Oleh: addhiet | Agustus 5, 2008

Persaksian Saya (Ateis)

BAGIAN I (Awal Mula)

Dalam setiap kehidupan, banyak sekali akan kita temui tentang kebenaran, sebuah kebenaran yang mutlak dan tidak dapat di tolak.

Ketika saya kecil, saya tentunya telah berbeda dengan teman – teman atau anak seusia saya ( 5 – 8 ) tahunan. Sejak usia itu saya tidaklah menganggap Tuhan adalah sebuah person yang wajib di hormati dan ditakuti. Sejak seusia itu memang sepertinya saya sudah menjadi seorang yang non-teis. Bagi anak seusia itu, (seperti teman-teman saya) yang selalu berdoa untuk mendapatkan apa yang mereka impikan, namun saya tidak, entah mengapa karena bagi saya itu tidaklah begitu penting. Sehingga bila bagi teman-teman dan saudara-saudara saya belajar ngaji (baca al-quran), tetapi saya tidak. Entah mengapa waktu itu saya merasa tidaklah penting mempelajarinya, namun saya tetap belajar sholat.

Ketika usia sebelas tahunan sekitar 11-15 tahunan keberadaan Tuhan sedikit mengambil hati saya, namun saya tidaklah menempatkannya pada posisi pertama di hati saya, melainkan ketertarikan akan lawan jenis saya. Namun tetap melakukan puasa, meski sholat jarang-jarang.

Setelah usia 16 tahun, Ayah saya mulai mengajari saya apa itu Tuhan, hanya saja melalui fersi beliau yakni kejawen. Sejak usia 16 – 19 tahun saya tidak makan hewan, dan hanya makan nasi dan sayuran.

Pada usia itu saya juga mulai sholat 5 waktu dan belajar al-quran, injil, dan ilmu kejawen. Bahkan saya mulai hafal ayat kursi di usia itu, selain di latih belajar wejangan wejangan/

Pada usia memasuki 20 tahun, saya mengalami suatu gejolak jetidak puasan saya terhadap fenomena masyarakat. Banyaknya ketidak adilan, kemunafikan manusia, termasuk ayah saya yang semula saya anggap sebagai guru yang mulia. Teman-teman yang sholat namun tetap melakukan maksiat, seperti free seks, mabok, judi, dugem, dan narkotika. pada usia ini jiwa saya memberontak dan saat itu juga saya makan hewan, dan tidak lagi melakukan ritual-ritual.

Pada usia 22 tahun saya masih ingat, dimana saya mengalami depresi berat. seperti kepala sering pusing, sulit tidur, mimpi buruk, tidak nafsu makan. Dan Saat itu juga saya bertemu dengan teman saya yang salah satu anggota gerakan Islam Fundamentalis yang menentang Kapitalisme dan Komunisme, serta ingin menegakkan sariat Islam di Indonesia. entah mengapa tiba-tiba saja saya sangat setuju dengan semua dogtrin yang di berikan oleh salah seorang pimpinan tersebut kepada saya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk ikut dalam gerakan mereka, yakni menegakkan sariat Islam di Indonesia.

Pada saat itu banyak terjadi perubahan dalam diri saya, saya merasa ada jalan keluar dari semua ini, yakni dengan jihat, merubah kondisi jahiliah menjadi kondisi yang Islam. Saat itu juga saya rajin melakukan sholat 5 waktu. namun di ujung jalan saya kembali menemui banyak problematika kembali.

Yakni; 1) Intoleransi mereka terhadap agama lain, termasuk sesama Islam yang dikatakan kafir, sehingga orang tua, saudara, teman adalah kafir bagi mereka, bila tidak termasuk dalam komunitas kita.

2) Pernikahan antara sesama jemaat, dalam hal ini, mereka mengatakan adalah sebuah kewajiban, dan, bila menikah di luar jemaat adalah haram hukumnya.

Berdasarkan kedua hal tersebut ada banyak hal yang saya dapati, salah satunya adalah pembodohan terhadap umat atau jemaat, dan bila kita bertanya, tidak boleh atau dilarang, dan harus diam, karena hukum bertanya terhadap kedua hal tersebut adalah haram.

