The Genius of Charles Darwin
Last Updated: 12:01am BST 02/08/2008
Richard Dawkins tells Andrew Pettie how Charles Darwin went from a man bound for the clergy to the writer of one of the world’s most controversial books – On the Origin of Species
It is almost 150 years since Charles Darwin published On the Origin of Species, a treatise which, according to Professor Richard Dawkins, contained ‘the most powerful idea ever to occur to a human mind: the idea of evolution by natural selection’. It would probably startle Darwin to know that, despite overwhelming scientific evidence in his theory’s favour, only four out of 10 Britons currently believe it to be true. Dawkins, a fearless crusader for rationalism and the author of The God Delusion and The Selfish Gene, sounds baffled by this statistic.
‘It’s bewildering,’ he says, ‘and an indictment of our education system. Most children are taught evolution at the age of 15. It should be taught much earlier than that because it’s so incredibly important and interesting: it’s the explanation of why we all exist.’
n the opening episode of Dawkins’s three-part documentary series, The Genius of Charles Darwin, he asks a group of schoolchildren what they think of the theory of evolution. Many insist, despite Dawkins’s patient explanation of the scientific evidence to the contrary, that the world was created in the manner described by the Bible or the Qur’an. ‘I found it rather depressing,’ says Dawkins, ‘when the children said, “It says this in my holy book and so this is what I believe.” I asked them why they believed a holy book rather than the evidence and they said it was the way they’d been brought up, as though that in itself was a self-evidently knockdown argument.’
Although Dawkins doesn’t think that believing in evolution precludes people from believing in God, he says that ‘a full understanding of the world of evolution does tend to push against religion.’
This was certainly the case in Darwin’s own life. Before his life-changing voyage working as a naturalist aboard HMS Beagle, Darwin was destined for a career in the clergy. What he saw during the Beagle’s five-year journey round the globe to chart the coastline of South America, which began in 1831, forced Darwin to question biblical creationism and, in turn, his own faith.
‘Darwin didn’t have a sudden moment when he lost his faith,’ says Dawkins, ‘it gradually dropped away, partly because of personal tragedies in his life which made him feel that there wasn’t a benevolent god. But there was also an awareness that natural selection was an extremely cruel and ruthless process. He once said that he found it hard to conceive how a beneficent creator could have knowingly created a species of wasp with the habit of laying its eggs inside the living bodies of caterpillars, which then hatch out and eat the caterpillar while it’s still alive.’
Thankfully, mankind is now largely protected from the most callous extremes of natural selection. ‘We live a rather featherbedded life,’ says Dawkins. ‘We have clothes, we have central heating, we have a roof over our heads. Most of our ancient ancestors’ contemporaries died young, without reproducing. So it’s true that the cutting edge of natural selection has largely been withdrawn. But I would hate to say that this was a bad thing; I’m all for doctors and medical science and so on.’
In the second episode, Dawkins examines some infamous attempts to use Darwin’s theory of natural selection to justify social engineering among humans. ‘There was a time in the first part of the 20th century when it was fashionable for certain intellectuals to bemoan the deterioration of the human race but that all came to an end with Hitler, because people saw what ghastly results can follow from social Darwinism.’
Ever since he first published On the Origin of Species, Darwin’s theories have sparked great controversy and, at times, conflict. However the man himself couldn’t have been less bullish about his discoveries. ‘Darwin was an immensely gentle man, as well as a gentleman,’ says Dawkins. ‘He felt wounded by adverse criticism of his work but was not at all combative. He left the fighting for his theory to others.’
Darwin could barely have found a more committed and persuasive advocate of his work than Dawkins. As well his polemical documentary series, Dawkins is currently hard at work on a new book, to be published next year, which outlines the hard evidence for Darwin’s theory.
‘I’ve written eight books on evolution,’ he says, ‘but none of them has laid out the positive evidence for it. I begin with the domestication of animals, as Darwin did, because it’s a pretty powerful demonstration of what natural selection can achieve. When you consider that a Pekinese, a poodle and a Yorkshire terrier are all modified wolves, and that those modifications have taken place in a matter of centuries, think what can be achieved in a million years, 10 million years or 100 million years.’
