Ini adalah jawaban atas setiap pertanyaan dan anggapan; bahkan pemikiran baik itu kaum teis maupun kaum sekuler hingga ateis, yakni memandang bahwa ada satu kepercayaan atau yang jauh dari yang namanya kekerasan. Kepercayaan atau Agama tersebut adalah Agama Budha. Agama Budha adalah sebuah agama yang mengedepankan adanya toleransi. Bahkan dalam agama Budha wacana Ketuhanan tidak dijadikan sebagai salah satu yang terpenting, melainkan manusialah yang lebih penting untuk dibicarakan.
Namun demikian, benarkah pemikiran seperti itu bisa di benarkan?? Bahkan lebih dari itu kelayakan adanya agama seperti budha di dunia haruskah tetap di terima eksistensinya di dunia?? Bagi saya (secara pribadi) TIDAK!!! Berikut adalah salah satu dari statement saya tersebut:
Dalam sejarahnya, Agama Budha lahir dari pemikiran seorang putra mahkota bernama Siddharta yang lahir pada tahun 623 SM. Pangeran Siddharta adalah putra dari raja dari sebuah kerajaan kecil di kaki pengunungan Himalaya, sekarang perbatasan Nepal-India. Awal pemikiran religius Pangeran dimulai ketika dia melihat empat unsur diluar istananya yang meliputi orang tua, orang sakit, orang mati, dan petapa suci. Realitas tersebut telah mengguncang hati Pangeran untuk menemukan makna kehidupan, yang pada akhirnya Pangeran memutuskan untuk meninggalkan istana dan memilih untuk bertapa demi menjadi Budha yang berarti ’yang sadar’ atau ’yang tercerahkan’. Dalam pengalamannya inilah yang kemudian di ajarkan kepada pengikutnya bahwa tiap kali ada kelahiran maka pasti akan ada tua, sakit, dan kematian. Sehingga untuk menghentikan semua ini, orang harus menghilangkan ’tanha’ yaitu nafsu yang rendah dan merupakan akar penderitaan manusia baik bagi kehidupan di bumi maupun bagi kelahiran yang berulang-ulang. Budha kemudian memberikan wejangan untuk bertahap menghilangkan ’tanha’, yakni menjalankan speritualitas yang disebut Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Jadi berdasarkan sejarah awal pemikiran dan adanya Agama Budha tersebut apa yang pantas untuk dipertanyakan???
Pertama adalah, bahwa sudah jelas bahwa Siddharta adalah seorang putra mahkota kerajaan. Lalu mengapa Ia meski menyepi dan bertapa dikala Ia melihat semua fenomena itu? Bukankah seharusnya sebagai seorang putra mahota ia justru seharusnya merubah kondisi tersebut? Yakni adanya penderitan seperti adanya sakit; maka selayaknyalah sang pangeran menyampaikan usul kepada ayahanda-nya. Ide seperti pemanggilan tabib-tabib yang lebih banyak untuk keluar istana dan mengobati rakyat?? Jika pangeran melihat orang2 tua, bukankah seharusnya pangeran semakin mengasihi mereka dengan memberikan pelayanan seperti panti jompo atau sebuah lingkungan yang baik buat mereka yang mendukung semua kebutuhan mereka baik secara pikologis dan biologis??
Tetapi sang pangeran tidak melakukan hal tersebut, Ia malah lari dari realitas kerajaan Dia. Dan ketika Ia kembali Ia malah mengajarkan sebuah ilusi kepada rakyatnya. Yakni Ilusi tentang makna yang berada di balik atau belakang penderitaan atau samsara atau yang disebut dengan tanha, dan memberikan wejangan dengan bertapa dan menjalankan delapan jalan kebenaran, seperti berkata benar, berfikir benar, penghidupan, usaha yang benar, dll. Dan itu adalah sebuah pertanyaan kedua yang saya ajukan.