Pada akhirnya saya kembali mengalami banyak problematika keagamaan, dan pada akhirnya saya banyak membaca, dan mendapatkan sebuah kesimpulan akhir yakni bahwa ; Pada dasarnya agama itu intoleransi adanya. Dan adalah dusta bila ada yang mengatakan tidak!!

Dan selang waktu itu akhirnya saya untuk menjadi seorang yang ateis…

BAGIAN II (Pencarian)

Pembuktian adanya Tuhan

(ternyata Tuhan tidak ada)

Keraguan akan kebenaran adanya Tuhan. Keraguan saya bukan sebuah keraguan yang tanpa didasari suatu motif atau alasan tertentu. Alasan saya di karenakan saya harus-lah terlebih dahulu membuktikan segala sesuatu yang saya ragukan tersebut. Sehingga, kredibilitasnya dapat terjamin.

Ada banyak hal yang meragukan diri saya sebagai seorang ateis, diantaranya adalah; intoleransi kaum fundamentalis agama, banyaknya kejahatan yang dilakukan oleh kaum borjuis, kapitalis, pemerintah, hingga kebohongan para ulama kepada publik. Hal lain yang meragukan saya akan eksistensi ketuhanan adalah karena begitu banyak penderitaan di dunia ini yang semakin hari –bagi saya- semakin mereduksir ke-Maha-an peribadi Tuhan.

Pembuktian saya sebagai seorang ateis bukan-lah seperti yang dilontarkan oleh kaum teis terhadap kaum ateis tentang –mengenai- pembuktian tiadanya Tuhan, melainkan justru datang dari permintaan pembuktian kaum ateis terhadap teis tentang keberadaan Tuhan. Sehingga dapat dikatakan ke-ateis saya lebih kepada religiuitas seorang manusia.

Memang kelihatannya seperti seorang pengikut suatu agama tertentu atau kepercayaan tertentu di tanah jawa atau tempat lainnya, hal ini mungkin dikarenakan saya sendiri dibesarkan pada keluarga kepercayaan (sebuah aliran kepecayan terhadap Tuhan di tanah jawa). Sehingga, dalam keateisan saya tersebut terpengaruh oleh latar belakang keagamaan saya tersebut.

Sekian lama saya melakukan perjalanan panjang yang harus menghabiskan semua waktu dan tenaga saya. Sebuah perjalanan spiritualitas, sebuah perjalanan pencarian adanya Tuhan menurut setiap klam agama di Dunia. Saya masuk ke rumah-rumah Tuhan yang di bangun oleh manusia seperti hanya masjid, gereja, dan pure, namun tak satu-pun Tuhan disana. Saya coba berbicara dengan Tuhan-Tuhan mereka yang mereka bangun dari tanah, kayu, tulisan, dan batu, namun tak satu-pun dari mereka dapat berbicara. Lalu saya coba untuk berbicara dengan Tuhan yang tak kasat mata, namun yang saya temukan justru saya berbicara dengan diri saya sendiri. Kemudian, saya coba melakukan setiap ritual keagamaan kaum teis yang mereka anggap dapat mendekatkan diri mereka dengan Tuhan, namun tak satu-pun Tuhan ada di sekitar kita.

Sepanjang perjalanan saya, saya selalu berusaha untuk dapat berbuat baik dengan orang-orang disekeliling saya. Siapapun mereka tanpa memandang ras, suku, gender, apalagi agama. Namun, sepanjang saya melakukan banyak kebaikan tersebut justru saya tidak mendapati dimana keberadaan Ke-Maha Baik-an Tuhan tersebut. Hal ini didasarkan karena esensi saya-lah secara pribadi eksis.

Kemudian, saat saya sedang dilanda sebuah religuitas yang sangat tinggi, dimana saya telah masuk dalam salah satu aliran Islam garis keras, saya selalu melakukan semua amal saleh saya, beribadah dengan tekun, dan menjauhi semua larangan Tuhan. Namun, semakin saya menjadi religius saya malah mendapati ketidak beresan dalam iman mereka, sahabat-sahabat saya disana. Mereka berubah menjadi lebih fundamentalis, merasa benar sendiri, dan melihat sekitarnya seperti sebuah kesalahan, atau orang berdosa, dan binatang.

