yang baik bagi kesadaran anda, tetapi coba simak saja di http://seremonia.net dengan judul THERE IS GOD
Oleh: seremonia on Maret 14, 2009
at 12:22 am
KASIAN!!! DEBAT INI SUDAH SELESAI RATUSAN TAHUN YG LALU, KASIAN ADMINNYA JARANG BACA BUKU, SEPERTI KATAK DALAM TEMPURUNG! SI RICHARD DAWKINS AJA DAH TOBAT, KOK PENGIKUT TAKLID BUTA KAYA LO GA BURUAN TOBAT
Oleh: SABDOPALON on Juni 2, 2009
at 3:59 am