Memang, jika kita menilik buah pemikiran Budha ini adalah benar adanya. Namun, jika kita mau kaji ulang secara kritis ada apa di belakang maksud dari ajaran siddharta. Karena bisa jadi dalam pandangan saya bahwa sang pangeran ingin melindungi istana dari pemberontakan yang dilakukan oleh rakyatnya. Maka oleh sebab itulah maka kerajaan membuat sebuah scenario tentang pencerahan yang oleh anak mereka sang putra mahkota. Dengan tujuan yang sangat jelas yakni memberikan harapan fana kepada rakyatnya seperti kehidupan yang lebih baik esok setelah kematian, dan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah sebagai akibat perbuatan mereka di kehidupan sebelumnya. Bukankah jika kita mau membuka pikiran kita terhadap realitas yang dihadapkan sang pangeran itu meripakan sebuah alienasi diri rakyatnya. Sang pangeran telah menanamkan sebuah ilusi yang senyatanya seharusnya tidak diterima oleh rakyatnya. Memang, sangat disayangkan sang pangeran hidup di abad tersebut. Seandainya ia lahir di era sekarang, maka serta merta ajaran Ia pasti akan di tolak oleh kita yang berfikiran terbuka dan kritis bukan?? Cermatilah maka kalian akan mengert tulisan saya ini.
Jika kita melangkah pada 2 abad yang lalu yakni tepatnya pada era kehidupan Karl Marx, salah seorang pemikir filsafat adab ke-XIX, maka kita akan lebih dapat menerima apa yang telah dilakukan oleh Marx dalam membebaskan kaum buruh dan tani terhadap penderitaan yang dialami oleh mereka.
Tapi, Marx tidak melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Siddharta. Marx memilih untuk memberontak. Ia memilihat penderitaan sebagai realitas yang sedang dialami secara fakta oleh manusia. Maka tidak ada jalan lain selain merubahnya sekarang juga.
Dalam pandangan Marx sangatlah jelas, bahwa apa yang dilakukan oleh Sang Pangeran tidak lain adalah hanya membawa rakyatnya pada ketidak real-lan kehidupan. Sang Pangeran hanya membawa rakyatnya untuk lari dari penderitaan yang mereka hadapi untuk tunduk kepada samsara dan tanha yang berada di balik ketertundukan oleh ajaran dan diri pribadi dari Sang Pangeran Putra Raja mereka yang harus mereka patuhi.
Dalam pandangan Sang pangeran itu jelas berbeda dengan seorang tokoh revolusioner Jerman dan Prancis; Karl Marx. Marx, justru mendongkrak sendi-sendi alienasi yang terjadi oleh kaum buruh dan tani yang disebut dengan kaum proletar. Bagi Marx, justru kaum buruh dan tani harus bisa mengatasi diri mereka jika mereka ingin merubah keadaan mereka saat ini juga. Apa yang disebut dengan syurga; sebuah kehidupan yang layak dan lebih baik; adalah sebuah kebohongan para pemerintah dan pemilik tanah dan pemilik perusahaan yang di sebut dengan kaum kapitalistik melalui mulut para pendeta. Itu tidak lain dilakukan dengan tujuan agar pemerintah dan kaum kapitalis dapat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dan mengeksplorasi tenaga manusia sebesar-besarnya. Kaum buruh dan tani saat itu tak ubahnya rakyat pada kehidupan Sang Pangeran tersebut. Mereka menjadi robot yang dapat digerakkan oleh seorang pengajar keagamaan dan kebijaksanaan yang merupakan ilusi yang akan membawa manusia pada alienasi diri mereka. Hanya saja dalam masa Karl Marx, para buruh dan tani memberontak dan menginginkan peruahan dalam diri mereka, dengan mengambil alih hak-hak kehidupan mereka yang dikuasai oleh kaum kapitalis. Berbeda dengan rakyat Sang Pangeran yang tetap dalam kondisi teralienasi dengan membiarkan hak-hak mereka dikuasai oleh para penguasa saat itu; yakni Raja dan Kerabat serta para penghuni kerajaan Sang Pangeran.
Lalu yang menarik kenapa agama Budha lebih dapat diterima hingga saat ini?? Jelas bahwa dalam pandangan saya agama Budha mungkin aatau paling tidak akan saya setarakan (dalam arti sifat) dengan agama Para Sufi, dan Kejawen. Memang pada abad milinium ini dunia memang serta-merta lebih dapat menerima kehadiran agama yang bersifat toleran dan reflektif. Edward de Bono yang mengatakan bahwa pada tahun 3000 agama yang mampu bertahan hanyalah agama Budha.
Sepertinya agama yang dapat diterima oleh manusia adalah agama yang dengan santun dapat membawa manusia pada kebohongan dan ketololannya. Ini disebabkan karena adanya suatu normalitas yang di bangun oleh manusia dalam diri mereka untuk dapat beragama dan bertuhan yang secara santun. Yakni sebuah ilusi yang santun akan keberadaan tuhan. Dan kehidupan setelah kematiannya yang lebih baik.