Pada saat itu saya selalu bersabar dengan berdoa semoga Allah secepat mungkin menunjukkan petunjuk-Nya kepada saya dan kepada rekan-rekan saya bahwa saya memang tidak bersalah, dan saya merasa damai atas iman saya tersebut.

Suatu saat saat saya harus tergugah melihat sebuah pengalaman nyata disekeliling kita akan penderitaan para korban tsunami, pemerkosaan, dan pembunuhan. Disini saya mencoba bertanya bukan tentang masalah ada atau tiadanya Tuhan melainkan mempertanyakan tentang maksud penciptaan dari penderitaan tersebut.

Pada akhirnya, saya merasa yakin. Apa yang selama ini saya ragukan ternyata benar adanya. Ternyata Tuhan memang tidak ada!

BAGIAN III (Akhir Perjalanan)

TUHAN

Entah sejak kapan konsep akan sesuatu yang memiliki kekuatan besar di luar diri manusia ini ada. Namun yang jelas sejarah telah membuktikan bahwa sesuatu yang manusia anggap kramat itu senyata-nyatanya kini telah kehilangan karismanya di hadapan manusia rasional di akhir jaman ini.

Tuhan, God, Allah, Dewa, atau Gusti Pengeran, tak lagi hidup didalam kehidupan manusia rasional tersebut. Namun benarkah Tuhan benar-benar telah mati? Mengingat siapapun Dia (Tuhan) tak mungkin dengan begitu saja bisa musnah dalam kehidupan manusia. Kenapa?

Well, mari kita mulai dengan sejarah awal kemunculan Tuhan! Ide awal kemunculan Tuhan ditengarai oleh sebuah simbolisme yang oleh Freud, -salah seorang tokoh psikoanalisis- sebagai Totemisme. Totemisme atau sebuah perlambang yang di berikan oleh manusia primitif yang hidup di jaman purba.

Totemisme yang merupakan perlambang perasaan bersalah manusia primitif terhadap seorang bapa atau seorang tetua suku atau klien. Seorang bapa yang dianggap sebagai pelindung namun sekalipun dibenci dan ditakuti. Dibenci karena telah menguasai semua wanita yang ada dalam komunitas tersebut, dan ditakuti karena bapa tersebut akan membunuh dan mengebiri mereka jika mengambil wanita-wanita tersebut.

Kebencian dan ketakutan ini yang pada akhirnya membuat mereka membunuh bapa mereka secara beramai-ramai untuk dapat mengambil wanita-wanita yang dikuasai oleh bapa mereka. Pembunuhan terhadap bapa yang pada akhirnya mereka sesali karena mereka tidak lagi memiliki seorang pelindung dalam kelompok mereka. Perasaan besalah ini-lah yang pada akhirnya mengantarkan mereka dalam mengkultuskan figur bapa tersebut kedalam sebuah perlambang binatang totem. Dengan melakukan sublimasi (pemindahan) terhadap binatang sebagai substitusi tersebut, perasaan bersalah dapat ditarik dari bapa dan diarahkan kepada binatang itu. Binatang yang merupakan hasil dari sublimasi tersebut pada akhirnya dikeramatkan, dengan tidak boleh dibunuh dan dimakan. Tetapi, sekali setahun binatang totem itu disembelih dan dimakan secara ritual untuk menjamin keberlangsungan kekuatan klien atau suku tersebut. Dan disinilah awal sebuah kepercayaan.

Sekian lama manusia berevolusi, Selama itu pula kepercayaan religius mereka berevolusi. Setelah animisme tersebut perkembangan religius manusia berkembang menjadi politeisme dan monoteisme. Sebuah kepercayaan terhadap banyak Tuhan atau Dewa-dewa, dan hanya satu Tuhan.

Sekian lama saya menemui kaum ateis di Indonesia ini, namun pada dasarnya mereka masih mau menyembah Tuhan -pada akhirnya nanti-, jika Tuhan tersebut pada akhirnya akan menunjukkan wujud dan eksistensinya pada manusia.

