
Percaya atau tidak, tindakan seseorang untuk melakukan bunuh diri ternyata sudah ditentukan saat sang jabang bayi kali pertama dilahirkan. Hal ini terungkap dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Swedia pimpinan Dr Danuta Wasserman yang melakukan penelitian atas 700.000 remaja.
Dari hasil penelitian Dr Danuta Wasserman itu diketahui bahwa berat badan bayi saat dilahirkan menjadi penentu resiko bunuh diri dikemudian hari. Bayi yang lahir dibawah rata-rata memiliki resiko dua kali lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri dibandingkan dengan bayi yang lahir secara normal. Resiko itu akan semakin tinggi jika ibu yang melahirkan masih berusia remaja.
Hasil penelitian Dr Danuta Wasserman yang merupakan peneliti dari `the National Centre for Suicide Research and Prevention` (Stockholm) itu dipublikasikan melalui The Lancet medical journal. Menuru Dr Danuta Wasserman, faktor genetika memerankan posisi penting dalam kasus bunuh diri ini.
Riset dilakukan dengan mengikuti semua data dari bayi yang dilahirkan antara tahun 1973 dan 1980 dengan melihat kecendrungan tindakan bunuh diri yang terjadi pada usia 10 tahun hingga 26 tahun. Secara keseluruhan tingkat tindakan bunuh diri yang terjadi di Swedia pada tahun 1999 berkisar 20 orang untuk setiap 100.00 populasi. Menurut penelitian, bayi yang dilahirkan memiliki berat badan kurang 2 kg akan terkena resiko dua kali lebih tinggi mengalami bunuh diri dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan normal 3.25 kg – 3.75 kg.
Sementara anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang kurang dari usia 19 tahun juga akan mengalami resiko terkena ancaman bunuh diri bila dibandingkan dengan ibu yang berusia 20 hingga 29 tahun. Malah panjang bayi waktu dilahirkan juga turut diteliti oleh Dr Danuta Wasserman. Menurutnya, bayi yang dilahirkan kurang dari 47 cm akan memiliki kecendrungan melakukan bunuh diri bila dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan dengan panjang 50 atau 51 cm.
“Studi yang kami lakukan memang tidak memberikan jawaban yang definitif mengenai resiko terjadinya bunuh diri,” ungkapnya. “Namun setidaknya kami menemukan hubungan penting antara pra kelahiran sebagai faktor penentu. Saya fikir faktor genetika dan lingkungan menjadi faktor yang sangat penting.”
Dr Danuta Wasserman menyarankan agar sang ibu selama kehamilan menjaga nutrisi dengan baik termasuk tidak mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan. (mydoc/tutut)
Copy Rigth : http://www.kapanlagi.com/a/0000001760.html
Ah paling-paling cuma permainan statistik. Pinterlah mereka itu dalam mencari popularitas
Oleh: lovepassword on Juni 28, 2008
at 10:42 am
Dia itu ilmuwan bung, kalau anda memang orang terpelajar, jangan cuman bisa nyanggah dengan argumen tanpa disertai bukti penelitian yang kuat dan valid.
Oke…!!!
Silahkan melakukan penelitian yang seperti dilakukan Dr Danuta Wasserman, oke!!! setelah anda melakukannya silahkan anda orbitkan, maka sayapun tidak dapat melakukan pembantahan atas hasil penelitian ilmiah anda tersebut!!!
Oke!!!!
Salam ateis
Oleh: wong2ateis on Juni 30, 2008
at 7:41 am
Saya tidak merasa terpelajar bang. Tetapi maksud saya bukan itu. Saya agak jenuh dengan model pemanfaatan data ilmiah untuk tujuan-tujuan politisasi seperti yang anda lakukan. Karena itulah saya jadi berkomentar seperti itu.
Ini bukan berlaku untuk data anda saja tetapi juga data yang diklaim oleh kelompok Islam ,kristen, atau siapapun yang tujuannya : meninggikan diri dan merendahkan kelompok lain.
Karena saya bukan pakar, ya nggak mungkinlah saya melakukan counter.