Namun, apakah pada era abad ke XXX realitas tersebut dapat di terima? Bagi saya secara pribadi TIDAK. Agama-agama santun apapun bentuknya tidak dapat di terima dan di perbolehkan pada era tersebut. Oleh karenanya saya menggaungkan pernyataan pribadi saya yakni “Bunuh Sang Pangeran dan Kloning Karl Marx”. Bunuh dan musnahkan ajaran-ajaran Budha, dan representatifkan ajaran Marx tentang alienasi manusia.
Berhubung kamu lagi membahas agama Buddha : Agar ilmu agama Buddhamu tambah mahir, kamu boleh baca eBook karya temenku ini : http://www.ziddu.com/download/6742463/RATNAJADI_cb03.rar.html
Oleh: lovepassword on Oktober 10, 2009
at 11:43 am
Kalo kamu nulis agama Budha dengan d satu biasanya ntar kamu bisa diprotes sama umat Buddha lho
Oleh: lovepassword on Oktober 10, 2009
at 11:46 am
hahaha… yaya… namaku bukan adhiet tetapi addhiet…. hahahaha….
Oleh: adhiet on Oktober 20, 2009
at 10:47 am
@wong ateis
Ente tulis “Bunuh ajaran Budha, dan Kloning Marx”…..
Aduh gak usah kejem2 amat deh…..
Saya sih seneng aja liat ente bisa nerima Marxisme (atau sosialisme atau anarkisme)… hi..hi…
tapi kalo harus ngebasmi ajaran orang lain sih seperti kata John Lennon yang aties itu lo dalam lagunya Revolution, aku gak ikutan lo..
kenapa ???
Ketidaktoleransian kita terhadap yg lain hanya akan membawa darah en darah…
Ingat bagaimana sih ateis mao Tse Tung memperlakukan orang Budha ? apa jauh beda dengan pembantaian orang agama terhadap yg lain ????
Aku pikir ente cocok juga bersanding juga dengan Bush (kristen fundamentalis), M Top (fundamentalis Islam), zionisme (fundamentalis Yahudi), Wong Ateis (fundamentalis ateis)
Ntar, aku dengerin lagi ya Revolutionnya John Lennon
” You say , you want a revolution, well you know…”
Oleh: ahmed shahi kusuma on Oktober 22, 2009
at 7:43 am
@Pak Kusuma
Ide itu muncul dari dua arah!
1. Kaum ateis yang masih memuja budha sebagai aliternatif tuhan mereka.
2. Kaum budha yang memakai topeng ateis untuk menyudutkan kaum teis lain sepeerti islam dan kristen.
Pak… sampean itu ya mbok jangan langsung men-cap-orang toh… hehehe…. belajarlah jadi bijak toh… lawong sampean orang filsafat…. thank’s pak….
Oleh: adhiet on Oktober 22, 2009
at 10:01 am
Buddha itu bukan Tuhan bos. lagian kalo maksud kamu mempertuhankan gak bisa juga dong Buddha yang kamu tembaki. Yang dipertuhankan ateiis kalo menurutku sih Richard Dawkins ( mringis mode sambil garuk-garuk)
Oleh: lovepassword on Oktober 22, 2009
at 2:51 pm
Tuhan yang saya maksudkan adalah bukan budha secara personal tetapi ajarannya itu…. mungkin saya memang salah mengetik oke saya akui, dan saya harap kamu tahu maksud saya… jangan seperti kusuma yang tolol itu….
Mengenai ateis dan ateisme kita sudah banyak diskusikan bukan??? Saya tidak fanatik dengan ateis… itu sebabnya dalam fb saya menggunakan wong bebas merdeka… beberapa rekan di fb sudah mengetahuinya dan saya tidak perlu lagi menulis disini. Gak penting….
Oleh: addhiet on Oktober 24, 2009
at 9:43 am
@wong ateis
“Oleh karenanya saya menggaungkan pernyataan pribadi saya yakni “Bunuh Sang Pangeran dan Kloning Karl Marx”. Bunuh dan musnahkan ajaran-ajaran Budha, dan representatifkan ajaran Marx tentang alienasi manusia.”
Ini kan kata sampeyan ya…..?
Bukan saya lo, cuma aku ulangi saja…
Ateis bebas berpikir sambil siap2 gulung yg lain..hi..hi..