Meski dengan beberapa persyaratan yang mereka ajukan terhadapnya -konsep Tuhan- tersebut. Rasionalitas terhadap konsepsi Ketuhanan, menjadi salah satu yang diajukan oleh kaum ateis tersebut. Namun, benarkah dengan demikian berarti mereka benar-benar seorang ateis?

Namun, bila saya ingin melihat sebuah kenyataan hubungan antara Tuhan dengan Manusia, saya memiliki sebuah tanggapan bahwa manusia tidak mungkin dapat meninggalkan Tuhan dalam diri mereka. Mengapa?

Pertama, dengan menelaah teori Freud dan Durkheim, bahwa konsep awal Tuhan berasal dari totemisme di jaman nenek moyang mereka. Kedua, dengan mengutip teori Jung (salah sorang tokoh psikoanalisis), yang mengatakan bahwa, alam tak sadar manusia bukan hanya merupakan produk masa kanak-kanak, melainkan juga merupakan produk nenek moyang mereka (yang berupa ingatan laten yang diwariskan dari masa lampau leluhur mereka), yang oleh Jung disebut sebagai ketidaksadaran kolektif.

Ketidaksadaran kolektif merupakan sisa psikis perkembangan evolusi manusia, sisa yang menumpuk sebagai akibat dari pengalaman-pengalaman yang berulang selama banyak generasi. Termasuk Tuhan, bagi saya jika dengan menelaah teori Jung tersebut dengan dihubungkan dengan teori Freud dan Durkheim, maka Tuhan merupakan produk dari nenek moyang manusia yang di wariskan dari generasi kegenerasi. Sehingga, manusia tidak mungkin mampu meninggalkan Tuhan mereka, yang selama ini bersemayam di alam tak sadar manusia.

Hal ini dapat dilihat dan dibuktikan dengan dua kajian saya, yakni; pertama adalah dengan kembali mengutip kembali teori Freud, yakni bahwa Tuhan merupakan sebuah infantilisme manusia dimasa kanak-kanaknya. Dimana, ketika manusia mulai beranjak dewasa figur ayah sebagai seorang pelindung, tersublimasikan kepada Tuhan. Jadi Tuhan merupakan figur ayah manusia dewasa.

Yang kedua adalah, dengan mengutip pernyataan Dr. Rahmachandran, bahwa Tuhan ada dalam otak manusia, yakni tepatnya pada otak sebelah kanan atau pada medulla spinalis.

Dengan berdasarkan kedua pernyataan tokoh diatas maka peneliti mengatakan bahwa, manusia tidaklah mungkin dapat terlepas dari warisan leluhur mereka yang telah tersimpan dalam alam tak sadar mereka dan telah terbentuk dalam otak kanan mereka.

Sebuah warisan leluhur yang senyatanyatanya bukan saja ras, warna kulit, bahasa, kebiasaan, sifat-sifat, melainkan juga kepercayaan terhadap Yang Maha tersebut. Oleh karena itu-lah kita sering kali menemui bahwa sannya para ahli science mengatakan percaya terhadap Tuhan namun dalam bahasa mereka yang berbeda, yakni dengan sebutan Sesuatu Yang Agung atau Sang Kreasionis.

Lalu, bagaimana jalan keluar dari semua ini?

Sudah jelas, bahwa Tuhan merupakan sebuah warisan leluhur manusia, yang sebenarnya merupakan ketakutan manusia dalam menghadapi kehidupan, sehingga diperlukannya sebuah figur yang mampu melindungi mereka, yakni Tuhan. Dan jika memang benar begitu adanya haruskah kita tetap memelihara warisan leluhur kita tersebut? Haruskah sebagai seorang ateis kita tetap menyisakan ruang bagi Tuhan yang senyata-nyatanya merupakan produk warisan leluhur kita?

Sebagai seorang ateis saya akan mengatakan tidak! Tidak ada ruang sedikitpun bagi Tuhan baik dalam alam tak sadar maupun dalam otak kiri saya. Kecuali jika, kita -kaum ateis- masih mau tertipu oleh warisan leluhur kita tersebut!

