Bencana Gempa di Padang baru-baru ini kembali menyorot media masa dan para relawan serta aktifis kemanusiaan baik di Indonesia sendiri maupun di dunia. Ribuan aktifis berduyun-duyun membantu para korban. Mahasiswa-mahasiswa di kampus-kampus-pun tak luput dari aktifitas menggalang dana demi membantu korban bencana gempa di Padang. Sedangkan media massa sibuk meliput kejadian-kejadian tersebut secara detail. Fenomena seperti ini tak akan asing lagi bagi kita sejak kejadian Tzunami di aceh dan Gempa di Yogyakarta beberapa tahun yang lalu, hingga pada akhirnya fenomena ini menjadi rutinitas bagi relawan dan aktifis kemanusiaan serta awak media massa. Namun, ada satu gejala yang menarik disini. Yakni sebuah fenomena di balik peristiwa atau kejadian yang sering menimpa rakyat Indonesia. Fenomena itu terpatri dalam sastra Albert Camus dalam La Chute. Ya… dalam sastranya tersebut Camus mengatakan bahwa “Manusia memang membutuhkan sebuah tragedi dalam kehidupan mereka”. Setidaknya seperti itulah apa yang diucapkan oleh Albert Camus dalam menyikapi setiap peristiwa yang di hadapai dan di lihat oleh manusia.
Bagaimana tidak. Seperti yang telah kita ketahui. Kapanpun setiap peristiwa yang terjadi di Negri ini. Media masa menyajikan berita-berita tersebut dengan di iringi alunan musik melodi yang mengharuskan kita menitikkan air mata dan menyayat jiwa serta berujar ”Ya Allah…” sembari memegang dada dan meneteskan air mata. Bahkan seorang teman saya yang ateispun sempat berujar bahwa ia pun terenyuh oleh pemberitaan tersebut, meski dalam hati saya keterenyuhannya bukan semata-mata murni karena berita tersebut melainkan karena adanya iringan musik sendu yang membawa ketidaksadaran dia akan peristiwa masa lalunya yang kemudian terpatri menjadi satu dengan peristiwa di telivisi tersebut.
Sebuah seremonial yang mengguncangkan hati dan pikiran manusia. Sebuah kisah sedih bah senetron non-fiksi yang di hadirkan oleh setiap telivisi baik pemerintah maupun swasta. Sebuah berita yang menjadi berita yang paling ditunggu-tunggu dan di nantikan oleh kita, seolah kita sedang menantikan kematian orang lain, menantikan bencana yang menerpa orang lain. Bahkan sebuah berita yang akan kita rindukan dan selalu kita rindukan, dan oleh karenanyalah pula alam kembali menyajikannya kembali untuk kita, agar kita dapat kembali menikmatinya.
Di pihak lain para aktifis kemanusiaan di kampus-kampus, menggelar malam tangisan mengenang kejadian yang menimpa saudara mereka (”katanya”). Sebuah malam, dimana dalam setiap kampus-kampus mahasiswa menggelarnya dengan dada membusung, seolah memperlihatkan jati diri yang peduli. Dalam hati mereka pasti akan berujar ”Ah, meski aku tidak dapat menjadi ”Hero”, setidaknya aku masih bisa menjadi ”Sang Peduli”. Dan ketika acara seremoni itu di mulai, mulailah ia sibuk dengan diri dia sendiri. Ya… Ia sibuk dengan usahanya meneteskan air mata. Yang bagi diri dia itu adalah salah satu syarat mutlak agar ia lulus menjadi ”Sang Peduli”, sebab jika tidak maka ia akan merasa malu di hadapan teman-temannya. Lebih-lebih kepada adik-adik angkatannya. Sedangkan bagi mereka yang berhasil meninikkan air mata mereka bernafas lega karena keberhasilan diri mereka dalam melakukan ritual tangisan kematian.
Kemudian para relawan, sedang sibuk dalam membongkar-bongkar tiap-tiap kepingan-kepingan reruntuhan bangunan dan tanah sedang mencari korban-korban yang meninggal. Seperti kawanan anjing kelaparan yang sedang sibuk mencari tulang di antara tumpukan sampah. Seperti itulah para relawan itu, semakin tinggi insting membunuh mereka, semakin giat pula mereka mencari korban yang tertimpa reruntuhan bagunan tersebut. Lalu.. selesai mereka menemukan mayat-mayat, merekapun bersenda gurau, dan melakukan sesi pemotretan, sebagai ”kenang-kenangan” ujar mereka. Mengenang kematian para korban atau kenangan akan tingginya insting membunuh mereka ketika mereka sedang mencari mayat-mayat itu.