· The Genius of Charles Darwin is on Channel 4 on Monday at 8.00pm
http://www.telegraph.co.uk/arts/main.jhtml?xml=/arts/2008/08/02/nosplit/bvtvsunfeat02.xml
17 Komentar »
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- Mei 2009 (1)
- Februari 2009 (3)
- September 2008 (2)
- Agustus 2008 (3)
- Juli 2008 (2)
- Juni 2008 (13)
- September 2007 (1)
- Agustus 2007 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS


@WONG2ATEIS : Hik hik, saya lagi belum pengin ngomentari postingan anda.
Gini bos :
Saya lagi diskusi, debat kusir sama Hapitri masalah agama dan atheis. Kalo menurutku kayaknya pemeluk agama makin banyak. Kalo menurut Hapitri kayaknya atheis tambah banyak.
Ini sih sebenarnya bukan debat yang terlalu penting. Cuma iseng2 saja.
Lha Daeng fatah memberi saran, suruh tanya ke dikau. kata Si Daeng, wong2ateis pernah melakukan riset masalah itu. hik hik.
Gimana kalo hasil riset kamu itu kamu posting ? Bukan apa-apa sih. Cuma pengin tahu saja. Kalo fokus kamu cuma Indonesia saja ya nggak papalah. Sekedar gambaran gicu lho.
@lovepassword
Hallo Friend… Oke gak ppa lagian saya sendiri kemungkinan akan memperbaiki semua blog yang ada disini.. karena semuanya morat-marit.. hehe.. maklum baru aja bisa buat blog nech..
Berkenaan dengan riset saya sebenarnya saya tidak melakukan survey tentang berapa populasi ateis baik di dunia atau di Indonesia.. tetapi lebih fokus ke arah permasalahan keberadaan-nya.. Eksistensi kaum ateis di Indonesia. Hal ini karena menjadi ateis (dalam wacana masyarakat, atau tokoh2 di Indonesia) selalu di hubungkan dengan komunisme.. Nah disini saya melakukan riset bahwa ateisme tidak selalu identik dengan komunisme atau marxisme..
Yang kedua berkenaan dengan menjadi ateis atau teis (menurut masyarakat atau ahli 2) merupakan suatu pilihan… tetapi setelah saya melakukan riset ternyata tidak sesimpel atau semudah itu…
bagaimana hasilnya.. maaf saya tidak bisa menulisnya di blog saya sekarang, karena berkenaan dengan hak cipta saya sebagai peneliti fenomena ini…
Jadi kemungkinan akan saya tulis setelah penulisan riset ini selesai dan sudah di acc oleh para penguji nanti.
Sebagai informasinya mungkin sekitar awal januari saya baru bisa menulisnya di blog ini.
Thank’s atas komentar dan masukan anda.. Senang bisa menjadi teman diskusi, debat, di blog saya dan pak daeng…
Salam
note : melakukan riset berapa jumlah populasi ateis di Indonesia cukup menarik juga untuk saya kembangkan dalam penelitian saya, ide yang baik… thank’s
Oke deh. Thanx
SALAM
Yup-Yup
Salam
Cukup! Harap saudara hentikan permainan kata kata yang hanya mengandalkan retorika itu.Yang saudara kemukakan itu tidak mempunyai kredibilitas ilmiah.Sebagai referensi amat lemah karena tidak ada literatur yang jelas yang menjadi sumber kutipan.Kesimpulan tidak didasari data yang konkret.Tidak bisa dipertanggungjawabkan!
Ah, saya belum nonton yang ini, padahal memang lebih suka dengan tulisan Dawkins yang berkenaan dengan biologi; ketimbang dengan yang menyoal homeopathy misalnya.
Kapan-kapan saya bajak dari YouTube.
@ rival
Hmm? Bukannya tulisan ini hanya salinan dari Telegraph, dengan menyertakan link pula?
Eh si Daeng Fatah tuh lagi ngapain sih. Pake nyanyi kapan2 segala? Itu tuh lagunya Koes Plus kan ?
SALAM Iya buat kamu dan juga si Daeng Narcis itu.
hehe… iya tuh… gak tahu juga…
Dah facebooknya dah tak buat. Sampe gak pesenku ke kamu ?
Temanya Richard dawkins ya..ok
Richard Dawkins, seorang pendukung tergigih Darwinisme, telah lama menjelaskan penciptaan sempurna alam semesta berdasarkan teori evolusi, yang belakangan ini menderita keruntuhan di tingkat dunia. Namun, di tulisan-tulisan dan wawancara-wawancaranya akhir-akhir ini, Dawkins telah mulai menyatakan bahwa “kehidupan tidak dapat terbentuk melalui kebetulan.” Tidaklah masuk akal dan bukanlah nalar sehat untuk mendukung evolusi di satu sisi dan menyatakan bahwa kehidupan tidak dapat terjadi melalui kebetulan di sisi yang lain. Ini dikarenakan kenyataan bahwa menurut teori evolusi, yang didukung Dawkins, keberadaan kehidupan didasarkan seluruhnya pada kebetulan-kebetulan acak.