SELESAI


Tanggapan

  1. hi hi hi. Postingan anda cukup menyentuh hati.

    Saya cuma pengin ngomentari sedikit ( semoga bener sedikit ya ? hi hi hi)

    @Pada dasarnya agama itu intoleransi adanya. Dan adalah dusta bila ada yang metakan tidak!!

    Kata-kata ini jelas menunjukkan kalo anda salah. mengapa ? Ya karena ternyata atheis juga terbukti nggak toleran. Anda maksa banget kan : Masak orang yang berbeda dengan anda, anda pastikan pasti berdusta. Hi hi hi.

    Itu namanya anda atheis yang kurang toleran.

    Bahwa ada penganut agama yang tidak toleran itu benar. Tapi ada juga yang toleran. Sama juga ada atheis yang toleran, ada juga yang senengnya maksa seperti anda. hi Hi hi…..

    Oke deh. SALAM HANGAT.

  2. Setelah usia 16 tahun, Ayah saya mulai mengajari saya apa itu Tuhan, hanya saja melalui fersi beliau yakni kejawen. Sejak usia 16 – 19 tahun saya tidak makan hewan, dan hanya makan nasi dan sayuran.
    =============================

    jangan, makan tumbuhan pula, karena
    mereka juga memiliki ruh kehidupan sebagaimana
    hewan dan manusia…
    jika dia tak memiliki ruh kehidupan, maka dia tak mungkin hidup,
    bukankah ruh itu sesuatu yang ghaib,….

    he..he..he..he..

  3. @leovepassword : thank’s atas masukannya.. Ya, anda benar, mungkin akan lebih baik bagi kami bila kami bisa jadi lebih tpleran terhadap teis…. Hehehe…. anda memang orang yang kritis…. Salut.. salut… Maaf juga kalau selama ini perkataan saya menyinggung anda…. Hehe,,,

    Salam hangat…. huek…. sory itu cuman buat cewek aku doang…hehehe…(bercanda nech)..

    salam doang aja…..

    Thank’s

  4. adi isa : jangan, makan tumbuhan pula, karena
    mereka juga memiliki ruh kehidupan sebagaimana
    hewan dan manusia…
    jika dia tak memiliki ruh kehidupan, maka dia tak mungkin hidup,
    bukankah ruh itu sesuatu yang ghaib,….

    yang dimaksud dalam ajaran kami yang bernyawa, bukan yang memiliki ruh…Tumbuhan tidak bernyawa tetapi memiliki ruh… jadi boleh…

    Thank’s atas komen nya

  5. Boleh saya bertanya mengapa Anda mengutamakan kata “jema’at” dan bukan “jama’ah”? Menjadi ateis itu sama susahnya dengan menjadi teis bagi saya. Anyway, terserah orang sih, terkadang kita memilih sesuatu tanpa suatu alasan apapun. Yah mutusin begitu aja.

  6. Wah.. ya.. ya.. apa yah bedanya jema’at sama jema’ah?? maaf saya sendiri mungkin blon begitu memahami kalau keduanya ada atau tidak ada perbedaannya??

    kalau anda mengatakan menjadi ateis sama susahnya sama menjadi teis ya ada benarnya, tapi bagi teis itu bila mereka mengalami perjalanan spiritual dan sering mengalami guncangan, cobaan, atau memikirkan tentang keagamaan, manusia, dan Ketuhanan… Tapi kalau cuman untuk teis yang asal memegang teguh agama dari orang tua, dan asal melaksanakan ibadah tanpa ada pertanyaan dalam diri mereka mengapa saya beragama A yang dari orut dan bukan B… maka itu bisa saya katakan tidak sama dengan ateis..

    Kami menjadi ateis, bukan sekedar pilihan, apalagi tanpa di pertimbangkan terlebih dahulu.. kami banyak mengalami kegoncangan jiwa, tentang semua fenomena yang ada ini…

    Jadi menjadi ateis sama susahnya dengan menjadi teis, yang kami maksudkan adalah, menjadi ateispun memeras pikiran dan jiwa kita dalam memahami fenomena keilahian juga, hanya saja kami berseberangan dengan teis, karena pada final-nya kami memutuskan Tuhan tidak ada….