Tetapi kalo anda niat mencari data yang diplot untuk menyudutkan kaum anda yaitu kaum atheis – saya rasa tanpa saya ajari anda juga pasti sudah tahu tempatnya.
Silakan cari aja di blog/forum/situs yang dikelola oleh kelompok agama garis keras. Di situ anda boleh sepuas-puasnya melihat data-data versi mereka. Yang menurut mereka bisa dijadikan bukti kalo ajaran lain termasuk ajaran anda tentunya itu nggak bener.
Sekali lagi komentar saya itu adalah wujud dari kemuakan saya atas pemakaian data riset/statistik/dsb yang “saya agak berpraksangka” sudah diplot sebelumnya. Ini bukan cuma untuk data anda saja. tetapi bahkan juga data kaum saya sendiri.
SALAM DAMAI
Oleh: lovepassword on Juni 30, 2008
at 11:10 am
Oke sekali lagi thank’s atas komentarnya, sangat menggugah pikiran dan hati daya. Namun bukan berarti saya ingin melakukan counter terhadap pihak lain, namun saya mengambil tema tersebut berhubung saya adalah mahasiswa psikologi, dimana sebelumnya gejala bunuh diri hanya di temukan karena faktor psikis dan sosial saja. Nah berhubung disini sya mendapatkan data baru maka dari itu saya masukkan.
Sekiranya anda salah paham dengan nama blog saya ateis, namun cobe cek kategorinya : psikologi, klinis!!! OKE thank’s
Salam Psikologi aja deh buat yang ini, hehehehe (biar gak salah sangka) Oke??
Oleh: wong2ateis on Juni 30, 2008
at 1:35 pm
“Silakan cari aja di blog/forum/situs yang dikelola oleh kelompok agama garis keras. Di situ anda boleh sepuas-puasnya melihat data-data versi mereka.”
silakan dipost kalo ada, saya sering browsing ke situs2 (pseudo)science nya para garis keras. data2 yang mereka tampilkan itu adalah hoax, tidak ilmiah, dan banyak dimanipulasi (misal ilmuwan A berkata X, yg ditulis di situ adalah ilmuwan A berkata Y).
Oleh: V on Juni 30, 2008
at 3:26 pm
sekali lagi segalanya yang berhubungan dengan science adalah hal yang bukan langsung di ragukan kebenarannya… kemajuan pengembangan genetika sekarang telah luar biasa hebatnya.
Pernah saya baca koran jawa post sekitar satu tahun lalu, yang berkenaan dengan rekayasa genetika. dimana gen-gen yang berhubungan dengan sifat ketakutan tikus pada ular di hilangkan, dan ini berhasil. Tikus tidak lagi takut pada ular…
Oleh: wong2ateis on Juni 30, 2008
at 3:41 pm
@“Silakan cari aja di blog/forum/situs yang dikelola oleh kelompok agama garis keras. Di situ anda boleh sepuas-puasnya melihat data-data versi mereka.”
silakan dipost kalo ada, saya sering browsing ke situs2 (pseudo)science nya para garis keras. data2 yang mereka tampilkan itu adalah hoax, tidak ilmiah, dan banyak dimanipulasi (misal ilmuwan A berkata X, yg ditulis di situ adalah ilmuwan A berkata Y).
Sudah saya katakan secara cukup jelas, kalo saya males (agak antipati malah) ngurus model pemanfaatan riset dengan cara seperti itu. Ngapain juga saya mesti post ke anda . Lha wong saya sendiri kadang melihatnya agak sebel.
Mau anda anggap hoax kek, ya silakan saja. Kadang saya juga ngganggepnya demikian.
Saya tidak meragukan sains lho. jangan salah paham. Saya cuma males nglihatnya – ketika suatu data atau hasil riset apapun dimanipulasi untuk meninggikan diri sendiri dan merendahkan pihak lain. Intinya saya mau ngomong seperti itu. Lha saya nggak perduli yang melakukan ini kaum atheis atau kaum agamawan – saya tetep sama-sama males ngeliatnya.