Dawkins telah menyadari bahwa ia tidak dapat menemukan jalan keluar dengan menggunakan rangkaian penjelasan yang disandarkan pada kebetulan. Tapi, ia kini berada di kebuntuan alur berpikir karena pada dasarnya ia menyatakan bahwa “evolusi tidak dapat dihasilkan oleh kebetulan-kebetulan, tapi terjadi melalui kebetulan-kebetulan.” Apa yang sepatutnya ia sadari adalah bahwa hasutan atau tipu muslihat kata-kata tidak lagi bekerja.
Jika Dawkins tulus meyakini teori ini, kaum kreasionis ingin mengundangnya ke Turki, atau sebaliknya kreasionis bisa datang ke Inggris untuk bertukar pendapat. Di hadapan kamera, Dawkins sepatutnya menjelaskan ratusan pertanyaan, beberapa saja di antaranya disebutkan di bawah ini. Dengan demikian para kreasionis, juga khalayak ramai, akan mampu mendengarkan apa yang ia katakan. Sudah jelas, tidaklah baik untuk terlibat dalam acara-acara sepihak. Selain itu, dengan sikap seperti itu Dawkins hanya menipu dirinya sendiri. Para kreasionis mengirim 4 jilid pertama buku Atlas Penciptaan kepada tuan Dawkins, dan silakan ia memeriksa foto-foto fosil di dalamnya yang tidak mengalami perubahan sama sekali selama ratusan juta tahun. Dan silakan ia menjelaskan fosil-fosil itu menurut penjelasan evolusi berdasarkan alur berpikirnya yang banyak disebarluaskan ke khalayak umum – jika ia mampu!
Penelitian-penelitian arkeologis telah menggali dan menemukan lebih dari seratus juta fosil, yang membuktikan bahwa bentuk-bentuk kehidupan diciptakan dari ketiadaan. Lagi, tidak ada satu pun fosil peralihan yang mendukung teori evolusi. Jika Dawkins jujur dengan pernyataannya, ia seharusnya membawa satu fosil peralihan dan mengumumkan kepada masyarakat umum sebagai “bentuk peralihan!”
Kemungkinan terbentuknya sebuah protein fungsional secara acak adalah 1 berbanding 10 pangkat 950 — sebuah kemustahilan nyata. (Dalam matematika, angka peluang yang lebih kecil dari 1 per 10 pangkat 50 diterima sebagai “kemungkinan nol.”) Jika Dawkins jujur, ia seharusnya menunjukkan sejumlah protein yang terbentuk melalui kebetulan atau melalui cara-cara yang ia dukung. Persilakan Dawkins menjelaskan kepada kita bagaimana ia dapat menjelaskan kepada kita tentang asal-usul kehidupan dengan penjelasan evolusi, sementara satu protein tunggal saja – yang merupakan batu bata pembangun kehidupan – tidak dapat terbentuk melalui kebetulan!
Silakan Dawkins menjelaskan kepada kita bagaimana seluruh gambar-gambar berwarna, cemerlang, tiga dimensi dan benar-benar jelas, singkatnya kehidupan itu sendiri, dapat terbentuk di dalam otak manusia yang gelap gulita dan melihat gambar ini di dalam otak!
Silakan Dawkins menjelaskan kepada kita dengan penjelasan evolusi bagaimana percakapan, musik dan semua suara lainnya terbentuk di dalam otak yang kedap suara; yang mendengarkan dan menikmati suara-suara ini, yang memahami maknanya, yang memikirkannya secara sadar dan yang menjawab balik suara-suara ini!