Ente nih ateis sungguhan atau Anti Tuhan, beda lo ya… ?
kalo orang ateis sih yg aku tau , Pak Michael Neumann
http://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Neumann
kehidupan memang kejam dan terasa tidak adil, tapi setidaknya kalo kita memang rela jadi bangsa ham yang memang dikutuk oleh Tuhan , lalu kenapa ???
Ha..ha…ha
Oleh: ahmed shahi kusuma on Oktober 22, 2009
at 10:38 am
@Kusuma
anda berkata “kalo orang ateis sih yg aku tau , Pak Michael Neumann”
Sekarang anda mengenal ateis seperti saya… wong ateis… addhiet… huihihi juga….
Oleh: addhiet on Oktober 22, 2009
at 10:41 am
Saya rasa saya mudenglah maksudmu :
Dari sudut pandang atheis, Buddha itu jelas bukan atheis . Intinya kamu kan ngomong gicu . Lha kamu nggak cocok karena kamu lihat seolah teman2 ateis kamu dekat dengan agama Buddha.
Saya rasa ada bagian-bagian yang perlu kamu lihat, tanpa perlu pake dongkol. Hi Hi hi .
Ngomong nggak pake ngebom masih bisa kan yah ??? ( bercanda bos bercanda …
)
Pertama : Umat Buddha sendiri juga nggak pernah mengklaim kalo mereka atheis lho . Mengapa ? Karena mereka juga masih percaya dengan hal-hal gaib , misalnya dewa, asura, dsb
Umat Buddha setahuku tidak pernah memakai topeng ateis. Sorri Mister Adit kamu sombong betul kalo mengatakan Buddha perlu memakai topeng atheis. Hi Hi Hi ( ssst jangan ngambek sama daku yah
)
Umat Buddha itu punya ajaran mereka sendiri. Lha kebetulan saja ada ajarannya yang dekat dengan ateis. tetapi tentu pada sisi lain ada juga sisi ajaran yang memang berbeda dengan pendapat ateis.
jadi tidak setiap kalo ada kemiripan lalu dengan gayanya salah satu pihak mengklaim , umat lain membajak pemikirannya dia.
Kalo menurutku sih umat Buddha tidak bertopeng atheis . Mereka punya ajaran sendiri. Kalian juga punya pendapat sendiri. Kalo ada sisi yang sama atau sisi yang berbeda tentu wajar-wajar saja.
INTINYA itu yah : Anak TK itu selalu sok tampil beda.
Lha faktanya adalah bila kita membandingkan dua hal, pasti akan kita temukan baik perbedaan maupun persamaan. Lha kita tidak perlu sok kebesaran gaya dengan mengakui ini.
Kalo ada perbedaan kita lihat dasar berpikir masing-masing tanpa perlu harus pake ngamuk-ngamuk . Kalo ada persamaan nggak usah sok gaya kemudian berpikir mereka membajak ide gw. Lha wong kamu bisa melihat ini dalam setiap hal kok. Kamu bandingken dua hal ya pasti ada sisi yang sama ada yang beda.
Dah itu saja.
Kalo kamu berpikir merdeka – Tentu saja memang kamu tidak boleh terlampau mudah tersinggung dengan pendapat-pendapat yang berbeda.
Kalo kamu masih ngamukan tidak perduli pahammu apa , entah kamu itu atheis atau nggak , ya kamu itu masuknya manusia dogmatis, fundamentalis. Ateis fundamentalis gicu lho.
Tetapi masih ada tapinya sebelum kamu ngamuk baca dulu yang ini yah : Kalo menurutku sih Artikelmu itu tujuannya adalah sebagai semacam otokritik untuk teman-teman atheismu.
Jadi memang tidak perlu dianalisa terlampau jauh seperti kamu pro kekerasan, ingin menghapus ajaran yang berbeda dsb.
Intinya kamu sedang menegaskan kepada semua atheis :
Kalian ini ngakunya atheis tetapi masih mabok spiritiualisme, ternyata tetap nggak bisa lepas sehingga nyari agama 2 alternatif. Kill Buddha dalam hatimu dong, masak atheis kok setengah hati maksudmu mungkin gini kan yah ?
Kalo dalam bahasa Islam, kamu menganggap teman2 ateismu tidak ateis secara kaffah gitu kan yah ?