Oleh: lovepassword on Juli 1, 2008
at 5:27 am
Setelah saya renungkan – tak pikir-pikir kalian itu sebenarnya religius banget, lho. Sangat beriman sekali. Mungkin aku kalah beriman kali ya ?
Mari kita lihat kronologisnya :
1. Pada sanggahan pertama aku bilang postingan di atas cuma permainan statistik
2. Pada point kedua , wong2ateis ngomong ke aku : Kalau aku membantah dia meminta aku memberi bukti, katanya.
Berikut ini cuplikan omongan wong2ateis :
Dia itu ilmuwan bung, kalau anda memang orang terpelajar, jangan cuman bisa nyanggah dengan argumen tanpa disertai bukti penelitian yang kuat dan valid.
Dari sudut pandang logika kaum ateis , yang mestinya memberi bukti itu kan pihak yang percaya bukan pihak yang tidak percaya. Betul kan ?
Dengan alasan itulah maka saya bilang anda bukan ateis tetapi sangat agamis. Karena menyuruh kaum yang tidak percaya untuk membuktikan sesuatu yang anda percayai. Anda melemparkan beban pembuktian ke pihak lain, persis sama seperti kritikan kaum ateis terhadap kelompok agama.
Kalau kaum ateis konsisten dengan teori : orang yang percaya yang harus membuktikan. Bukankah yang mestinya membuktikan itu anda ?
Tanpa meragukan kualitas keilmuwanan anda, teman-teman. Saya sangat tidak yakin kalau kalian telah melakukan riset dan mengecek kebenaran artikel tersebut dengan riset anda sendiri.
Anda tidak menggunakan logika, teman. Anda cuma beriman saja pada data yang diberikan oleh orang lain. Jadi samalah anda dengan saya.
Anda mempertuhankan data – beriman kepada data. Tanpa tahu data itu benar atau salah. Tanpa niat membuktikan /tanpa bisa membuktikan data itu benar atau salah. Anda beriman begitu saja.
Lalu ketika ada pihak lain yang meragukan iman anda tersebut – anda marah-marah. Kemudian anda dengan sedikit sewot malah meminta pihak yang tidak percaya untuk membuktikan sesuatu yang anda pertuhankan tersebut.
Sebagai seorang yang sama-sama beriman, saya sangat salut dengan keimanan rekan-rekan yang sedemikian besar. Bahkan lebih besar dari saya.
SALAM….-
————————————————————-
Alasan kenapa aku males dengan perdebatan yang terkait dengan pemanfaatan data adalah : Karena kedua belah pihak sama-sama bullshit.
Pake data orang seenak udel (terlepas bisa benar bisa salah), Hanya sekedar cuplik sana cuplik sini. Kelompok A memakai omongannya si X, kelompok B memakai omongannya si Y. Padahal bisa jadi X dan Y tidak terkait dengan topik perdebatan. Serta perdebatan ini sangat konyol karena hanya perdebatan model katanya .
Karena Si X katanya ngomong begini maka :
Karena si Y katanya ngomong begini maka :
Kalau mau mengutip data pihak lain boleh saja. Tetapi relevansinya harap ditulis : apa relevansinya dengan pendapat anda sendiri. Jangan menyuruh orang lain beriman dengan data-data anda. Katanya kalian orang-orang logis kan ?
SALAM Semuanya …!!
Oleh: lovepassword on Juli 1, 2008
at 2:12 pm
@ Dari sudut pandang logika kaum ateis , yang mestinya memberi bukti itu kan pihak yang percaya bukan pihak yang tidak percaya. Betul kan ?
Dengan alasan itulah maka saya bilang anda bukan ateis tetapi sangat agamis. Karena menyuruh kaum yang tidak percaya untuk membuktikan sesuatu yang anda percayai. Anda melemparkan beban pembuktian ke pihak lain, persis sama seperti kritikan kaum ateis terhadap kelompok agama.
Kalau kaum ateis konsisten dengan teori : orang yang percaya yang harus membuktikan. Bukankah yang mestinya membuktikan itu anda ?
TIDAK PERLU MEMBUKTIKAN SESUATU YANG TIDAK ADA
YANG PERLU MEMBUKTIKAN ADALAH KALIAN KAUM TEIS….