Silakan Dawkins mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama kepada kami, dan ijinkan kami mengemukakan jawaban kami. Ijinkan kami memberikan bukti-bukti kami, dan silakan ia mengemukakan bukti-bukti yang ia miliki – jika ia punya. Kemudian biarkan masyarakat umum memutuskan pihak manakah yang benar. Kami menghendaki agar masyarakat umum secara luas tahu betapa Darwinisme adalah teori palsu dan betapa teori ini merupakan penipuan terbesar sepanjang sejarah dunia. Kami yakin penuh bahwa masanya segera tiba ketika orang-orang akan tertawa, seraya bertanya pada diri sendiri “Bagaimana dulu kita bisa mempercayai teori ini?” Sebentar lagi, orang-orang akan bertanya-tanya dengan keheranan bagaimana mereka bisa tertipu olehnya. Bahkan ini telah terjadi, dengan angka dan tingkat yang terus semakin meningkat. Jajak pendapat di tingkat dunia mengungkap data statistik yang membuktikan keadaan ini.
Darwinisme, yang dipertahankan agar tetap hidup dengan melancarkan hasutan dan propaganda, telah terbantahkan di segala sisinya dan kini telah diakui luas bahwa tidaklah mungkin lagi untuk mempertahankan Darwinisme melalui hasutan. Pernyataan Dawkins baru-baru ini dengan mengikuti alur berpikir bahwa “evolusi tidak bisa dihasilkan dari kebetulan-kebetulan, tapi telah terjadi melalui kebetulan-kebetulan” tidak lain hanya sebuah kemalangan berpikir yang menggelikan.
bay de wey, takutnya Richard Dawkins jadi Richard Downskill
he..he..
kangen ma si Daeng euy…
#Bruu kita tunggu di facebook…
nick name aku : wong bebas merdeka
di sana ada komen dari daeng!!
@Bruu
ADA PESAN DARI DAENG :
# Bruu
Thanks bruu
Komen lu panjang amat
sementara gue buru-buru nih
jadi gue sanggah aja paragraf pertama
Selanjutnya kesini aja
http://faktaevolusi.blogspot.com/
“Richard Dawkins, seorang pendukung tergigih Darwinisme, telah lama menjelaskan penciptaan sempurna alam semesta berdasarkan teori evolusi, yang belakangan ini menderita keruntuhan di tingkat dunia. Namun, di tulisan-tulisan dan wawancara-wawancaranya akhir-akhir ini, Dawkins telah mulai menyatakan bahwa “kehidupan tidak dapat terbentuk melalui kebetulan.” Tidaklah masuk akal dan bukanlah nalar sehat untuk mendukung evolusi di satu sisi dan menyatakan bahwa kehidupan tidak dapat terjadi melalui kebetulan di sisi yang lain. Ini dikarenakan kenyataan bahwa menurut teori evolusi, yang didukung Dawkins, keberadaan kehidupan didasarkan seluruhnya pada kebetulan-kebetulan acak.”
Sanggahan saya sederhana
Evolusi tidak bekerja secara acak saja, tapi ada seleksi alam. Sayangnya anda sepertinya
1. Tidak paham mengenai gaya2 yang bekerja pada evolusi, atau
2. Saudara sengaja menghilangkan faktor seleksi alam dari bahasan anda untuk membuat seolah2 evolusi hanya bertopang pada kebetulan. Ini straw man argument. Anda mengklaim sesuatu yang tidak dikatakan seseorang, lalu menyerang klaim tersebut dan menyatakan diri menang. Itu istilahnya “pengecut”
Terima kasih
#daeng
1.sama..gw jg tiap hari buru2 bro..
2.benar2 sanggahan sederhana..hehe..
Seleksi alam, yang dikemukakan Darwin sebagai mekanisme evolusi, ternyata tidak berkemampuan mendorong terjadinya evolusi. Seleksi alam tidak dapat membentuk spesies baru.
Sebagaimana kemustahilan munculnya kehidupan di muka bumi secara kebetulan, adalah tidak mungkin bagi spesies makhluk hidup untuk merubah diri mereka sendiri menjadi spesies lain. Sebab, tidak ada kekuatan yang mampu mendorong terjadinya peristiwa seperti ini di alam. Apa yang kita sebut alam adalah kumpulan dari atom-atom yang tidak memiliki kesadaran dan akal yang menyusun tanah, bebatuan, udara, air dan segala sesuatu yang lain. Tumpukan benda mati ini tidak memiliki kekuatan untuk merubah makhluk tak bertulang belakang (invertebrata) menjadi seekor ikan, kemudian menjadikannya naik ke darat dan berubah menjadi seekor reptil, dan kemudian merubahnya menjadi seekor burung dan menjadikannya mampu terbang, dan akhirnya menjadikannya seorang manusia.