    Jadi begitu sekiranya penjelasan saya…

    Terima kasih atas komentar anda

    Salam untuk Anda

  7. Jadi menjadi ateis sama susahnya dengan menjadi teis, yang kami maksudkan adalah, menjadi ateispun memeras pikiran dan jiwa kita dalam memahami fenomena keilahian juga, hanya saja kami berseberangan dengan teis, karena pada final-nya kami memutuskan Tuhan tidak ada….
    =============================================
    sebab tuhan ada karena ada manusia.
    maka tuhan tidak ada, karena manusia membuatnya tidak ada,
    jika tuhan ada, itu karena manusia membuatnya ada

    makanya kata mas gentole,
    anda sama pusingnya dan susahnya .hehehehehe
    sedang saya,…..enuak tenan…hehehehe

  8. mungkin bagi saya yah…
    tapi buat teman 2 saya, mereka sudah tidak terlalu memusingkan diri mereka dalam menghayati existensi keilahian, karena dalam diri mereka telah mendapati Tuhan memang tidak ada, jadi tidak ada lagi yang harus di pikirkan masalah keilahian tersebut….

  9. oh gitu..
    syukurlah…

  10. Iya makanya ada banyak macam penganut ateisme. Kalo aku pikir yah, keduanya gak perlu berbenturan. Kawan saya ada yang ateis, ada yang agnostik, ada yang sangat relijius. Hidup yah jalan begitu aja.

  11. Ya, sepakat nech?? hehe… toleransi ada 3 yakni:
    1) Toleransi seagama, tetapi lain mazhab, atau aliran
    2) Toleransi antar agama atau antar teis
    3) Toleransi antara teis dengan ateis

  12. ‘lam knal….!

    Kisah hidup anda bikin saya inget sama kisah saya dulu. Saya juga ga jauh beda sama anda. Saya dulu atheis, walaupun cuma sebentar. Sampai suatu saat ada yang bikin saya jatuh cinta sama islam. Sampe sekarang niy….saya masih ga nyangka kalo saya akhirnya jadi aktivis dakwah…^-^

  13. Ya, syukurlah kalau itu adalah pilihan terbaik anda..
    Karena bukan menjadi ateis atau teis – nya yang baik bagi manusia..

    Melainkan seberapa jauh kita akan konsekuensi dengan pilihan kita tersebut..

    Karena, banyak orang ngaku teis tetapi masih melakukan hal yang di larang oleh Tuhannya, seperti korupsi misalnya..

    Tetapi ada juga ateis yang jauh dari humanisme dan eksistensialisme ateisme, misalnya membunuh, memaksakan kehendak, dsb..

    Begitu

    Thank’s atas komentasnya

  14. ap yg mnjadi pilihan hidupmu adalah jalanmu..
    jalanku adlah jalanku

    jika anda bertanya ttg TUHAN,,
    jwbny ada dlm diri anda sendiri
    lewat mngenal diri

    hingga ajal mnjmput
    saat itulah tak akan anda pungkiri

    TUHAN itu ada

    BUKAN masalah org bragama masi mlanggar ap yg TUHANny larang..tapi manusia tidak akan pernah bisa lepas dari kekuasaanNYA barang sedetik pun.

  15. Kl ada orang nyang ade agamanye sedekah ame orang lain maksudnya kan ade spy masuk sorga,memberi tapi minta imbalan ame yg diatas.Tp kl ada ate is sedekah/berbuat baik doi ngak dapat imbalan apa2 karena kage ada sorga.Jadi sebenernya yg hatinya bener2 tulus hati ya orang ATEIS

  16. @indra
    Hehe….
    Yup..yup….