OKEE!!
Oleh: wong2ateis on Juli 6, 2008
at 10:22 am
KALIAN KAUM TEISLAH YANG MENGATAKAN TUHAN ADA LAH YANG HARUS MEMBUKTIKANNYA…..KALAU TUHAN ADA…
Oleh: wong2ateis on Juli 6, 2008
at 10:23 am
@ Tanpa meragukan kualitas keilmuwanan anda, teman-teman. Saya sangat tidak yakin kalau kalian telah melakukan riset dan mengecek kebenaran artikel tersebut dengan riset anda sendiri.
KAMI LEBIH MEMPERCAYAI ILMU PENGETAHUAN DIBANDINGKAN KEPALSUAN KITAP SUCI…..
DAN TIDAK PERLU DITANYAKAN ATAS KEPALSUAN DATA TERSEBUT…. BILA DATA TERSEBUT SUDAH DAPAT DIPASTIKAN OLEH ILMUWAN LAIN-NYA…
JIKA ANDA MERAGUKAN SEMUA ILMU PENGETAHUAN MAKA ANDA ORANG TERTOLOL YANG NGOTOT….
OKE……
Oleh: wong2ateis on Juli 6, 2008
at 10:27 am
LALU NGAPAIN ANDA MENGHABISKAN UANG UNTUK BELAJAR????
APAKAH ANDA JUGA HARUS MEMBUKTIKAN SEMUA YANG DI AJARKAN GURU, DOSEN, ANDA PADA TIAN MATA KULIAH ANDA????
JIKA ANDA ORANG TOLOL YANG NGOTOT PASTI AKAN MELAKUKANNYA ????
Oleh: wong2ateis on Juli 6, 2008
at 10:28 am
Karena Si X katanya ngomong begini maka :
Karena si Y katanya ngomong begini maka :
YA SELAMA ITU DATA LOGIS KENAPA TIDAK????
KECUALI KITAP SUCI YANG PENUH KEBOHONGAN…. MAKA Y TIDAK AKAN MENGATAKAN SEPERTI YANG DIKATAKAN X
Oleh: wong2ateis on Juli 6, 2008
at 10:31 am
SALAM ATEIS
Oleh: wong2ateis on Juli 6, 2008
at 10:31 am
Science & ilmu pengetahuan menuntut bukti, agama mendidik orang untuk percaya buta tanpa ada bukti.(Karl Karnaldi)
Oleh: wong2ateis on Juli 6, 2008
at 12:15 pm
Hi Hi Hi, anda galak banget ya ???
@KAMI LEBIH MEMPERCAYAI ILMU PENGETAHUAN DIBANDINGKAN KEPALSUAN KITAP SUCI…..- Ilmu pengetahuan bukan untuk dipercaya dengan iman buta. Sudah kubilang kan kalau anda tidak bisa membuktikan berarti anda bertuhankan pengetahuan . Jawab saja Iya . Masalah selesai.
@JIKA ANDA ORANG TOLOL YANG NGOTOT PASTI AKAN MELAKUKANNYA ????
Hi Hi Hi, wis tak kandani aku bukan orang pinter seperti anda – kok yo isih di tolol tololke. Kejam Nian dikau…..-
Rak sah kejem-kejem Bos…-
Jelaskan dengan sepenuh iman anda dengan bahasa yang mudah. Siapa tahu saya jadi beriman dengan agama anda. He he he he
@JIKA ANDA MERAGUKAN SEMUA ILMU PENGETAHUAN MAKA ANDA ORANG TERTOLOL YANG NGOTOT….-
Tentu saja tidak semua pengetahuan. Tetapi dalam hal ini data yang anda tampilkan saya anggap meragukan. Wajarkan ??? Kalau anda anggap benar ya silakan saja. Ngotot ??? Siapa coba yang ngotot Hi hi hi. Tulisan anda saja pake huruf besar semua.