Darwin mengemukakan sebuah gagasan sebagai “mekanisme evolusi”: Seleksi Alam. Seleksi Alam membahas seputar gagasan bahwa makhluk hidup paling kuat yang paling mampu menyesuaikan diri dengan tempat hidup mereka akan tetap hidup. Misalnya, dalam sekelompok rusa yang dimangsa oleh binatang buas, rusa yang mampu lari lebih cepat akan bertahan hidup. Tetapi, tentu saja mekanisme seperti ini tidak akan menyebabkan rusa berevolusi – ini tidak akan merubah mereka menjadi spesies lain seperti gajah, misalnya.
Para evolusionis seringkali mengutip “Ngengat Revolusi Industri” pada abad ke-18 di Inggris sebagai “contoh nyata evolusi melalui seleksi alam”. Menurut kisahnya, di sekitar permulaan Revolusi Industri di Inggris, warna kulit batang pohon di sekitar kota Manchester sangatlah terang. Karenanya, ngengat berwarna gelap yang hinggap pada pohon-pohon tersebut mudah terlihat sehingga mudah menjadi mangsa bagi burung-burung dan, akibatnya, jumlahnya menjadi berkurang. Namun, ketika kulit batang pohon menjadi gelap akibat polusi yang disebabkan oleh revolusi industri, kini ngengat berwarna terang menjadi yang paling diburu dan jumlah populasi ngengat berwarna gelap meningkat. Ini bukanlah contoh “evolusi”, sebab seleksi alam tidak memunculkan suatu spesies baru yang sebelumnya tidak pernah ada di alam. Ngengat berwarna gelap telah ada sebelum revolusi industri. Di sini, kita dapat melihat ngengat-ngengat yang dikoleksi oleh seorang kolektor sebelum dan sesudah revolusi industri. Yang terjadi hanyalah perubahan jumlah populasi spesies-spesies ngengat yang telah ada. Ngengat tidak mendapatkan organ atau ciri fisik baru yang mengarah pada suatu “perubahan dalam spesies mereka”.
Ketika Darwin mengusulkan “seleksi alam menyebabkan spesies berevolusi”, ia sebenarnya terilhami hipotesis Lamarck tentang “penurunan sifat dapatan”. Menurut Lamarck, leher jerapah memanjang saat mencoba mencapai cabang pohon yang lebih tinggi untuk mendapatkan makanan. Akan tetapi, di abad ke-20 diketahui bahwa Lamarckisme adalah pemikiran yang keliru.
Tidak ada secuil pun bukti pengamatan yang menunjukkan seleksi alam pernah menyebabkan makhluk hidup mana pun untuk berevolusi. Evolu-sionis ternama yang juga pakar paleontologi asal Inggris, Colin Patterson, mengakui kenyataan ini:
Di alam, individu-individu lemah termusnahkan dan tergantikan oleh individu-individu kuat. Namun, fenomena ini tidak menyebabkan kemunculan spesies baru. Bahkan jika hewan-hewan liar memburu rusa lemah dan lamban selama milyaran tahun, rusa tidak akan pernah berubah menjadi spesies lain.
Tak seorang pun pernah memunculkan satu spesies melalui mekanisme seleksi alam. Tak seorang pun pernah hampirmelakukannya, dan kebanyakan perdebatan dalam neo-Darwinisme sekarang adalah seputar masalah ini.
Teori evolusi Darwin melalui proses seleksi alam bersandar pada anggapan bahwa seluruh makhluk hidup melakukan perjuangan sengit untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Pengamatan ternyata menunjukkan masyarakat hewan memperlihatkan beragam contoh mengagumkan tentang perilaku pengorbanan diri dan tolong-menolong. Lembu liar dewasa yang berbaris melingkar untuk melindungi keturunan muda mereka hanyalah satu dari sekian banyak contoh pengorbanan diri di alam.
Seleksi alam hanya mengeliminir individu-individu suatu spesies yang cacat, lemah atau tidak mampu beradaptasi dengan habitatnya. Mekanisme ini tidak dapat menghasilkan spesies baru, informasi genetis baru, atau organ-organ baru. Dengan demikian, seleksi alam tidak mampu menyebabkan apa pun berevolusi. Darwin menerima kenyataan ini dengan mengatakan: “Seleksi alam tidak dapat melakukan apa pun sampai variasi-variasi menguntungkan berkebetulan terjadi”. Karena itulah neo-Darwinisme harus mengangkat mutasi sejajar dengan seleksi alam sebagai “penyebab perubahan-perubahan menguntungkan”. Akan tetapi, seperti yang akan kita lihat, mutasi hanya dapat men-jadi “penyebab perubahan-perubahan merugikan”.