Tetapi gaya hiperbolamu mungkin saja memang mengundang banyak salah pengertian malahan
Setuju Tidak setuju tetap thank you
SALAM
I lap yu phullllllll…….:)
Oleh: lovepassword on Oktober 25, 2009
at 4:25 am
@wong ateis….
Trima kasih atas kata2 anda kepada saya yg berkata :
Tolol ! san sebagai bukti ketololan saya,anda menyebut saya dan blogroll dalam blog ilmiah anda bersama blog idola anda faithfreedom ,berarti anda mengidolakan saya anda cap tolol !!!
Salam Yahweh ( Allah mengecewakan,ada Tuhan yg tidak mengecewakan)!
nah sekarang mau jadi ateis kaffah ya????
Tuh dah dicoba Enver Hoxha, ikutan aja langkahnya!!!
La kalo kamu gr kamu keren ateisme punya kebebasan berpikir (la apa ya????) Enver Hoxha membunuh banyak orang beragama di Albania karena terganggu tuhan! la apa ia kenal kebebasan???
Kalo ateis bermacam macam pikiran , la apa kaum teis juga seragam ????
Oleh: ahmed shahi kusuma on Oktober 26, 2009
at 6:04 am
Halo addhiet..
Gak sengaja stumble ke artikel ini.
Saya sendiri seorang umat Buddha (iya dengan 2 d
Menarik tulisan ini.
Memang saat itu pilihan pangeran siddharta adalah dengan meninggalkan kerajaan dan menjadi pertapa.
Bayangkan bila anda melihat pengemis dijalan, orang tua yang menderita, orang sekarat, orang yang meninggal.. pasti anda akan iba juga dan bila memiliki kasih sayang yang tinggi akan berpikir mengapa kita semua harus menderita.
Saya bukan Siddharta dan juga tidak akan bisa membuktikan bahwa yang dia lakukan dulu adalah bukan tipuan seperti yg ditulis diartikel anda.
Tapi saya cuma ingin mengatakan bahwa sangat mungkin bahwa ia memang ingin mencari obat dari sakit, tua, mati.
Sekaya dan berkuasanya anda tetap anda akan sakit, tua dan mati.. tidak bisa diobati dengan cara Marx
Argumen anda juga akan seperti argumen saya bahwa tidak ada bukti bahwa Siddharta melakukan penipuan pada rakyatnya..
Tapi saya punya bukti bahwa ajaran pangeran siddharta ini yang menjadi seorang Buddha membantu banyak manusia di bumi ini.
Dan sejarah telah membuktikan agama Buddha sebagai agama yang cinta damai dan membawa banyak orang kepada kebahagian (silahkan anda anggap kebahagian ini adalah palsu atau ilusi
Meditasi yang diajarkan juga menjadi sangat berkembang saat ini dan saya sarankan anda mencobanya walaupun anda tidak percaya tentang Buddha ini.
Tidak perlu menjadi umat Buddha untuk berbahagia, silahkan anda pelajari maknanya dan coba praktekkan (tidak ada ritual dll).
-Kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan, sucikan hati dan pikiran- ini adalah ajaran semua Buddha.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia ^^
Oleh: guanih on November 14, 2009
at 6:21 am
@guanih
hahaha… gak perlu saya coba.. saya dulu juga kejawen yang sering meditasi… hasilnya emang ada.. lebih tenang.. meski itu hanya illusi sesaat untuk menjauhkan diri dari realitas yang kita hadapi.. kalaupun untuk kesehatan ya.. dalam psikologi memang di kenal itu.. seperti yoga kan….
tapi yang aku kritik bukan inti ajaran budha.. melainkan sekarah agama budha saat itu.. yang bagi saya awalnya merupakan suatu pembodohan rakyat.. dan untungnya sidharta hidup di masa itu, jika sidharta hidup di masa sekarang apakah ajaran dia masih dapat diterima???
yakni membodohi rakyat yang mengalami penderitaan itu?? misalkan anak SBY nih?? yang mengajarkan hal itu sama para buruh yang gajinya cuman 900. ribu apakah cukup hanya dengan memberikan ajaran meditasi dan berserah diri???
JELAS TIDAK!!!
Dia pasti akan di demo oleh para buruh bukan?? untungnya sidharta hidup di jaman itu.. jadi tidak ada masalah yang terjadi di masa itu….
Itulah yang aya kritik… thx…
Oleh: addhiet on November 15, 2009
at 3:44 am
@addhiet :
Sayangnya kali ini kritik kamu juga masih salah. Hi Hi Hi. ajaran Buddha sampai saat ini juga masih ada. Dan masih diterima oleh orang2 yang mungkin gajinya cuman 900 ribu seperti kata kamu itu. Begitu juga ajaran lain yang mengajarkan berserah diri.