@KALIAN KAUM TEISLAH YANG MENGATAKAN TUHAN ADA LAH YANG HARUS MEMBUKTIKANNYA…..KALAU TUHAN ADA…
Dengan logika yang persis sama andalah yang harus membuktikan dengan logika kalau artikel yang anda posting benar. Bukan saya dong…-
@Science & ilmu pengetahuan menuntut bukti, agama mendidik orang untuk percaya buta tanpa ada bukti.(Karl Karnaldi)
Lha buktinya mana bang ??? Berikan bukti yang bisa saya lihat dan saya percayai….-
Bukankah anda juga meminta bukti yang sama untuk klaim agama. Hi Hi Hi.
Jan-jan galak benar dikau bang….He he he .
Salam Damai untuk para atheis.
Anda dan teman-teman tentunya.
SALAM YA !
Oleh: lovepassword on Juli 7, 2008
at 8:41 am
@Ilmu pengetahuan bukan untuk dipercaya dengan iman buta
Ya, anda benar, oleh karena-nyalah ilmu pengetahuan itu bukan seperti kitap suci yang tidak boleh disangkal….dan karenanyalah ilmu pengetahuan itu selalu berkembang….
saya tidak mengimani ilmu pengetahuan dengan iman buta, namun menaruh kepercayaan validitas ilmu pengetahuan lebih saya percayai. Ingat dalam
setiap validitas tidak ada yang mutlak 100% benar dalam ilmu pengetahuan (tidak seperti kitab suci yang ngaku 100% benar), karena dalam setiap peneliatian dan pengetahuan masih mengandung eror, tentunya eror harus lebih kecil dari sahih-nya penelitian.
@Tulisan anda saja pake huruf besar semua.
maaf soal itu, jangan jadi orang yang paranoid gitu oke… kala itu saya di warned sama keponakan saya… jadi dia agak mengganggu saat itu…
@KALIAN KAUM TEISLAH YANG MENGATAKAN TUHAN ADA LAH YANG HARUS MEMBUKTIKANNYA…..KALAU TUHAN ADA…
Dengan logika yang persis sama andalah yang harus membuktikan dengan logika kalau artikel yang anda posting benar. Bukan saya dong…-
Jelas, bila sesuatu itu tidak ada ngapain di buktikan ???? Heran banget pemikiran sampean…
Cuman orang schizophrenia aja mungkin yang dapat membuktikannya….sesuatu yang gak ada.
nah, baru sampean percaya Tuhan ada, mana, dimana, giman bentuknya ?? Tolong tunjukin ??
Gini lo mas….
hueleh hueleh angel tenan kandanie??
kalau x percaya di dalam mobil ada kucing
maka x mengatakan sama y kalau di dalam mobil ada kucing
dan x menunjukkannya pada y
dan y melihatnya
maka y percaya
Gitu..
kalau x tidak melihat kucing di dalam mobil..
lalu apa yang mau dikatakan x sama y ??
masak mau bilang didalam mobil tidak ada kucing..
sementara y memang tidak tahu…
Sebuah fenomena yang lucu kan
” Sama halnya saya mengatakan sama sampean di dalam rumah sampean gak ada gigi saya yang copot dan tertinggal
apakah dengan perkataan saya itu sampean perlu membuktikannya ??? ”
Hueleh…hueleh…. silahkan… lucu banget kan ??
Jadi Kita ateis tidak perlu membuktikannya !!
heran bener aku ???
@Science & ilmu pengetahuan menuntut bukti, agama mendidik orang untuk percaya buta tanpa ada bukti.(Karl Karnaldi)
Lha buktinya mana bang ??? Berikan bukti yang bisa saya lihat dan saya percayai….-
Buktinya jelas, semua umat beragama memandang apa yang di tulis kitab suci adalah benar dan gak salah ? Iya kan ?
Apakah sampean pernah menbuktikan kebenaran Kitab Sampean, kalau bukan karena semata-mata karena iman, sampean mempercayainya??
Oleh: wong2ateis on Juli 8, 2008
at 5:57 am
kalau x tidak melihat kucing di dalam mobil..
lalu apa yang mau dikatakan x sama y ??
masak mau bilang didalam mobil tidak ada kucing..
sementara y memang tidak tahu…
Lho bukankah yang dilakukan oleh para atheis justru seperti itu.