Mumkin aja, orang2 di sini terpengaruh Harun Yahya, padahalia gak ilmiah banget.
OK… gagasan bahwa seakan-akan mengeritik Richard Dawkins berarti menggugurkan Ateisme, adalah tidak tepat ( seperti misalnya ‘dukungan” dawkins terhadap kritik evolusi), karena ateisme tidak identik dengan Dawkins sebagaimana menyamakan marxisme dengan Stalin atau zionisme dengan yahudi, dan Islam dengan Imam Samudra….
Ateisme tidak goncang misalnya, hanya dengan pertobatan Dawkins menjadi penginjil….
#daeng
1.sama..gw jg tiap hari buru2 bro..
2.benar2 sanggahan sederhana..hehe..
Seleksi alam, yang dikemukakan Darwin sebagai mekanisme evolusi, ternyata tidak berkemampuan mendorong terjadinya evolusi. Seleksi alam tidak dapat membentuk spesies baru.
Sebagaimana kemustahilan munculnya kehidupan di muka bumi secara kebetulan, adalah tidak mungkin bagi spesies makhluk hidup untuk merubah diri mereka sendiri menjadi spesies lain. Sebab, tidak ada kekuatan yang mampu mendorong terjadinya peristiwa seperti ini di alam. Apa yang kita sebut alam adalah kumpulan dari atom-atom yang tidak memiliki kesadaran dan akal yang menyusun tanah, bebatuan, udara, air dan segala sesuatu yang lain. Tumpukan benda mati ini tidak memiliki kekuatan untuk merubah makhluk tak bertulang belakang (invertebrata) menjadi seekor ikan, kemudian menjadikannya naik ke darat dan berubah menjadi seekor reptil, dan kemudian merubahnya menjadi seekor burung dan menjadikannya mampu terbang, dan akhirnya menjadikannya seorang manusia.
Darwin mengemukakan sebuah gagasan sebagai “mekanisme evolusi”: Seleksi Alam. Seleksi Alam membahas seputar gagasan bahwa makhluk hidup paling kuat yang paling mampu menyesuaikan diri dengan tempat hidup mereka akan tetap hidup. Misalnya, dalam sekelompok rusa yang dimangsa oleh binatang buas, rusa yang mampu lari lebih cepat akan bertahan hidup. Tetapi, tentu saja mekanisme seperti ini tidak akan menyebabkan rusa berevolusi – ini tidak akan merubah mereka menjadi spesies lain seperti gajah, misalnya.
Para evolusionis seringkali mengutip “Ngengat Revolusi Industri” pada abad ke-18 di Inggris sebagai “contoh nyata evolusi melalui seleksi alam”. Menurut kisahnya, di sekitar permulaan Revolusi Industri di Inggris, warna kulit batang pohon di sekitar kota Manchester sangatlah terang. Karenanya, ngengat berwarna gelap yang hinggap pada pohon-pohon tersebut mudah terlihat sehingga mudah menjadi mangsa bagi burung-burung dan, akibatnya, jumlahnya menjadi berkurang. Namun, ketika kulit batang pohon menjadi gelap akibat polusi yang disebabkan oleh revolusi industri, kini ngengat berwarna terang menjadi yang paling diburu dan jumlah populasi ngengat berwarna gelap meningkat. Ini bukanlah contoh “evolusi”, sebab seleksi alam tidak memunculkan suatu spesies baru yang sebelumnya tidak pernah ada di alam. Ngengat berwarna gelap telah ada sebelum revolusi industri. Di sini, kita dapat melihat ngengat-ngengat yang dikoleksi oleh seorang kolektor sebelum dan sesudah revolusi industri. Yang terjadi hanyalah perubahan jumlah populasi spesies-spesies ngengat yang telah ada. Ngengat tidak mendapatkan organ atau ciri fisik baru yang mengarah pada suatu “perubahan dalam spesies mereka”.
Ketika Darwin mengusulkan “seleksi alam menyebabkan spesies berevolusi”, ia sebenarnya terilhami hipotesis Lamarck tentang “penurunan sifat dapatan”. Menurut Lamarck, leher jerapah memanjang saat mencoba mencapai cabang pohon yang lebih tinggi untuk mendapatkan makanan. Akan tetapi, di abad ke-20 diketahui bahwa Lamarckisme adalah pemikiran yang keliru.