Satu hal yang fatal dari analisa kamu : Kamu cuma melihat agama dari satu sisi saja yaitu berserah diri. Itu baik2 saja , tetapi harap juga kamu lihat bahwa setengah sisi ajaran agama juga membahas supaya manusia berusaha.
Agama secara umum yang mengajarkan berserah diri, tenang dan sejenisnya juga mengajarkan adanya faktor usaha.
ADA dua hal yang layak dikritik dari agama tetapi sepanjang agama itu diselewengkan seenak udel oleh pemuka2 agamanya :
Yang pertama : Orang yang percaya kehendak bebas atau hasil usaha mengaitkan kemiskinan dengan kurangnya usaha. Termasuk ateis bisa saja berpendapat begini.
Padahal kemiskinan secara sistemik bisa saja terjadi karena kegeblekan sistem. Dalam rangka memotivasi orang perorang bolehlah, tetapi jika endingnya mengkambingkan orang miskin. Ini masalah. Kalo saran berusahalah supaya kamu sejahtera itu oke, tetapi kalo logikanya dibalik, karena kamu tidak kaya berarti kamu males, lha ini masalah logika geblek.
Yang kedua : agama dengan teori takdirnya, berserah, dsb dijadikan bemper kemarahan kaum miskin terhadap kaum kaya, seakan-akan kemiskinan itu takdir. Itu masalah . Tetapi harap diingat bahwa salah satu asas agama itu yah keadilan masyarakat bukan cuma sekedar ngomongin takdir. Agama yang tidak berani ngomong soal keadilan, cuma bisanya nangis-nangis – mendingan tokoh2 agamanya kelaut ajelah. Intinya lihatlah sisi usaha, sisi keadilan maupun sisi berserah diri ini secara komprehensip, mister Adhiet.
SALAM
Oleh: lovepassword on November 16, 2009
at 9:22 pm
@adhiet:
Saya rasa pembahasan tentang apakah ajaran Buddhism itu ilusi atau tidak akan menuju tentang apakah benar ada kehidupan setelah kematian, apakah benar karma itu terjadi, apakah ada kelahiran kembali, dll.
Apakah sempat mencari info tentang kehidupan di kapilavastu menurut sejarah, apakah negara miskin hingga rakyatnya perlu ‘dibohongi’? sehingga bisa mengeluarkan teori ini.
Saya pernah baca bahwa Bhutan yang state religion-nya adalah Buddhism adalah negara yang tingkat kebahagiaannya tinggi walau bukan negara kaya. Berarti kebahagiaan mereka menurut anda ‘palsu’ atau ‘ilusi’. Tapi mungkin juga ternyata mereka lebih berbahagia dari anda yang stress di jakarta
@lovepassword:
Setuju bahwa berserah pada takdir sepenuhnya akan membawa kepada tidak berusaha.
Walaupun saya tidak super religious
. Tapi saya meyakini bahwa keputusan kita menentukan jalan hidup kita didepannya.
Kebajikan atau kejahatan yang kita lakukan akan memberikan hasil dimasa mendatang.
Dan juga perlu usaha untuk mengkondisikan hal-hal yang kita inginkan terjadi.
Tapi bila disuruh membuktikan saat ini saya masih belum bisa
. Tapi saya merasakan hasilnya, dengan berusaha menjadi orang baik dan makin bijak sejauh ini kehidupan saya mengarah kearah yang lebih baik.
@addhiet:Dan bukan ilusi loh :p secara materi dan spiritual saya merasa lebih bahagia
Oleh: guanih on November 17, 2009
at 2:23 pm
@guanih @lovepassword
Siiiiiiiiiiiiiiip!!!!!
Inti dari apa yang diapsung oleh NKRi sebagai keresmian agama 6, tapi spiritualisme lebih daripada itu.
Spiritualisme melihat kejahatan bykan karena ilusi spiritualisme, tapi karena hasrat daging manusia yg tidak tersalurkan, dan kita salahkan Tuhan sebagai penyebab segala kenestapaan kita. Iya kalo ada, la kalo nggak???
KIta cuma jadi penggerutu terhadap tuhan………….
Oleh: ahmed shahi kusuma on Desember 3, 2009
at 2:15 am