Anda bilang kemana-mana mengenai sesuatu yang anda anggap tidak ada bukan ?
Umat beragama percaya kalau tuhan ada, jadi mereka bercerita mengenai kepercayaan mereka.
Sedangkan para atheis lebih aneh lagi mereka menceritakan sesuatu yang (mereka anggap) tidak ada.
Mas lovepassword, kucing didalam mobil itu nggak ada lho.
Mas lovepassword, Tuhan itu nggak ada lho
Memang aneh sih kalau orang yang tidak melihat apa-apa, tiba-tiba ngomong seperti itu. Saya setuju 100% kalau itu aneh. Karena apa ?? Karena hanya yang ada yang bisa dibicarakan.
@KALIAN KAUM TEISLAH YANG MENGATAKAN TUHAN ADA LAH YANG HARUS MEMBUKTIKANNYA…..KALAU TUHAN ADA…
Dengan logika yang persis sama andalah yang harus membuktikan dengan logika kalau artikel yang anda posting benar. Bukan saya dong…-
Jelas, bila sesuatu itu tidak ada ngapain di buktikan ???? Heran banget pemikiran sampean…
Cuman orang schizophrenia aja mungkin yang dapat membuktikannya….sesuatu yang gak ada.
Jadi anda mau mengatakan kalau postingan anda itu sesuatu yang tidak ada. ??? Ya that’is ok kalau gitu. Thanxk
SALAM YA ???
Oleh: lovepassword on Juli 8, 2008
at 4:32 pm
Baiklah! Kalau begitu saya menyerah di sini!
Saya tidak bisa membuktikan kalau Tuhan tidak ada.
Sekarang bagaimana dengan anda ?? Saya ingin anda mmbuktikan kalau Tuhan ada ??
Oke??
Tntunya dengan kriteria Ilmiah!! Bukan dogtrin ayang tidak empiris dan ilmiah sama sekali!!
Oke!!
Thank’s
Salam Ateis untuk Anda
Oleh: wong2ateis on Juli 10, 2008
at 4:13 am
Duh cepat kali kau nyerah bang. Aku malah bingung mau ngomong apa he he he. Masalah bukti saya rasa mudah saja :
Saya nggak usah pergi jauh-jauh, mengikuti pola pikir anda yang pinter ini :
Sesuatu yang bisa diceritakan adalah sesuatu yang ada.
Alasannya : kalau x tidak melihat kucing di dalam mobil..
lalu apa yang mau dikatakan x sama y ??
masak mau bilang didalam mobil tidak ada kucing..
Saya kutip pendapat anda 100%. Mudah-mudahan logika anda nyambung dengan pendapat anda sendiri.
Orang yang tidak melihat kucing di dalam mobil tidak akan bilang ke muka umum : Oiiii, disini nggak ada kucing.
Justru aneh kalau ada orang yang bercerita mengenai sesuatu yang nggak ada.
Anda boleh menilai pendapat itu ilmiah atau tidak ilmiah. Yang jelas itu pendapat anda sendiri. Saya kutip 100%.
SALAM untuk Anda dan teman-teman…-
Oleh: lovepassword on Juli 10, 2008
at 2:31 pm
COBA DI KOMENTARI CERITA BERIKUT INI,
Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.
Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang, “Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.
“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak
akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar (mlungker-mlungker- istilah jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata, “Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.”
Si tukang cukur tidak terima,” Kamu kok bisa bilang begitu ??”.
“Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”
“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana “, si konsumen menambahkan.
“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.
” Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri.
“Cocok!” kata si konsumen menyetujui.
“Itulah point utama-nya!. Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA ! Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”
Oleh: Attar on September 18, 2008
at 7:12 am
@Attar
Buuzzz
Ngawur sampean!!
Banyak orang gak berdosa and rutin sembahyang tapi kena musibah bung!! Lalu gimana dengan para koruptor yang tetap sehat itu ?? HHAAHH!!
Jawaben dewe ae yoh??
Oleh: wong2ateis on November 12, 2008
at 9:20 am