Tidak ada secuil pun bukti pengamatan yang menunjukkan seleksi alam pernah menyebabkan makhluk hidup mana pun untuk berevolusi. Evolu-sionis ternama yang juga pakar paleontologi asal Inggris, Colin Patterson, mengakui kenyataan ini:
Di alam, individu-individu lemah termusnahkan dan tergantikan oleh individu-individu kuat. Namun, fenomena ini tidak menyebabkan kemunculan spesies baru. Bahkan jika hewan-hewan liar memburu rusa lemah dan lamban selama milyaran tahun, rusa tidak akan pernah berubah menjadi spesies lain.
Tak seorang pun pernah memunculkan satu spesies melalui mekanisme seleksi alam. Tak seorang pun pernah hampirmelakukannya, dan kebanyakan perdebatan dalam neo-Darwinisme sekarang adalah seputar masalah ini.
Teori evolusi Darwin melalui proses seleksi alam bersandar pada anggapan bahwa seluruh makhluk hidup melakukan perjuangan sengit untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Pengamatan ternyata menunjukkan masyarakat hewan memperlihatkan beragam contoh mengagumkan tentang perilaku pengorbanan diri dan tolong-menolong. Lembu liar dewasa yang berbaris melingkar untuk melindungi keturunan muda mereka hanyalah satu dari sekian banyak contoh pengorbanan diri di alam.
Seleksi alam hanya mengeliminir individu-individu suatu spesies yang cacat, lemah atau tidak mampu beradaptasi dengan habitatnya. Mekanisme ini tidak dapat menghasilkan spesies baru, informasi genetis baru, atau organ-organ baru. Dengan demikian, seleksi alam tidak mampu menyebabkan apa pun berevolusi. Darwin menerima kenyataan ini dengan mengatakan: “Seleksi alam tidak dapat melakukan apa pun sampai variasi-variasi menguntungkan berkebetulan terjadi”. Karena itulah neo-Darwinisme harus mengangkat mutasi sejajar dengan seleksi alam sebagai “penyebab perubahan-perubahan menguntungkan”. Akan tetapi, seperti yang akan kita lihat, mutasi hanya dapat men-jadi “penyebab perubahan-perubahan merugikan”.
#daeng
1.sama..gw jg tiap hari buru2 bro..
2.benar2 sanggahan sederhana..hehe..
Seleksi alam, yang dikemukakan Darwin sebagai mekanisme evolusi, ternyata tidak berkemampuan mendorong terjadinya evolusi. Seleksi alam tidak dapat membentuk spesies baru.
Sebagaimana kemustahilan munculnya kehidupan di muka bumi secara kebetulan, adalah tidak mungkin bagi spesies makhluk hidup untuk merubah diri mereka sendiri menjadi spesies lain. Sebab, tidak ada kekuatan yang mampu mendorong terjadinya peristiwa seperti ini di alam. Apa yang kita sebut alam adalah kumpulan dari atom-atom yang tidak memiliki kesadaran dan akal yang menyusun tanah, bebatuan, udara, air dan segala sesuatu yang lain. Tumpukan benda mati ini tidak memiliki kekuatan untuk merubah makhluk tak bertulang belakang (invertebrata) menjadi seekor ikan, kemudian menjadikannya naik ke darat dan berubah menjadi seekor reptil, dan kemudian merubahnya menjadi seekor burung dan menjadikannya mampu terbang, dan akhirnya menjadikannya seorang manusia.
Darwin mengemukakan sebuah gagasan sebagai “mekanisme evolusi”: Seleksi Alam. Seleksi Alam membahas seputar gagasan bahwa makhluk hidup paling kuat yang paling mampu menyesuaikan diri dengan tempat hidup mereka akan tetap hidup. Misalnya, dalam sekelompok rusa yang dimangsa oleh binatang buas, rusa yang mampu lari lebih cepat akan bertahan hidup. Tetapi, tentu saja mekanisme seperti ini tidak akan menyebabkan rusa berevolusi – ini tidak akan merubah mereka menjadi spesies lain seperti gajah, misalnya.