Lalu bagi mereka penyumbang dana kemanusiaan, mereka merasa senang sebab Tuhan telah membuka jalan kembali bagi mereka untuk menuju syurga. Merekapun segera mencuci uang mereka dengan darah para korban bencana itu, sebagai salah satu cara wajib yang diajarkan oleh Tuhan mereka dalam Kitab-Kitab bangkai-Nya.
Sedangkan para musisi dan artis sibuk dalam menggelar sebuah perayaan kematian dan tragedi bencana alam dalam sebuah acara bertajuk pagelaran amal, yang tak lain adalah sebuah perayaan atas tragedi tersebut. Mereka berlomba-lomba memakai kostum kematian yang selalu mereka pakai di setiap acara bertajuk pagelaran amal tersebut. Sebuah perayaan kostum kematian yang selalu mereka ikuti dan tidak pernah mereka lewatkan sekalipun. Dalam pagelaran kostum kematian itu, para musisi, mulai menunjukkan keaahlian mereka dalam mengalunkan musik kematian. Musik penggiring pagelaran kostum kematian yang sangat di gemari oleh mereka yang mengikutinya.
Dalam acara-acara gosip juga tak luput dari dentuman berita kematian dan bencana, sebuah acara yang memberitakan dengan menambahkan bingkaian kata-kata dalam bentuk sajak-sajak kematian manusia. Sebuah tatapan yang melihat kematian sebagai salah satu dari penunjang dalam karirnya. Sebuah acara kematian yang banyak di minati oleh para artis-artis dan musisi sebelum mereka merayakan pagelaran kostum kematian tersebut.
Sedangkan para pemuka agama dan pengikutnyapun tak luput dari seremonial ini. Mereka berlomba-lomba berdoa kepada Tuhan mereka. Seolah memperlihatkan bahwa kejadian bencana dan kematian manusia sebagai kontes dalam lomba berdoa bertajuk gempa di Padang. Dan Tuhan-pun menjadi juri dari siapa diantara para kontestan yang akan memenangkan lomba tersebut. Tak urung para pemuka agamapun di malam sebelum kontes tersebut dimulai, mereka sibut dengan tulisan-tulisan serta doa-doa yang akan mereka lombakan untuk esok harinya. Sedangkan istri-istri mereka pun sibuk dengan busana kontes yang akan dia kenakan dan suami mereka kenakan. Tak luput para pengikut merekapun sibuk berlatih untuk menagis, agar dalam perlombaan tersebut guru, ustzat, atau pendeta mereka akan mendapatkan nilai plus ”+” dalam perlombaan itu.
Ya… seperti itulah seperti yang dikatakan oleh Albert Camus. Bahwa kta memang membutuhkan sebuah tragedi. Manusia senyatanya memang membutuhkan sebuah tragedi. Bangsa ini memang membutuhkan sebuah tragedi. Tragedi bencana dan kematian. Yang akan selalu kita nikmati. Seperti serigala yang menikmati daging dan darah domba, seraya mengaung-ngaung di tengah malam, seolah berucap penyesalan akan pembunuhan yang ia lakukan, padahal ia menikmatinya.
So menurut dikau, apa yang semestinya dilakukan setelah gempa. Masak semua hal kamu protes sih ?
Oleh: lovepassword on Oktober 11, 2009
at 8:43 am
Mungkin benar jika manusia butuh tragedi, namun apakah menumbuhkan empati dalam tragedi juga sebuah “kesalahan”?
Cepat mengangkat mayat yang tertimpa bangunan roboh sebelum terjangkitnya penyakit juga disarankan ilmu medis, jadi menurut gw pribadi tidak ada salahnya membantu.
Oleh: iwan on November 2, 2009
at 9:34 am
Ya.. tidak ada salahnya memang… manusia memang membutuhkan tragedi kan??? itu intinya.. untuk kelanjutannya kamu baca fenomena di balik gempa (2)..!! thx.
Oleh: addhiet on November 2, 2009
at 12:28 pm