    Silahkan saja juka anda berfikiran demikian…

  17. wong ateis, saya rasa pilihan dan keyakinanmu salah. maaf , saya agak keras. dan saya memang tak bisa menoleransi orang yang sudah melewati batas. menurut hemat saya, anda harus kembali ke jalan yang benar yaitu ISLAM, islam adalah agama penuh kasih sayang. Islam adalah jalan yang lurus dan sudah merupakan kewajiban kita untuk menaati ajaran ini. ini juga sudah sesuai dengan fitrah kita.
    orang ateis, kamu jangan sampai menyebarkan ajaran kamu ini. jika kamu sampai melakukan itu , maka kamu akan berhadapan dengan saya.
    saya memang bukan anggota fpi, tapi saya akan selalu menegakkan amar maruf nahi munkar di indonesia. bila kemungkaran tak dapat dicegah dengan tangan maka hendaklah dengan ucapan.
    kunjungi blog saya di
    urangsyuhada.blogspot.com

  18. Selamat ya…, terbebas dari beban.

    Kiranya dalam perjalanan ini, boleh bertemu JALAN yang benar.

    Salam.

  19. @kuro
    sabar mas… hehehe….

    @imankristen
    Yup-Yup

  20. [...] Kecuali jika, kita -kaum ateis- masih mau tertipu oleh warisan leluhur kita tersebut! Sumber : http://wong2ateis.wordpress.com/2008/08/05/persaksian-saya-ateis/ page_revision: 1, last_edited: 1226655290|%e %b %Y, %H:%M %Z (%O ago) edittags history files [...]

  21. aku islam…karena aku pilih….kamu ateis…karna kamu pilih…mari kita saling dukung!? SETUJU!!??

  22. Hehe..ada2 aja org yg ngaku atheis (maap bro ane agak nyentil ‘halus’ neh). Setiap agama ga ada yg mengajarkan kejahatan,melainkan kebaikan dan keikhlasan..so jika kaum atheis mengatakan kalo Tuhan itu tdk ada,itu adalah suatu pernyataan yg sangat2 salah!! Kenapa? bukankah ajaran kebaikan dan hal2 apa yg termasuk dlm kejahatan/keburukan itu dibawa oleh Nabi-Nabi dan Rasul dari dahulu kala. Dan para Nabi dan Rasul ini adalah para utusan ALLAH yg diutus utk menyampaikan dan menyempurnakan akhlaq manusia. Jika skrg ini bnyk terdpt kejahatan itu bukan salah dari ALLAH (nauzubillah jika ada yg mengatakan itu) tp dari manusia itu sendiri krn manusia diberikan nafsu oleh ALLAH. Knp manusia memiliki nafsu? Sebagaimana yg telah dijanjikan ALLAH, bahwa Surga dan Neraka itu ada utk smua ciptaan-NYA,maka dgn ‘nafsu’ manusia bisa memilih dimana pilihannya. Coba pelajari pengertian ‘Gaib Nisbi’ dan ‘Gaib Mutlak’ (maap gw ga bisa jelasin,soalnya takut ada yg lebih pinter..hehe)

  23. @Ridho
    Ya, anda memang benar manusialah yang melakukan kejahatan bukan Tuhan. Lalu adari datangnya nafsu manusia? kenapa Tuhan menciptakannya?? bukankah jika Tuhan tidak menciptakan nafsu pada manusia maka manusia akan melakukan hal yang baik saja?? atau apakah Tuhan memang tidak bisa menciptakannya??? atau itu hanya omong kosong Muhammad doang tentang Tuhan dan nafsu pada manusia???

    silahkan anda renungkan!!

  24. apa yg slama ini saya perjuangkan, saya bela mati2an, ternyata hampa,semu.
    ada org2 yg ngaku bertuhan, tapi yg mreka lakuin hina bgt. slg bunuh, adu domba, mencuri, memperkosa, merampas hak2 org lain, kejam deh. ada yg bilang bhwa mreka melakukan itu smua krna nafsu, trus gimana dgn org yg menjadi korban? org2 yg hak hidupnya dirampas atas nama tuhan? yg lain cuma mikirin diri sendiri aja, g ad yg mau tau. mreka smua merasa lebih dri yg lain, jadi mreka bbuat smaunya aja, gak mikirin hak dan prasaan org lain. mereka punya gak sih hati nurani?
    ada gak sih rasa persaudaraan?
    bukankah agama2 mreka mngajarkan kebaikan?
    ada gak sih tuhan? klo ada, knapa dia biarin smua itu terjadi?

    salam damai.