Para evolusionis seringkali mengutip “Ngengat Revolusi Industri” pada abad ke-18 di Inggris sebagai “contoh nyata evolusi melalui seleksi alam”. Menurut kisahnya, di sekitar permulaan Revolusi Industri di Inggris, warna kulit batang pohon di sekitar kota Manchester sangatlah terang. Karenanya, ngengat berwarna gelap yang hinggap pada pohon-pohon tersebut mudah terlihat sehingga mudah menjadi mangsa bagi burung-burung dan, akibatnya, jumlahnya menjadi berkurang. Namun, ketika kulit batang pohon menjadi gelap akibat polusi yang disebabkan oleh revolusi industri, kini ngengat berwarna terang menjadi yang paling diburu dan jumlah populasi ngengat berwarna gelap meningkat. Ini bukanlah contoh “evolusi”, sebab seleksi alam tidak memunculkan suatu spesies baru yang sebelumnya tidak pernah ada di alam. Ngengat berwarna gelap telah ada sebelum revolusi industri. Di sini, kita dapat melihat ngengat-ngengat yang dikoleksi oleh seorang kolektor sebelum dan sesudah revolusi industri. Yang terjadi hanyalah perubahan jumlah populasi spesies-spesies ngengat yang telah ada. Ngengat tidak mendapatkan organ atau ciri fisik baru yang mengarah pada suatu “perubahan dalam spesies mereka”.
Ketika Darwin mengusulkan “seleksi alam menyebabkan spesies berevolusi”, ia sebenarnya terilhami hipotesis Lamarck tentang “penurunan sifat dapatan”. Menurut Lamarck, leher jerapah memanjang saat mencoba mencapai cabang pohon yang lebih tinggi untuk mendapatkan makanan. Akan tetapi, di abad ke-20 diketahui bahwa Lamarckisme adalah pemikiran yang keliru.
Tidak ada secuil pun bukti pengamatan yang menunjukkan seleksi alam pernah menyebabkan makhluk hidup mana pun untuk berevolusi. Evolu-sionis ternama yang juga pakar paleontologi asal Inggris, Colin Patterson, mengakui kenyataan ini:
Di alam, individu-individu lemah termusnahkan dan tergantikan oleh individu-individu kuat. Namun, fenomena ini tidak menyebabkan kemunculan spesies baru. Bahkan jika hewan-hewan liar memburu rusa lemah dan lamban selama milyaran tahun, rusa tidak akan pernah berubah menjadi spesies lain.
Tak seorang pun pernah memunculkan satu spesies melalui mekanisme seleksi alam. Tak seorang pun pernah hampirmelakukannya, dan kebanyakan perdebatan dalam neo-Darwinisme sekarang adalah seputar masalah ini.
Teori evolusi Darwin melalui proses seleksi alam bersandar pada anggapan bahwa seluruh makhluk hidup melakukan perjuangan sengit untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Pengamatan ternyata menunjukkan masyarakat hewan memperlihatkan beragam contoh mengagumkan tentang perilaku pengorbanan diri dan tolong-menolong. Lembu liar dewasa yang berbaris melingkar untuk melindungi keturunan muda mereka hanyalah satu dari sekian banyak contoh pengorbanan diri di alam.
Seleksi alam hanya mengeliminir individu-individu suatu spesies yang cacat, lemah atau tidak mampu beradaptasi dengan habitatnya. Mekanisme ini tidak dapat menghasilkan spesies baru, informasi genetis baru, atau organ-organ baru. Dengan demikian, seleksi alam tidak mampu menyebabkan apa pun berevolusi. Darwin menerima kenyataan ini dengan mengatakan: “Seleksi alam tidak dapat melakukan apa pun sampai variasi-variasi menguntungkan berkebetulan terjadi”. Karena itulah neo-Darwinisme harus mengangkat mutasi sejajar dengan seleksi alam sebagai “penyebab perubahan-perubahan menguntungkan”. Akan tetapi, seperti yang akan kita lihat, mutasi hanya dapat men-jadi “penyebab perubahan-perubahan merugikan”.
@Ahmed
memang tidak tepat megeneralisai, tapi pada kasus ateisme dawnskin disini masalah pada tolak ukurnya, sebab dawkins merupakan salah satu dedengkot evolusi ateis setelah darwin (klo tidak salah).”Dawkins kan telah mencapai tangga evolusi otak yang tinggi dibanding para pengikutnya yang setia”, nah kalo dimisalkan dengan kasus (misalkan)pertobatan dawkin menjadi penginjil…apakah tidak betentangan dengan teori itu sendiri? karena para pengikutnya malah sebaliknya..
sori postingan sampe 3 kali, soalnya dan 3 hari susah masuknya bro!.