Penderitaan, itulah sumber utama keluhan manusia. Tapi apa yang akan terjadi jika diantara kita sebagai manusia justru merasakan kebahagiaan di tengah penderitaan kita?
Jawabannya adalah kita telah mengalami sebuah gejala kejiwaan yang secara psikologis dikatakan sebagai masokis. Masokisme dalam DSM IV dikelompokkan sebagai penyakit jiwa dimana penderitanya akan merasakan bahagia atau senang dalam melakukan hubungan seks atau libido atau libido dia akan meningkat bila pasangan dia terlebih dahulu menyakiti dia secara fisik atau psikis.
Lalu apa hubungannya dengan tulisan saya ini??
Pertama tentunya saya akan menjabarkan betapa masyarakat kita –Indonesia- saat ini sedang mengalami suatu gejala ini, yakni masokisme.
Apa buktinya?
Pembuktian, hemm… ya.. saya akan membuktikan dengan memberikan beberapa kasus nyata dalam masyarakat kita saat ini. Seperti yang kita ketahui, Negara ini telah mengalami krisis moneter lebih dari dasawarsa ini. Sejak 1997 rakyat mengalami banyak penderitaan, tingginya nilai tukar rupiah yang disusul dengan meningkatnya hrga pangan, sandang, dan papan. Ditambah dengan meningkatnya harga minyak yang akan semakin menjerat rakyat dalam memenuhi kebutuhan bahan pokok mereka. Mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, seolah menggambarkan betapa rakyat atau masyarakat Indonesia ini menderita.
Namun benarkah demikian adanya?
Tidak, para alim ulama di tambah dengan ulasan pidato para pemimpin Negara ini dengan mengatakan agar rakyat mampu bersabar, ditambah ulasan atau himbauan, atau ilusi para pemuka agama atau ulama bahwa Tuhan mencintai umatnya yang bersabar, seolah menghapuskan semua luka mereka.
Namun, benarkah dengan demikian berarti kita dalam kondisi psikis yang lebih baik?
Jawabannya adalah tidak! Justru kebalikannya! Rakyat Indonesia dalam kondisi penyakit kejiwaan yang di sebut dengan masokisme, Ya kita semua dalam kondisi seperti itu.
Lalu adakah pengaruhnya terhadap kehidupan keseharian mereka?
Jelas ada, pengaruh dari keadaan ini bila terus dibiarkan akan menjadikan mereka kaum psikopat. Suatu kondisi kejiwaan manusia diman mereka merasa puas ketika melihat orang lain menderita.
Kenapa demikian?
Saya hanya dapat memberikan contoh praktisnya saja, yakni bahwa sebuah pertanyaan yang banyak muncul di benak bangsa, pengamat social, hukum, wartawan, dll, yakni kenapa di Indonesia marak terjadi kerusuhan?
Benarkah hanya factor ekonomi?
Ya benar, namun lebih tepatnya karena kondisi seperti yang saya jelaskan diatas.
Secara psikoanalisa mungkin ini dikarenakan terjadinya sublimasi dari kesenangan terhadap penderitaan yang kita hadapi menjadi kesenangan melihat orang lain menderita. Oleh sebab itulah, banyak orag yang merasa senang bila memukuli seorang copet, seraya berkata mampus..loe.. dasar copet….
Lalu bagai mana dengan jalan keluarnya?
Jalan keluar dari itu semua adalah;
1. Rakyat harus sadar bahwa dirinya dalam keadaan menderita.
2. Rakyat harus sadar kalau penderitaan itu menyakitkat.
3. Rakyat harus sadar akibat pengeruh negative dari penderitaan tersebut, bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi orang lain.
4. Rakyat harus mau merobah keadaan dirinya.
Lalu adakah jaminan bila dengan semua ini terlaksana maka manusia akan berubah? Ya.. silakan kita coba.!!
Mas0kis.,
Menarik brat.,
1 kata yg bru
taw gara2 bca new m0on.,tapi kenapa q ngerasa kurang yeaw?
Oleh: nDaH_nDaH on Mei 20, 2009
at 6:45 am
penderitaan sejatinya tidak ada
dia hanya rekontruksi pikiran
buah dari bentukan peradaban
yg merasa kepala pecah itu sakit hanyalah mereka yg terikut isu itu sakit
lebi2 krismon bukanlah penderitaan
apa yg orag2 kira sebagi derita aku atau kawanku atau anda atau yg lain bisa anggap sebaliknya
ini hanya soal pilihan merasakan
dan pilihan anggapan
menganggap isi hidup sbg derita adalah cermin kekerdilan jiwa
ambilah diriku dan aku akan semakin ada
maka dimana lagi derita?
hanya jiwa2 lemah tmpta semayam derita
Oleh: bukan cebol on Oktober 8, 2009
at 8:38 pm