  25. wong ateis, menurut anda bagaimana nasib manusia stelah mengalami kematian?

  26. Hiks, Hai Bos adit, Mister DF lagi ngapain sih? Lagi semedi ya? Dia yang semedi, ngapain aku terus yang ditanyai banyak orang ya? HI Hi Hi. Bisa apes gw lama-lama.

    Hoi Mister DF : kalo semedi nggak usah lama-lama. Jenggotku saja dari hitam putih lalu sekarang sudah hitam lagi. Eh hasil semedimu belum kamu perlihatken juga.

    Kapan posting baru bos adit ???

  27. sejujurnya yang saya simak, anda bukan tidak percaya kepada Tuhan tetapi tidak percaya kepada AGAMA. Dalam agama ada banyak dogma dan kepercayaan tanpa dasar yang dipaksakan, dan sistem sosial kita tidak memberi tempat untuk protes terhadap agama apalagi tidak beragama. Saya justru melihat anda mulai mempelajari dan mendekati Tuhan dengan cara lain. Damai dari Bali

  28. @Agung
    Bukannya mitologi tuhan itu lahirnya dari agama??? Tuhan yang mana, sapa yang lahir dan ada tanpa adanya mitologi dari terlebih dahulu dari agama???

  29. @Budi
    1. Tanpa agama manusia bisa saja mengenal kebaikan. hal ini nanti akan saya tulis dalam artikel saya berikutnya. Namun, disini jelas, bahkan dengan agama malah tidak membawa kebaikan, Jelaskan bagaimana sesuatu itu bisa dikatakan baik, jika seseorang seperti Ibrahim yang mau memenggal anaknya ishak atau ismail untuk tanda iman dia kepada tuhan??? jelas tidak mungkin bukan, apalagi jika ibrahim hidup di jaman sekarang pasti terkena ancaman hukuman pidana dan di pastikan dia menderita schizophrenia (gila).

    2. Tuhan, jelas tidak ada. jelas bukan, dengan banyaknya peperangan antra agama. Tiap agama mengklaim satu benar yang lain salah. Tuhan yang satu benar, yang lain salah..

    Jika ada orang mengatakan Tuhan itu satu tapi banyak nama… haha… tanyakan sama dia mang tuhan itu punya kepribadian ganda yah… La wong ngenali ke umatnya kok beda 2??

    3. nasib manusia setelah mengelami kematian, jelas tidak ada…

    karena kita kembali pada keadaan nol. yakni sebuah jasad renik, atau atom2 kecil. seperti itulah, jadi kembali keadaan nol atau semula.

  30. @lovepassword
    haha… bos… dia lagi ada loh sebelum sampean ada.. hahaha… cek di http://www.ateisindonesia.wikidot.com

  31. Saya tidak tahu apakah ini mempunyai kualitas yang baik bagi kesadaran anda, tetapi kalaupun tidak bukan masalah yang penting ada niat bagi kita semua untuk mendiskusikan dengan hasrat sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran, mungkin artikel tambahan ini dapat disimak tentang pembuktian keberadaan Tuhan di http://seremonia.net dengan judul THERE IS GOD

  32. Loh, ada blog-nya juga ternyata.

    Dawkins bless you.

  33. @wong2ateis, bisa anda jelaskan ‘proses’ kematian menurut paham anda? Sampai anda mengatakan ‘kita kembali menjadi nol’ dan kenapa jasad kita bisa hidup kemudian mati dan kenapa manusia tdk bisa menentukan kpn dia mati (ini kalo anda menjawab berhubungan dgn ‘atom2′ lg,bukankah manusia ‘punya’ ilmu kimia yg bisa nentuin usia atom)? Awas jwbnnya jgn ngelantur dan ngambang (kyk dawkins gtu…wkwkwk) serta harus sesuai dgn paham anda sbg atheis.ok?huehehe


Beri tanggapan

Your response:

Kategori